Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Tentang Seseorang yang Meminta Mati dalam Hujan

Filed under: Uncategorized — haffata at 3:55 am on Sunday, December 11, 2016

Aku masih memandanginya dalam diam, sejanak dahiku ikut berkerut melihat tingkah lakunya yang berubah sangat drastis begitu hujan diakhir Desember ini mengguyur jalan sepi rumah sakit Soetomo. Berkali-kali nama-nama filosof Yunani terlintas dibenakku, itu mata kuliah tadi siang yang sangat rumit dan aku harus cepat menghafalnya untuk ujian pengantar sejarah eropa klasik lusa. Namun sikapnya begitu membuatku ikut rumit hingga melupakan Herodous, Aristoteles, ataupun Homerus dengan segala teorinya. Buku yang tengah kubaca hanya ikut terdiam pasrahdiatas pahaku. Mungkin dia cemburu karena pandangan dan perhatianku sempurna tertuju padanya, seseorang itu.

“Aku tau kamu rumit, Fa. Tapi harusnya kamu bisa menunjukan semangat itu didepan mataku, sama seperti semangat yang kamu tunjukan didepan keluargamu karena segala musibah ini.” Pelan-pelan kumulai percakapan yang sendu itu. Duduk disampingnya dengan posisi canggung seperti ini rasanya yang sulit dideskripsikan, yang jelas aku sudah tidak tau bagaimana buku sejarah eropa klasikku.

“Kamu tau, hujan bahkan lebih mengerti aku dibandingkan kamu, Ta.” Dia meliriku dan memegang ujung jaketku, mungkin ia berniat memastikannya basah atau tidak. Lalu ia kembali menarik tangannya dan melipanya didada.

“Ketika harusnya kamu menyemangati Mama kamu untuk terus mempertahankan hidupnya, enggak sepantasnya kamu malah berkeinginan untuk mati.”

“Kamu tau, tulisan-tulisan kamu di blog, status kamu di media sosial tentang keinginanmu mempercepat masa akhir hidup ini terdengar konyol. Bahkan di telingaku pun.” Aku masih memberondongnya dengan pertanyaan dan penghakiman ini itu.

Dia hanya menggeleng. Dalam sejenak pandangan kami menampar permukaan aspal yang diguyur hujan lebat. Jalanan didepan tempat parkir itu terlihat lenggang oleh pengendara motor, namun orang-orang bermobil masih berambisi membelai jalanan penuh air dari langit. Diseberang jalan terlihat cukup samar orang-orang melipat tangannya kedada, halte tempat mereka berlindung dari hujan agaknya tak cukup membuat mereka hangat dari serangan air yang menghujan deras itu. Iya, cuaca memang dingin bahkan mencekam.

Sementara kami masih duduk terdiam dipinggir parkiran ditemani seorang juru parkir yang sibuk dengan buku TTSnya yang lusuh. Arah kiri dan agak jauh dari tempat kami diam, terlihat para tukang becak meringkuk di dalam becaknya masing-masing. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Ayo kita kembali ke bangsal Melati, kita temani mama kamu di ruang opname. Aku merasa itu lebih berguna tinimbang menyalahkan dirimu sendiri.” Kutarik tangannya dengan gerakan lambat, namun sepotong tangan itu justru menahamku dengan keras. Tanpa melihat ke arahku, dia masih tetap dengan pendiriannya, aku sangat yakin dengan hal itu. Karena semuanya tergambar jelas digaris-garis wajahnya yang kokoh.

“Tunggu saja disini, aku masih merindukan hujan…”Suaranya terdengar parau ketika mengucapkan kalimat yang bagiku terkesan menggantung itu. Tangannya yang masih kuat menahanku, dalam posisi yang seperti ini aku lebih memilih untuk melepaskannya saja. Bersitegang dengan laki-laki gila ini justru membuatku hampir gila setengah mati. Aku juga kadang bingung mengapa masih selalu merasakan kenyamanan di dekatnya, dengan sejuta pola pikirnya yang abnormal. Apa lagi ini, dia baru saja bilang bahwa dia merindukan hujan.

“Oke lah kita berdamai, jadi apa masalahmu dengan hujan ?” Aku masih berambisi membuatnya terbuka seperti biasanya. Namun dia masih dalam sikapnya dan diam dengan posisi berjongkok. Aku pernah belajar dari beberapa lembar buku psikologi, setidaknya aku harus memposisikan diriku berada seperti dirinya agar dia merasa nyaman berbicara dengan ku. Oke, aku ikut berjongkok walaupun kemungkinan cipratan air hujan itu akan mengotori baju kuliahku.

“Raffa, kurasa kamu lupa kalo aku paling gak suka ada pertanyaanku yang enggak dijawab.” Kini aku menunduk pasrah.

Tanpa berkata apapun dia menarikku untuk berdiri lalu menuntunku untuk keluar dari tempat parkir yang cukup bisa melindungi kami dari hujan. Tetesan air itu dengan sigap menyergap tubuh kami yang berdiri pasrah tanpa pelindung. Mataku yang menyipit agar tidak terhujam oleh air hujan itu masih memperhatikan tingkah lakunya yang sangat aneh.

“Raff, basah….. kamu mau apa-apaan ini ?” Sekujur badanku sudah kuyup, begitu pula dengannya. Butir-butir air ini memang besar-besar dan menyakiti permukaan muka dan tanganku.

“Pernah gak kamu dikejar hujan, Ta ?” Ia bertannya dan menatapku dalam-dalam.

“Hujan itu melingkupi kita, gak mungkin lah hujan ngejar kita.”

Tanpa melayani lagi ucapanku dia mengajakku untuk berlari bebas, tangannya menggenggam erat jemariku, dan dalam beberapa saat kaki kami menjelajah aspal basah yang sepi.

“Lihat kebelakang, Ta…..awas hujannya hampir dekat !” Teriaknya cukup lantang.

Aku menuruti kata-katanya dan menengok kebelakang, hujan itu sangat dekat dan berambisi mengejar kami yang masih berlari.

“Lihat kesamping, hujannya juga ngejar kita dari sana !” Ia semakin membuatku tergesa dan sangat khawatir begitu menyadari hujan itu terlihat benar-benar mengejar kami. Entah mengapa, dalam setiap aku memandang, hujan itu memang terlihat mengejar kemanapun aku melangkah.

Setelah beberapa saat kami berlari, dia menuntunku untuk menuju pinggir toko di ujung jalan. Namun percuma saja karena baju yang kami kenakan sudah sepenuhnya basah oleh air hujan. Sejenak kami bertatapan dan diam.

“Ini tentang makhluk bernama waktu yang sama seperti hujan.” Dia mulai angkat bicara.

“Setiap orang tidak sadar bahwa ia dikejar hujan, sama seperti lalainya orang-orang akan kenikmatan dunia hingga ia lupa dikejar waktu. Aku hanya merasa terpuruk saat ini, ketika melihat orang yang rela menghabiskan sisa waktunya untuk kehidupanku sedang tergeletak pasrah ditempat itu” Dia masih melanjutkan perkataannya sembari menunjuk bangunan rumah sakit.

“Jika memang yang kamu bilang kalo hujan itu melingkupi kita, maka waktu juga melingkupi kita, kita bahkan lebih tidak bisa lepas dari waktu dari pada hujan, Ta. Dan semua tetesan air itu menyadarkanku bahwa dunia ini menjijikan.” Ia benar-benar menguasai pembicaraan saat itu, sementara aku masih diam.

“Mungkin bagi kamu yang masih senang dengan piala lomba debat atau majalah yang kamu garap, dunia ini terlihat seperti jalanan panjang yang berliku dan menantang untuk dijelajahi, itu juga dulu yang kurasakan. Namun sekarang dengan piala basket atau kejuaraan jambore pun aku masih merasakan bahwa dunia ini sangat jelek dan buruk, hingga membuat setiap orang yang tadinya baik menjadi haus akan kekuasaan semu.”

“Ada sanggahan ?” Ia meliriku yang dalam posisi melipat tangannya ke dada dan memperhatikan tetesan air yang membentuk genangan.

“Meta, lihat mereka.” Jemarinya menunjuk dua orang anak kecil didekat kami yang bertelanjang dada dan berjongkok kedinginan. Sejenak mataku hangat oleh air bening yang keluar dari mataku.

“Menurutmu, gimana dengan mereka ?” Dia terus melanjutkan kata-katanya.

“Apakah suatu keadilan jika mereka mendapatkan semua yang mereka rasakan sekarang, mereka cuma anak kecil yang harusnya dihangatkan oleh ibu mereka dalam kondisi seperti ini, bukan kelayapan dan kedinginan mencari uang sendiri, inilah maksudku bahwa saat ini tercipta anggapan bahwa dunia ini kejam, Ta.”

“Jadi kita semua harus mati, itu maksud keinginan kamu ?” Kubalas tatapannya yang mulai mencair.

“Bukan dunia ini yang salah, kamu ingat hukum Murphy… bahwa apa yang terjadi maka terjadilah, sama seperti kekuasaan Tuhan yang tertera dalam kitab suci kan, dunia ini hanya menjalankan kerjanya, manusia yang harusnya membuat dunia ini terlihat seperti tempat singgah yang menyenangkan, agar tidak tercipta paradigma bahwa dunia ini kejam, atau dunia inilah yang mengubah manusia menjadi tidak baik atau jahat.”

“Jadi kesimpulannya ?” Kutatap matanya dalam-dalam

“Kesimpulannya, aku sayang kamu.” Dia menggengam erat tanganku dan menuntunku untuk kembali menembus hujan. Namun kali ini, kami ingin berjalan tenang tidak peduli hujan mengejar atau melampaui kami. Karena dipungkiri atau tidak, seringkali kita cukup membiarkan waktu untuk sekedar memahami ketika kita merasakan kehangatan dalam hujan.

Facebook Comments

Leave a Reply



1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>