Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Karena Cacat Hanyalah Sebuah Tanda Lahir

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:51 am on Saturday, December 16, 2017

Momen kali ini saya ingin mengulas sesuatu yang berhubungan dengan parenting, walaupun sebenarnya saya ini juga (belum) menjadi seorang parent dan juga bukan mahasiswa psikologi. Ini murni opini saya, atas pemahaman yang saya dapatkan sewaktu menonton Pegalaran Gatot Kaca Rindu Sosok. Pagelaran tersebut diadakan oleh BEM Fisip Unair di Aula Soetandyo Kampus B Universitas Airlangga pada Rabu 29 November 2017. Awalnya saya mengira pagelaran ini sama seperti pertunjukan drama kebudayaan yang biasa digelar di Cak Durasim atau tempat-tempat lainnya, tapi ternyata saya salah. Ini pertama kalinya saya menonton pertunjukan budaya yang sarat akan kampanye anti benci terhadap disabilitas.

Pagelaran Gatot Kaca Rindu Sosok ini ternyata merupakan sebuah acara yang digawangi oleh rekan mahasiswa Fisip, alumni-alumninya, serta bekerja sama dengan Komunitas Mata Hati. Sebelum mereview pegaleran tersebut, saya ingin mengulas sedikit tentang komunitas luar biasa ini. Kelompok pemerhati disabilitas ini awalnya dirintis dari sikap dan kerja cerdas luar biasa dari Bagus Adimas dan Fitri, difabel yang punya potensi dan sering diminta untuk menjadi partisipan kegiatan-kegiatan nasional seperti PON. Awalnya mereka disebut Bright Eyes karena memang keduanya merupakan tuna netra. Bright Eyes kemudian berganti menjadi Komunitas dengan nama Mata Hati pada tahun 2000.

Komunitas tersebut berkolaborasi dengan relawan dan bersama-sama memberikan support dalam mengoptimalkan setiap potensi teman-teman difabel yang mereka temui. Menurut mereka, perlu diadakan usaha untuk mengasah kepedulian sosial, terutama kepada teman-teman difabel, agar tercipta sikap peduli yang membentuk dunia yang lebih ramah bagi setiap orang. Latar belakang itu yang membuat mereka bertahan dan menelurkan banyak sekali kebaikan dan prestasi. Hingga saat ini mereka memiliki grup band, menjadi partisipan di JTV, TVRI Surabaya, RRI, memiliki anak-anak difabel yang pandai dalam kesenian.

Prestasi mereka di bidang kesenian itulah yang pada Rabu malam digelar dihadapan ratusan penonton. Tema utamanya adalah wayang, dan spesialnya, pagelaran yang saya tonton malam itu mengangkat sosok Gatotkaca yang dikisahkan terlahir cacat. Kelahiran Gatotkaca yang secara fisik tidak sempurna itu menjadi sebuah cobaan bagi kedua orang tuanya. Proses kedua orang tua menerima kehadiran dan kekurangan Gatotkaca itu pun digambarkan secara apik melalui talent-talent berkostum wayang di atas panggung. Dalam pagelaran scene selanjutnya, Gatotkaca yang digambarkan telah beranjak besar pun masih harus menerima kenyataan bahwa dunia bukanlah semacam surge yang diciptakan bersahabat dan penuh cinta. Ada banyak sekali hambatan dan persoalan yang semuanya menjadi ancaman orang-orang berkebutuhan khusus. Di sela-sela penampilan wayang, penonton diberikan suguhan penampilan anak asuh komunitas Mata Hati yang penuh potensi.

Secara pribadi saya sangat mengapresiasi pertunjukan yang menurut saya penuh haru itu. Pertama kalinya dalam hidup saya, ini adalah kesempatan besar yang memberikan pandangan tentang seberapa besar kesulitan yang mereka hadapi karena dunia ini sangatlah tidak ramah untuk mereka. Betapa hadirnya mereka di dunia ini harus menerima banyak kenyataan kurang bahagia. Tapi ternyata saya juga salah, saya melihat mereka sangat bahagia ketika mereka menyadari banyak support yang datang, terutama dari orang tua mereka sendiri.
Jika saya posisikan menjadi orang tua mereka, menerima kehadiran anak yang sangat disayangi namun memiliki keterbatasan adalah hal yang sulit. Sehingga jika ada orang tua yang mampu menerima mereka dengan bangga, orang tua itu adalah sosok luar biasa. Saya meminjam teori Abraham Maslow tentang kebutuhan dasar manusia, bahwa pada dasarnya setiap manusia itu memiliki 5 kebutuhan dasar yang salah satunya adalah kebutuhan fisiologis. Kebutuhan fisiologis adalah kebutuhan yang berhubungan dengan hal-hal yang sifatnya fisik dan body. Diantara macam-macam jenis kebutuhan fisiologis, hal yang paling penting sebagai makhluk hidup adalah mencukupi tubuhnya dengan makan, minum, dan berinteraksi dengan lingkungan secara sederhana. Bayangkan saja kenyataan seorang manusia memiliki keterbatasan dalam berbicara, untuk melihat, atau pun untuk mendengar, tentunya kebutuhan fisiologisnya akan sangat terganggu.

Hal lain yang ditekankan Abraham dalam teori tersebut adalah kebutuhan akan cinta dan keselamatan diri. Berangkat dari cinta, setiap menusia akan tegar dalam mengaktualisasikan dirinya. Berangkat dari keamanan yang terjaga, setiap menusia akan mampu menghadapi dunia dengan lebih nyaman. Jika karena kebutuhan fisiologis anak-anak difabel terganggu, tentunya kebutuhan mereka akan cinta dan keamanan akan lebih besar dibandingkan dari manusia normal lainnya. Seperti itu sederhananya teori itu bekerja. Namun jika kita sedikit melupakan teori dan melihat realitas, apakah itu sebuah kemanusiaan jika kita meninggalkan anak-anak difabel hidup tanpa cinta, keamanan, dan kekurangan kebutuhan fisiologis mereka ? tentunya tidak. Sehingga, kita juga harus mulai menata diri.

Keberadaan teman-teman difabel di dunia ini bukan suatu cacat yang harus disembunyikan. Sebagai manusia normal yang hidup berdampingan dengan mereka dalam dunia yang sama, kita juga harus mengambil peran untuk membantu menciptakan dunia yang nyaman untuk mereka. Ketika kita menempatkan diri ditengah-tengah mereka, secara otomatis kita sedang membantu orang tua anak-anak difabel itu. Menurut saya ada banyak cara untuk membantu, namun yang paling mudah adalah menanamkan dalam hati kita masing-masing, bahwa anak-anak difabel adalah sama seperti kita, yaitu manusia, perbedaannya mereka membutuhkan penanganan khusus. Jika kita melakukan cara paling mudah itu, setidaknya kita telah membantu menciptakan dunia yang terjaga untuk mereka.

Facebook Comments

Leave a Reply



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>