Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Seandainya Kentut Rakyat Jadi Gas Elpiji

Filed under: Education — haffata at 4:39 am on Friday, May 1, 2015

gas-elpiji1
Liqified Pertoleum Gas tentu asing ditelinga masyarakat awam, namun jika yang disebut LPG, tentu siapa saja yang mendengar akan langsung berkeluh kesah akan harganya yang melambung baru-baru ini.
Wajah Koh Ling masih dihiasi senyum menanggapi beberapa pembeli gas LPG 3 kg mengomel panjang setelah diberikan harga 16.500 olehnya. Warga Surabaya yang sejak 2010 lalu telah menarik ulur nasib dari bisnis Gas elpiji ini tentu sudah sangat paham tentang naik turunnya harga gas layaknya sifat remaja yang sangat labil.
“Jika dipikir dengan subsidi pemerintah saja harganya masih tinggi, lalu bagaimana jika ide gila subsidi tetap tersebut digagalkan. Iya, jika elpiji bias dihasilkan dari kentut rakyat, bukan jadi masalah mau naik berapa saja.” Ungkapnya ketika dimintai pendapat mengenai lonjakan harga elpiji baru-baru ini.
Belajar dari sejarah, kira perlu mengamati perjalanan gas elpiji yang menuai banyak kontroversi. Gas elpiji yang hadir dengan pelbagai ukuran tersebut memang menggelitik dengan dinamikanya yang sangat panjang. Terutama ulah tabung kecil berwarna hijau dan sering disebut dengan gas melon yang telah menimbulkan kesan nano-nano bagi masyarakat. Hentakan kasus meledaknya gas elpiji 3 kg yang pada beberapa tahun lalu sempat merebak juga ikut menjadi catatan kelam yang menimbulkan traumatis dari sisi psikologis masyarakat untuk percaya pemerintah terhadap tabung hijau kecil tadi.
Seperti yang terjadi pada Juni 2014 lalu di Pondok Aren Tanggerang selatan, kasus meledaknya tabung subsidi pemerintah ini sampai menimbulkan luka serius pada enam orang dan dua diantaranya sempai memental keluar rumah terkena imbas ledakan. Masih dalam berita yang dilansir oleh Jawa Pos ini, kanitreskrim polsek setempat mendapatkan informasi bahwa korban melakukan kesalahan terhadap tabung gas tersebut dengan mengoplosnya.
Berita yang sempat booming tersebut bukan satu-satunya berita popular ditelinga masyarakat beberapa tahun lalu. Menimbang seberapa salahnya masyarakat dalam menggunakannya, tabung gas ini tetap menorehkan bahaya bagi masyarakat. Bahkan sampai sekarang pun kasus meledaknya tabung berisi campuran beberapa gas hidrokarbon ini masih menjadi bayangan buruk masyarakat.
Bagi warga yang terbilang konvensional dipelosok perkampungan sana, gas elpiji ini mungkin tidak begitu dilirik, apalagi setelah terjadinya beberapa kasus ledakan yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin bagi mereka, lebih baik tetap menggunakan kayu bakar yang dicari dihutan daripada kayu rumah sendiri yang terlalap habis. Percaya atau tidak, sosialisasi dan bujukan pemerintah sendiri memang belum berhasil menjamah perkampungan yang minim informasi, namun bagi masyarakat luas yang hidup di daerah pinggiran atau perkampungan lumayan maju, gas ini terbilang laris manis.
Belum juga selesai menenangkan diri dari guncangan psikis yang diterima, masyarakat sudah langsung dipaksa menelan pil pahit gelombang harga elpiji 3 kg yang naik turun dengan labil. Layaknya sifat remaja yang naik turun sesuka hati, rakyat terbilang tak berdaya mengikuti arus lonjakan naik turun ini. Bahkan sempat terbit berita yang menginformasikan bahwa salah seorang warga Polewali Mandar, Sumatra Utara menjual tabung gas kosongnya untuk membeli minyak tanah pada 2012 lalu. Berita ini tentu saja membuktikan bahwa harga tabung gas ini memang naik turun, bahkan naik turunnya tabung ini sampai hati membuat konsumennya berpindah menjadi konsumen minyak tanah yang jelas-jelas lebih langka keberadaannya.
Dan sudah menjadi kebiasaan umum jika mendekati bulan puasa, keberadaan tabung kecil ini akan sangat langka, bahkan para agen pun sampai kesulitan mendapatkan barang pasokan elpiji ini. Namun untuk sekarang, puasa masih diperkirakan sekitar dua bulan mendatang, namun gas yang menjadi brand dari pertamina ini sudah sangat langka dan ikut menambah keresahan warga setelah dipukul oleh lonjakan harganya.
Bahkan saking putus asanya mendengar setiap berita kenaikan harga gas elpiji ini, sampai terbesit parody dari rakyat awam yang berbunyi jika gas elpiji dari kentut kami. Parodi yang keluar atas jeritan hati rakyat ditengah panggung politik yang memanas karena kasus-kasus pejabat yang beradu korupsi ini tentu menjadi pikiran pusing, apalagi bagi para konsumen yang menggantungkan hidupnya pada tabung-tabung gas ini.
Bukan hanya rakyat yang dipusingkan tentu saja, pemerinah pun ikut memegang kepala sambil geleng-geleng mau memakai langkah apa. Cukup diapresiasi tentunya langkah pengawasan terhadap agen-agen elpiji agar patuh menjual eceran dengan harga yang telah disepakati, karena langkah ini dinilai cukup baik mengamankan tabung-tabung harapan rakyat ini dari mafia gas elpiji yang menimbun atau melambungkan harganya sangat tinggi. Namun akan menjadi upaya yang lebih baik lagi jika pihak pemerintah terus mencari jalan keluar yang lebih menguntungkan bagi rakyat, setidaknya untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak mencekik leher para pekerja lepas. Tentu hal lucu jika pemerintah yang telah menggembor-gemborkan ide brilliantnya ini malah perlahan-lahan mencekik rakyat dengan idenya tersebut.
Namun jika pemerintah dan rakyat sudah sama-sama ngeyel dengan kesibukannya sendiri-sendiri seperti berunjuk rasa anarki atau berlomba korupsi, maka hanya tinggal berharap kepada tuhan agar kentut kita menjadi gas elpiji.

Industri Manufaktur yang Membuana, Positif Sikapi MEA ?

Filed under: Education — haffata at 3:43 pm on Tuesday, January 20, 2015  Tagged

Siapa orangnya di Indonesia ini yang tidak pernah mendengar kiprah kerajaan besar bernama Sriwijaya, kerajaan yang berdiri kokoh di landasan Riau dan daerah Palembang ini merupakan sebuah gambaran nyata mengenai kehidupan sektor ekonomi dan arus globalisasi saat ini. Jangan terburu-buru menilai kecanggihan MEA yang saat ini gencar disoal oleh mayoritas mayarakat merupakan hal baru, jauh sebelum merdeka dan mengenal masa kolonialisme Belanda, perdagangan bebas mancanegara telah dijalankan dengan baik oleh orang-orang terdahulu.

Berabad tahun silam perdagangan bebas di nusantara telah mencakup Asia Tenggara, konsteks ini sama dengan nama ASEAN yang kemudian muncul untuk menyebut area cakupan Asia Tenggara. Dengan kekuatan maritimnya, selat Malaka yang menjadi pusat dan titik tumpu perdagangan rempah zaman dahulu menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya ini. Tentu bisa dibayangkan, seluruh sektor perdagangan yang mayoritas sasaran utamanya rempah dikendalikan oleh kerajaan yang masuk dalam wilayah nusantara, dan daerahnya kini menjadi salah satu wilayah NKRI.

Walaupun itu sudah belangsung bertahun silam dan kerajaan Sriwijaya telah luluh lantak, nama NKRI yang kesohor dengan kakuasaan maritimnya masih digenggam dengan kuat sampai saat ini. Tentu menjadi kebanggan besar bagi Indonesia jika brand yang dicari masih seputar rempah dan wilayah kekuasaan. Namun globalisasi merencanakan lain sehingga maindset untuk saat ini melibatkan kerja profesional dan sistem korporasi yang baik. Karena dengan membuka mata selebar-lebarnya, kenampakan alam saat ini berisikan gedung-gedung pencakar langit yang didominasi oleh perusahaan, bukan hamparan laut dn pemandangan pelabuhan saja yang menjadi titik utama.

Kembali pada soal MEA, Jika ingin sekedar memotivasi diri, tentunya Indonesia mempunyai potensi lebih mengingat saat ini kemaritiman masih dijaga dengan baik. Namun sumber daya yang menjaganyalah yang selama ini dikisruhkan banyak orang dan menimbulkan kecemasan yang mendalam. Dan hasilnya yang sejauh ini ribut diperbincangkan adalah mengenai siap atau tidaknya Indonesia, bukan bagaimana langkah yang harus direncanakan sebagai gerak strategis hadapi MEA akhir 2015 nanti, padahal keputusan perdagangan bebas ini sudah menjadi kebijakan dan kesepakatan bersama sejak 2003 lalu.

Kekhawatiran masyarakat tentu sangat beralasan mengingat SDM bangsa Indonesia masih dalam tahapan menuju kompeten. Beberapa sektor publik memang terlihat antusias menyambut MEA ini, namun secara general bangsa Indonesia masih memerlukan lobying yang matang walaupun menteri ketenagakerjaan sudah memperketat arus pencari kerja dari luar. Jika ditebak kira-kira yang terlintas adalah apakah mampu pekerja Indonesia ikut bersaing.

Mayarakat Ekonomi ASEAN ini tentu digawangi oleh perusahaan-perusahaan berkelas yang otomatis mempunyai otoritas lebih untuk memainkannya. Dan dalam konteks ini, perusahaan dapat mamainkan peran ganda mengingat ia adalah pemain dan penentu bagaimana perekonomian ini berdampak bagi masyarakat Indonesia khususnya. Setiap perusahaan tentu tergiur mencemplungkan dirinya kedalam MEA ini demi melanjutkan sistem korporasi yang baik dimata internasional, namun otoritas dan standar CSR yang digadang-gadangkan pemerintah Indonesia tentu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Jadi, bagaimana peran sebuah perusahaan dalam menjalankan profit menggiurkan ini disamping tetap aktif menjalankan CSRnya bagi masyarakat.
Harapan besar muncul mengingat ada sebuah perusahaan besar Semen Indonesia yang berdiri di Indonesia dan tetap bersemangat melanjutkan kontribusinya untuk negeri. Apalagi mendengar bagaimana Fortune dan Forbes, dua majalah kelas dunia telah menyerukan Semen Indonesia Group ini sebagai industri yang kredibel dan mampu bersaing dikancah dunia hingga menempatkannya pada urutan pertama dijajaran perusahaan se-Indonesia. Poin tambah juga didapat setelah sharing metode dan kinerja baru perusahaan ini dalam Wisata Green Industry Desember lalu. Indusri ini benar-benar ‘green’ sehingga laik disebut Green Industry, hal ini cukup membuktikan bahwa Triplle Bottom Line guna konsep CSR masih dipegang kuat oleh industri manufaktur raksasa ini.
IMG_7351
Semen merupakan tiang penyangga sebuah pembangunan secara nyata, jika tidak ada semen, pembangunan yang semestinya tidak akan dijalankan dengan baik. Maka dari itu pengelolaan semen menjadi sangat urgent bagi Indonesia yang masih berusaha mencapai kesetaraan maju ini. Apalagi impor semen terus diperketat dan diperkecil persentasenya, walaupun industri kita masih kekurangan produk ini. Tentu ini akan menjadi kabar baik terlebih bagi Semen Indonesia dalam memperbaiki kinerjanya, dan akan sangat pantas jika gerakan yang memposisikan semen Indonesia Group sebagai industri vital negara Indonesia tetap diingat dengan baik sehingga menjadi motivasi untuk terus melebarkan kegiatan CSR-nya.
IMG_7353
IMG_7363
Kita sudah punya sebuah tameng yang akan melindungi mayarakat Indonesia sendiri dari kekhawatiran publik mengenai MEA. Semen Indonesia ini tentu kredibel dalam menjalankan komitmennya untuk bersama-sama membangun negeri. Dan satu lagi yang perlu diingat adalah bahwa keruntuhan kerajaan Sriwijaya pada zaman dahulu adalah dari sektor ekonomi yang mengalami guncangan karena tidak adanya kelompok manusia yang mencoba melindunginya. Sehingga ketika SDA yang dieksplorasi memang mendatangkan banyak keuntungan, mereka akan terus mengeksplornya tanpa memikirkan kondisi alam bangsa. Bangsa Indonesia kini sudah cerdas dan mempunyai banyak SDM yang kredibel melindungi negeri, lalu apa lagi yang ditakutkan soal MEA ? hanya perencanaan baik dengan niat bersama-sama menjaga kearifan lokal bangsa untuk membangun negeri.

Semangat membangun negeri bersama Semen Indonesia.

IMG_7215

Note Sumber:
http://nasional.sindonews.com/read/915999/18/mea-2015-digadang-dalam-kecemasan-1414407983
http://www.zonasiswa.com/2014/05/sejarah-kerajaan-sriwijaya.html
http://infosemenindonesia.blogspot.com/2014/07/th-2013-konsumsi-semen-diatas-produksi.html?view=magazine
http://finance.detik.com/read/2013/12/04/192216/2432773/1036/2/impor-semen-diperketat-hingga-2017
http://www.semenindonesia.com/page/read/kuasaipangsa-pasarsemen-gresik-memimpin-di-jawa-tengah-2607
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesia-masuk-kategori-industri-vital-nasional-2620
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesi-berbagi-kisah-sukses-investas-di-vietnam-2595
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesia-terbaik-versi-forbes-dan-fortune-2572

Kontribusi untuk Negeri

Filed under: Education — haffata at 5:56 am on Tuesday, January 20, 2015  Tagged

Semboyan ‘Do It Green’ yang diusung oleh Semen Indonesia Group dinilai cukup menantang bagi siapa saja yang sekilas mendengar, apalagi mengingat subjek yang mengungkapkan adalah perusahaan besar yang sangat kredibel dan bergerak di sektor pengelolaan semen. Namun jangan salah, sekian banyak jumlah peserta Wisata Green Industry yang pada Desember 2014 lalu berkesempatan mengunjungi pabrik Semen ini dibuat terkesima dengan keadaan pabrik yang disuguhkan oleh Semen Indonesia Group.

Dengan dipenuhi Pepohonan rindang yang bagi saya pribadi sangat menarik karena gradasi warnanya, ditambah dengan berbagai bangunan bergaya seni tinggi, dipadukan dengan munculnya beberapa penampungan air yang diidentifikasikan sebagai tandon membuat pabrik ini menjadi multifungsi, terlebih ketika kami yang baru datang diajak menjajakinya, lebih tepat dikatakan sebagai objek jepretan atau ajang Narsis.
href=”http://haffata.malhikdua.com/files/2015/01/IMG_7316.jpg”>IMG_7316
Bagan 1. Komunitas Sandal Selen ‘kepincut’ gradasi warna pabrik Semen Indonesia Group

Dengan tatapan mata yang masih terkesima oleh suasana apik yang dimunculkan pabrik raksasa berkelas manufaktur mancanegara ini, saya kembali mengingat perjalanan sebelumnya yang mengantarkan seluruh peserta Wisata Green Industry 2014 untuk menilik rumah usaha kreatif yang ternyata digawangi oleh Semen Indonesia Group. Satu-satunya yang membuat saya tertarik adalah kunjungan di rumah usaha yang bertempat di kawasan Jl. Sunan Kalijaga, Lamongan.

Rasa cukup bosan karena perjalanan panjang dari terminal Bungurasih Surabaya yang kurang lebih memakan waktu selama tiga setengah jam perjalanan, membuat animo peserta WGI 2014 sangat antusias untuk menilik rumah produksi bernama R & D Handycraft ini. Dengan sigap mereka menyerbu masuk rumah sederhana yang penuh sesak oleh para peserta. Beberapa peserta terlihat ada yang betah berlama-lama memperhatikan seorang lelaki paruh baya yang tengah menjahit tas semacam polo dengan tampilan yang sangat menarik dan layaknya barang produksi profesional. Bahkan ada yang sempat tertarik untuk membeli dan melihat hasil jadi tas ransel yang biasanya diekspor ke Arab atau luar negeri lainnya.

“Tasnya keren, kaya yang ada di toko-toko itu.” Terdengar dua orang perempuan muda berbisik sembari memperhatikan kelincahan pembuat tas tadi.

Lebih dalam menuju bagian tengah dan ujung rumah produksi, banyak peserta WGI 2014 bergerombol memperhatikan pembuatan sandal yang dihiasi motif cantik dari jahitan pekerja lokal. Produksi kreatif yang menghasilkan sepatu atau sandal cantik ini benar-benar diproduksi dari bahan baku yang diolah sendiri hingga menjadi produk jadi yang punya nilai jual tinggi. Menurut penuturan sang pembuat, barang kreatif brand dari UKM yang menjadi binaan Semen Indonesia Group ini pun sudah tembus pasar luar negeri.

Diakhir durasi yang disediakan pihak panitia, seluruh peserta dikumpulkan di bagian depan di samping show room handycraft ini, disana sang pemilik UKM yang memperkenalkan dirinya dengan panggilan Dody ini menceritakan pengalaman awal bagaimana bisa merinis usaha dengan bantuan modal dari Semen Indonesia Group ini.

“Awalnya saya bingung mau usaha apa, apalagi mengingat tidak ada modal, tapi saya berterima kasih kepada semen Indonesia Group yang telah memberi pinjaman modal hingga membuat usaha ini berkembang sukses, alhamdulilah sudah banyak penghargaan yang kami dapatkan.” Urai pria yang terlihat bersahaja ini.
IMG_7232
IMG_7231
Bagan 2. Mas Rono, Pak Dody, dan pengunjung yang tengah fokus mendengarkan penjelasan seputar rumah usaha.

Uraian bermanfaat seputar rumah Handycraft ini sedikit banyak membuat para peserta WGI 2014 antusias bertanya dan termotivasi untuk mengikuti jejak lelaki paruh baya ini. Setelah sharing pengalaman, mayoritas peserta berbaur memasuki show room yang terbilang cukup mungil namun berisi barang-barang cantik produksi lokal.
IMG_7238
IMG_7248
IMG_7254
Bagan 3. Hasil kerajinan R & D Handycraft

Sepanjang perjalanan menuju pabrik semen di Tuban, saya berpikir banyak mengenai korelasi antara pabrik semen ini dengan masyarakat sekitar. Ternyata bukan hanya mendirikan dan melangsungkan sebuah produksi semen saja yang perusahaan ini lakukan, ada banyak bentuk pengabdian masyarakat yang terkonsep dengan baik. Kesimpulan kecil yang dapat saya berikan adalah sebuah program perusahaan yang sangat matang dan patut dijadikan contoh oleh perusahaan lain.

Presepsi saya kembali dilipatgandakan melihat antusiasme peserta WGI 2014 menilik pabrik semen yang benar-benar hijau ini, sangat pantas disebut dengan Green Industry<a. Pada bagiannya, sebuah kehidupan yang lebih baik akan dapat dirasakan warga sekitar yang selalu dipikirkan oleh perusahaan. Karena menurut penuturan pemakalah, bahwa dari sekian persen jumlah pekerja di pabrik semen, pekerja dari daerah atau lokal yang akan lebih diprioritaskan. Hal ini tentu menjadi kabar baik dan sebuah pemutus mata rantai kemiskinan dari pada membiarkan warga sekitar menggali kapur secara manual dan akan menimbulkan kerusakan alam.
IMG_7299
IMG_7302
Bagan 4. Kami (Sandal Selen Comunity) besama para pekerja dari warga sekitar

Sejauh yang dapat saya petik dari informasi website resmi yang dikelola kru Semen Indonesia Group, program pengabdian masyarakat dan lingkungan atau yang dalam konteks ini disebut dengan PKBL (Program Kemitraan dan Bina Lingkungan), menjadi harapan besar yang benar-benar tumbuh menjadi visi sebuah korporasi yang baik.

Bukan hanya seolah merak yang memperindah bulunya sendiri, Semen Indonesia Group ikut memperhatikan kondisi dan keadaan lingkungan sekitar baik itu dari segi planet (lingkungan) ataupun untuk people (masyarakat sekitar pabrik). Langkah ini tentunya sudah sesuai kerena telah mempertimbangkan tripple bottom line yang berisikan faktor-faktor sosial dan lingkungan hidup, cara ini tentu sudah sesuai dengan pencapaian peusahaan untuk mencapai corporate governance.

Pada dasarnya, sebuah perusahaan ikut berkiprah dalam memajukan perekonomian suatu bangsa karena perusahaan-perusahaan raksasa itulah yang menjadi titik tumpu perekonomian disana. Dalam menjalankan standar profesional masing-masing perusahaan, profit atau keuntungan yang kembalinya pada perusahaan itu sendiri memang lazim didapatkan, namun besar kiranya setiap perusahaan mempunyai amal bakti yang disumbangkan untuk kepentingan rakyat bersama. Itulah yang dijadikan standar bagus sebuah perusahaan dalam mencapai coporate governance atau yang laiknya disebut corporate social responsibility.

Menurut hemat saya, jika sebuah simbiosis dapat terlaksana dengan baik mengapa harus ada langkah-langkah yang membuat salah satunya menentang kebijakan satu sama lain. Menilik sebuah simbiosis mutualisme yang terjadi antara perusahaan Semen Indonesia Group, masyarakat, dan dengan lingkungan sekitar, bukan menjadi hal sulit jika keberlanjutan kebijakan masing-masing institusi atau kelompok untuk dijalankan. Pertimbangannya sederhana, membiarkan managemen pabrik berjalan sesuai standar perusahaan dan masyarakat mendapatkan income dalam bentuk kegiatan bantuan untuk mendukung pengembangan usaha, atau pembatasan oprasional sebuah perusahaan dan pabrik yang kiranya malah dapat membahayakan alam dan masyarakat sekitar dengan pendapatan masyarakatnya sendiri yang masih labil. Karena percaya atau tidak, dana yang dikucurkan pemerintah untuk pembangunan lingkungan tentu belum cukup mampu menutup kebutuhan yang ada.

Semua memang harus ada yang dikorbankan, tinggal pilihan cerdasnya adalah terbuka untuk menerima arus teknologi dengan niat menjaga kelestarian alam dan memajukan mindset masyarakat. Untuk kembali bersama-sama berkontribusi untuk negeri, ada banyak cara yang harus dipikirkan.

Semangat membangun negei bersama Semen Indonesia Group.

Ini Tentang Bulan

Filed under: Uncategorized — haffata at 1:21 pm on Thursday, December 11, 2014

<img src="http://haffata.malhikdua.com/files/2014/12/dulu-kini-bulan-1-3.jpg" alt="dulu kini bulan 1 (3)" width="400" height="320" class="alignnone size-full wp-image-100" /

Kau bilang bulan adalah berisi 12 nama yang konkret
Namun kubilang bulan adalah lekukan sederhana yang menggantung dilangit
Kita terus membicarakan hal ini
Sampai bulanku membentuk lingkaran sempurna dengan semburat sinarnya
Dan bulanmu telah menjajaki masa terakhirnya
Kita masih berputar pada tema yang sama
Tantang bulanmu dan bulanku
Yang nyatanya berbeda tapi tak menemukan titik salah dari keduanya
Bulanku mengingatkan bahwa bulanmu adalah benar
Dan kau diingatkan bulanmu bahwa bulanku juga nyata berada dengan sinarnya
Kita mulai diam dan saling memandang dihamparan padang ilalang
Kuajak kau mendongakan kepala
Kutunjukan padamu bahwa bulatan pejal itu adalah yang kumaksud dengan bulanku
Itu dilangit sana
Kau tersenyum mempercayai bulanku
Lalu kau katakan bahwa bulanku sedang memasuki masa purnama
Waktu dimana ia sempurna berbentuk rekahan sinar yang bulat
Dan kau masih tersenyum dengan mengatakan bahwu bulanku masuk dalam bulanmu
Aku tertegun bahwa bulanmu benar-benar kurasakan
Kita terdiam lagi
Bulan yang kita maksud berlainan namun sama
Lalu kita menyalahkan mengapa itu memiliki satu fonem
Ini benar-benar rumit
Lalu kita sepakat, ini tentang waktu
Karena bulanku dan bulanmu sama menjajaki waktu untuk berproses
Ya, tentang bulan yang berwaktu

Genangan di Bulan Desember

Filed under: Uncategorized — haffata at 1:06 pm on Thursday, December 11, 2014

hujan_ilustrasi_101004135340
Aku khawatir itu akan terlalu dalam dan menenggelamkan
Itu tentang alibiku yang berproses menjadi hal paranoid
Aku tau itu hanya genangan yang menenggelamkan betisku
Lalu aku mulai berbaur dan merasakan alirannya menembus darahku
Menyegarkannya dan membuatnya mengalir lebih deras
Memompa jantungku untuk merasakan euforia masa kecil yang hilang
Aku merasakan sentuhannya
Beserta hembusan nafasku yang beraroma dingin
Aku tidak takut
Itu hanya genangan
Dan dibulan desember ini aku menemukan genangan yang dulu melingkupiku
Saat kepala kecilku menatap langit tanpa ember yang terus menumpahkan air
Lalu aku bertanya-tanya dengan tubuh yang menggigil
Dari mana air sebanyak itu dapat tumpah dari langit yang datar
Dan akan kegirangan ketika lengkungan pelangi ikut menghiasi
Aku tersenyum mengingat masa itu
Dimana aku tak pernah kecewa atas kegagalan atau menyesal atas pengalaman
Menikmati setiap detik air itu menerpa tubuhku
Tepat detik ini aku merasakannya kembali
Jiwaku kini disegarkan oleh aromanya
Aroma yang membuatku hidup kembali
Ya, ini tentang genangan di bulan desember

Privatisasi Tenaga listrik, Pembodohan Terstruktur atau Jalan Keluar Teratur ?

Filed under: Uncategorized — haffata at 12:08 pm on Thursday, December 11, 2014

Orde baru bukan hanya menyisakan segurat cerita kelabu bagi bangsa Indonesia yang baru merdeka, segala kebobrokan birokrasi dan penindasan hak asasi manusia pun menjadi hal biasa di zaman penuh aksi demonstrasi ini. Selain itu, hutang luar negeri yang sangat besar menimbulkan dampak yang nyata bagi Indonesia, dimana hal ini yang mempengaruhi kondisi perekonomian bangsa sampai sekarang.

Segala cara dilakukan demi menutup hutang luar negeri, dari mulai ditekannya subsidi dibeberapa sektor sampai dijualnya saham beberapa badan milik negara. Bahkan yang mencengangkan, privatisasi badan-badan milik negara tersebut bukan hanya melanda sebagian kecil saja, proses pengalihan kekuasaan negara ini ternyata telah menjangkit sebagian besar badan milik negara.

PT. PLN (Persero) yang telah sekian lama menunjukan kiprahnya bagi bangsa dalam bidang ketenagalistrikan pun tidak luput dari proses privatisasi ini. Privatisasi adalah upaya pengalihan hak kepemilikan dari kekuasaan publik ( negara ) menjadi pemilikan pribadi/perusahaan swasta. Fenomena dijualnya saham PLN mau tidak mau ikut mempengaruhi banyak kebijakan dalam masalah ketenagalistrikan di Indonesia. Selain itu, dengan masuknya beberapa modal dari pihak pribadi atau perusahaan swasta akan membuat biaya produksi kelistrikan semakin melambung.

Proses privatisasi PLN sendiri memiliki beberapa tahapan, tahap pertama adalah proses restrukturisasi. LOI atau badan keuangan dunia yang mengurusi hutang luar negeri Indonesia pun telah mencatat komitmen pemerintah Indonesia. Setelah ditandatanganinya perjanjian, dibentuklah blue print yang berisi rencana besar privatisasi PLN. Untuk selanjutnya, rancangan ini dikenal dengan istilah the white paper, dimana rencana ini akan menjadi dasar penyusunan restrukturisasi korporat yang nantinya akan membentuk sistem-sistem untuk realisasi privatisasi PLN sendiri.

Selanjutnya adalah tahap pengkondisian dimana akan melalui restrukturasi korporat juga, namun restrukturasi disini biasanya akan dibarengi oleh internal unbundling dimana akan dibentuk anak-anak perusahaan distribusi dibeberapa daerah khususnya Jawa-Bali. Jika sudah melewati tahap ini, maka provitisasi akan dilakukan, pada tahap ini pemerintah akan turut andil memberikan dana guna privatisasi PLN dapat diterima oleh masyarakat luas.

Ketika tahap yang sudah dicapai mendekati tahapan privatisasi sendiri, biasanya pihak PLN akan tampak kepermukaan guna menarik hati masyarakat luas. Utamanya, niatan privatisasi ini akan berjalan tanpa cecaran dan kendala yang berarti dari publik khususnya warga akademisi. Jika sudah seperti itu, proses privatisasi akan sangat mudah dijalankan, istilahnya adalah tinggal menekan tombol power maka semuanya akan lebur berjalan.

Dampak yang ditimbulkan tentulah ada dan sangat menantang. Beberapa pihak yang tidak setuju berpendapat bahwa ini adalah kapitalisasi bangsa Indonesia atas nama tanggung jawab hutang luar negeri. Dilain sisi, pihak pro menginginkan privatisasi benar-benar nyata guna mendukung generalisasi dan pembangunan infrastuktur pembangunan di Indonesia, mengingat listrik belum menyentuh daerah pedalaman di luar Jawa.
privati_zation
Namun dilaksanakan atau tidak, privatisasi memang sangat memberatkan terutama dalam masalah biaya yang harus dikeluarkan perorangan, selain itu negara akan kehilangan kendali dalam bidang ketenagalistrikan. Akhirnya, inilah ulasan mengenai privatisasi tenaga listrik yang menimbulkan pro dan juga kontra. Ada baiknya jalan tengah yang bijak harus benar-benar diputuskan agar tidak menyulut opini, apakah ini suatu pembodohan yang terstuktur atau jalan keluar yang teratur.

Sejarah kampung Sogaten (Kebulen)

Filed under: Uncategorized — haffata at 2:34 pm on Sunday, November 30, 2014

72_big
Tujuh belas tahun lampau mata saya mulai menatap keadaan dunia ini lewat panorama yang ada di tempat dimana saya dilahirkan dulu. Saya lahir dan mengenal hiruk pikuk masyarakat kampung di daerah pesisir pulau Jawa atau yang familiar disebut dengan pantura. Tepat di kota Pekalongan, saya mengenal sebuah kampung yang asri dan strategis baik dari pusat kota maupun dari kabupaten yang berisi sentra wisata alam.

Kampung kelahiran saya dikenal dengan nama desa Kebulen, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sogaten. Dari empat kecamatan yang ada di kota Pekalongan, kebulen atau sogaten ini berada di ujung selatan Pekalongan Barat. Kecamatan pekalongan Barat sendiri mempunyai 13 jumlah kelurahan atau desa, yaitu : Kraton Kidul, Kramatsari, Bendan, Podosugih, Pringlangu, Medono, Bumirejo, Tegalrejo, Sapuro, Kergon, Kebulen, Tirto, dan terakhir Pasirsari. Dengan total luas daerah Pekalongan yang diperkirakan mencapai 1005 〖km〗^2 ini Desa Sogaten yang tercatat dengan nama Kebulen tadi berbatasan dekat dengan Desa Medono di bagian Selatannya dan Sapuro di bagian baratnya. Hal inilah yang menyebabkan kebiasaan dan acara-acara yang ada ditiga tempat tersebut tidak memiliki perbedaan yang signifikan, terutama dalam soal logat atau pelafalan bahasa daerah setempat.
Seperti yang sudah kebanyakan masyarakat Pekalongan ketahui bahwa pelafalan logat Pekalongan sendiri memunyai ragam yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Sebagai contoh ada pelafalan kata ‘antep’ (Red. Berat) yang diucapkan ringan ‘antep’ pada daerah-daerah sekitar Kebulen atau Sogaten, Medono, Suro, Pasirsari, dll, namun diucapkan berat seperti ‘andhep’ pada daerah-daerah sekitar Tirto, Bumirejo, Tegalrejo, dll. Hal ini menegaskan akan ragam budaya daerah Pekalongan yang sangat beragam walaupun masih dalam konteks satu kecamatan. Kultur penggunaan bahasa kromo inggil yang diperuntukan kepada orang-orang tua dan bahasa kromo halus kepada teman sejawat atau orang yang dihormati masih menjadi kebudayaan masyarakat Pekalongan ini.

Walaupun mempunyai ragam pelafalan bahasa daerah yang beragam, namun adat kebiasaan masyarakat di daerah-daerah tersebut masih dikatakan dalam koridor yang sama. Image dan kebudayaan yang timbul dari daerah-daerah ini pun masih sama yaitu menjunjung budaya masyarakat Pekalongan dengan ciri khas batiknya yang mendunia. Soal kebiasaan dan adat masyarakat Pekalongan masih menjunjung guyub rukun yang artinya sosialisasi antar warga masih sering dilakukan antar mulut, walaupun dibeberapa daerah kebiasaan ini sudah mulai meluntur seiring berkembangnya media teknologi dan imformasi. Masih sama seperti adat dan kebudayaan masyarakat setempat, mengenai sejarah atau asal-usul pun daerah-daerah ini masih saling berkaitan erat antara satu dengan yang laiannya, terlebih untuk daerah yang berbetasan langsung seperti Desa Sogaten dengan Desa Sapuro. Dua desa ini selain mempunyai batas wilayah yang berbatasan langsung, juga memiliki adat kebisaan penyelenggaran acara religi atau acara daerah yang sama, seperti contoh dalam kasus perayaan haul syekh dimasing-masing daerah tersebut.

Seperti pada umumnya perkampungan-perkampungan di pesisir pulau jawa, baik isme, ideologi, budaya, sampai nama-nama wilayah tidak lepas dari pengaruh ekspansi islam di pulau jawa oleh tokoh-tokoh penyebar islam pada zaman mataram islam. Seringkali nama suatu daerah diambil dari nama tokoh yang bersangkutan, atau dalau konteks ini adalah tokoh yang berperan menyebarkan suatu ajaran atau agama di kampung tersebut. Namun dilain sumber yang dinukil dari sesepuh kampung Sogaten, suatu kejadian yang menyertai perjalanan perjuangan si-tokoh tersebut pun seringkali dijadikan nama suatu kamupung atau desa khususnya didaerah Pekalongan Barat. Karena dalam riwayat sejarah haruslah menyertakan sumber atau bukti yang bisa dijelaskan secara konkret, penuturan-penuturan dari para sesepuh kampung ini masih menjadi pertannyaan namun selalu diyakini. Hal ini terjadi akibat situs-situs pra islam sangat sedikit yang masih tersisa dan sudah terpolarisasi pengaruh islam, tak terkecuali di kampung Sogaten ini.

Sogaten, demikian oarang menyebut nama kampung ini, terutama orang-orang yang berusia diatas 50 tahun. Sogaten sendiri sekarang masuk wilayah kelurahan kebulen, kec. Pekalongan barat, kota Pekalongan, disamping Sayudan, Sawa Tengah dan Sapuro, dua yang terakhir masuk wilayah kelurahan Sapuro yang tadi dijelaskan sebagai kampung yang berbatasan langsung dengan kampung Sogaten. Keempat nama tersebut berasal dari kata: Yosopuro ( Sapuro ), Yosoyudo ( Sayudan ), Yosotengah ( Sawa Tengah ) dan Yosogati ( Sogaten ). Yosopuro, Yosoyudo, Yosotengah, dan Yosogati sendiri merupakan empat bersaudara yang menjadi tokoh penyebar ajaran islam ditanah tersebut, menurut penjelasan yang didapat keempatnya berasal dari Solo ( Surakarta ). Ada juga yg meyakini keempat tokoh ini sebagi utusan dari Mataram yang membabat atau membuka alas Pekalongan daerah pesisir.

Sogaten sendiri berasal dari kata Yosogati – Sogatan – Pasogatan yang artinya perjamuan. Pada saat itu setiap utusan Mataram ketika akan mengadakan musyawarah di wilayah Pekalongan yang sering kebagian tempat dan perjamuan yaitu R. Yosogati. Lama kelamaan hal ini menjadi penyebutan tempat tersebut yang pada akhirnya sampai sekarang menjadi sebutan yaitu Sogaten.

Keberadaan para tokoh pembabad tanah Pekalongan pesisir ini terlacak dengan ditemukannya makam-makam dari ke-empat tokoh tersebut. Setiap tahun pula bertepatan dengan menjelang waktu Ramadhan, dimakam-makam ke-empat tokoh tersebut digelar acara haul yang dihadiri oleh masyarakah dan ulama kota Pekalongan. Hal tersebut dilakukan bergantian karena haul dari ke-empat tokoh yang membabad Pekalongan ini pun digelar secara bergantian, namun bagi masyarakat kota Pekalongan dan sekitarnya hal tersebut sudah menjadi tradisi yang terus dilestarikan dan dijaga oleh masyarakat banyak di kota Pekalongan sendiri.

Walaupun kontur tanah masyarakat Sogaten yang lebih dekat dengan daerah pantai tidak membuat mata pencaharian penduduknya hanya bersektor pada nelayan. Ada beberapa warga yang berprofesi sebagai nelayan yang melaut menembus pantai Pasir Kencana, dan hasil tangkapannya yanag akan dijual dipelabuhan yang ramai dikunjungi oleh orang-orang baik dari Pekalongan asli maupun masyarakat sekitar kota Pekalongan seperti masyarakat Pemalang atau Semarang. Selain menjadi nelayan, presentase jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai pengukir atau dibidang meuble lebih mendominasi dari mata pencaharian yang lainnya. Hasil kerjinan atau barang-barang rumah tangga ini banyak yang sudah menempus pasar nasional bahkan pasar internasional. Masih menurut sumber masyarakay umum diwilayah Sogaten, barang-barang mentah berupa meuble sendiri didatangkan dari wilayah Jepara yang diindikasikan mempunyai hubungan sejarah dengan kota Pekalongan sendiri. Dan terakhir bermata pencaharian sebagai pengusana atau pekerja pembuat batik. Karena dikenal sebagai kota Batik paling tidak ada sedikitnya 20 warga yang memproduksi batik disetiap daerahnya, namun untuk wilayah Sogaten sendiri pembuat batik sudah langka ditemukan, seperti yang dikatakan tadi hanya ada beberapa yeng menjadi pengusaha batik yang lainya didominasi oleh pekerja meulbe.

Demikian sejarah singkat Kampung Sogaten, semoga sedikit banyak dapat memberikan pengetahuan dan pencerahan. Terima kasih.
NB: Dikutip juga dari pelbagai sumber lisan masyarakat setempat yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Oleh:
NAMA: Wildan Haffata Yahfitu Zahra
NIM: 121411431031
JURUSAN: Ilmu Sejarah

Terima kasih untuk arti arif ini

Filed under: Uncategorized — haffata at 2:28 pm on Sunday, November 30, 2014

Surabaya, “Orang arif adalah dia yang membalas dengan kebaikan ketika dia diberi suatu keburukan oleh orang lain.” Itu prsepsiku tentang seorang yang arif itu.

“ Berarti itu adala orang bodoh.” Ujar seseorang disampingku.

“Bahkan orang arif menganggapmu sebagai orang baik yang pintar”

welcome1

Masih ingat salah satu cuplikan statusku di jejaring sosial facebook ? bagi yang belum tau, beberapa waktu yang lalu aku pernah mempotsting sebuah tulisan singkat yang ternyata menyita perhatian kawan-kawanku di dunia maya ini. Ibarat sebuah abstrak, tentu status ini mempunyai kata kunci, yap ‘ARIF’.

Membahas tentang arif tentu sangat sesuatu sekali bagiku pribadi. Bagaimana tidak, untuk memahami arti arif ini harus kurelakan pahitnya perasaan yang tengah menggebu dibakar emosi. Bagaimana rasanya jika seorang temanmu yang bersedia kau mintai bantuan tiba-tiba berkata bahwa ia tidak bisa membantumu tepat dihari saat kau meminta bantuanya itu, atau rasakan seperti apa pahitnya ketika kau dibohongi untuk kesekian kalinya untuk proses yang sama, atau kau dijatuhkan oleh teman baikmu sendiri, atau ibu yang menjadi tempat kau bepegangan saat rapuh malah sibuk dengan urusannya sendiri.

Seperti pada umumnya manusia, tentu ingin kuumpat dan kucerca ia berpuluh kali mulutku bisa melakukannya. Namun entahlah saat itu aku hanya diam dalam hati berkata, semoga tuhan membalasmu dengan semua perilakumu ini. Kupandangi dunia seolah berisi dengan pemandangan naif yang menjijikan. Aku bertanya pada tuhan mengapa di dunia berisi orang-orang menyebalkan seperti mereka.

Dengan tiupan angin sepoy tuhan manjawabnya, bahwa mengapa tuhan ciptakan mereka tidak lain adalah karena tuhan menciptakanku. Mereka semua lengkap dengan perangainya memang sengaja dihadirkan untuk menyambutku sebagai insan yang tengah dididik oleh tuhan akan makna hidup.

Sedetik terdiam menyadari doaku yang fatal, aku meratap, apakah ini suatu keadilan jika aku tetap mendoakan mereka dalam kebaikan sedang mereka menjatuhkanku. Sebuah pesan singkat dari orang hebat mampir di telingaku. Bukan sekedar mampir, hadirnya mendobrak alam sadarku bahwa ada sebuah alasan penting yang melandasi arti sabar.

“Tetap ucapkan terima kasih atas apapun yang mereka lakukan, jangan pandang rasa sakit yang kau terima dari mareka.”

Dengan power kata-kata itu semangatku bangkit, rasa marah ataupun benci seketika sirna seolah beberapa waktu atau detik yang lalu semua kejadian buruk tadi tidak pernah terjadi. Satu persatu mereka mulai kusalami, kuhubungi, kuajak bicara, dan aku mengucapkannya,

“Makasih banyak ya udah bantu aku.”

Entahlah, wajah mereka menyiratkan rona bingung, aneh, ataupun kagum yang entah tak pernah kupikirkan berarti apa untukku. Yang jelas, aku merasa menjadi seorang manusia yang lebih bermanfaat ketika menyadari arti arif itu. Ya, arti arif yang sangat berarti dalam menapaki hidup ini.

Mau memulai ?

Ketika tak Mampu Berkata

Filed under: Uncategorized — haffata at 2:10 pm on Sunday, November 30, 2014

Ketika perasaan yang menggebu hanya mampu bertabur
Bertaluan riuh goncangkan seluruh sanubari
Saat itulah alkisah tentangmu mulai terlukis
Menyentil hal paling berharga yang kupunya
Itu yang kebanyakan orang sebut dengan hati

Ketika senyummu bukan sekedar sebesit lengkung berlekuk manis
Saat itu pula aku merindukan kebenaran terdalam dari arti rasaku
Seandainya bukan kamu dan aku tak merasa ini
Karena bukan aku yang seharusnya memujamu
Jauh dikedalaman berpikir logisku, ada mereka yang siap menyanjungmu

Sekali lagi mungkin ini kesalahan
Yang entah tak tahu milik siapa yang berproses dahulu
Yang kumau kau penuhi janjimu
Janji untuk membenciku jika semua rasa ini beakhiran bodoh

Wahai kau seseorang yang membuatku rentan
Setiap orang katakan bahwa aku adalah seorang pelukis kata-kata indah
Yang mampu keluarkan nokta-nokta cantik
Namun entahlah, aku tak sanggup berkata kala menatapmu
Itu yang aku tau darimu……..
tangisan-abu21

Another You Are

Filed under: Uncategorized — haffata at 2:03 pm on Sunday, November 30, 2014

Tema tentangmu menjadi pilihan saat penaku terasa berat untuk menulis
Segala cintamu menjadi alur yang menghiasi bagian putih kertas ini
Catatanmu menjadi cuplikan terindah ketika aku merasa hampa dan terluka
Entah mengapa harus tentang kamu
Padahal ada mereka yang telah lukiskan semua goresan tentangmu
Ya, lengkap dengan segala caci dan puji mereka yang tulus untukmu
Karena kau manusia biasa yang kutau punya pemuja atau musuh
Namun semua yang dariku adalah sisi lain hidupmu
Yang mungkin tak mereka susuri ketika memandang dan menilaimu
Kau yang bahkan merasa bahagia saat bisa menghargaiku
Entah, berapa banyak kata yang harus keluar untuk memuji atau menghaluskan semua pujianmu
Karena aku, merasa sangat lemah kala berurusan denganmu
Bahkan aku akan menjadi rentan ketika jauh, atau rapuh tanpamu
Ini bukan puisi..
Sungguh bukan puisi
Hanya rangkaian kata yang terbetik dibenak kala terbayang ingatanku tentangmu
Kupertanyakan pada tuhan bolehkah aku merasa ini
Tuhan hanya tersenyum, sungguh hanya tersenyum
Lalu kuputuskan, untukmu seseorang yang mempunyai makna tersendiri dimataku
Tetaplah berdiri tegak disana, genggam apa yang sekarang kau rasa
Karena aku membutuhkannya
Bahkan sekedar untuk membuatku merasa berarti hidup didunia ini
Ketika semua orang menganggapku lemah ataupun mencaciku
Atau saat dunia ini berpaling untuk menjauhiku…
Aku membutuhkan perasaanmu..
Sebagai tempat kembaliku

« Previous PageNext Page »