Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Dear My Love

Filed under: Uncategorized — haffata at 3:08 am on Sunday, November 20, 2016


Jalanan Gubeng memang sering banjir jika hujan tiba, kadang aku tidak menyenangi ini. Namun lagi-lagi rasa tidak sukaku akan melebur ketika aku mengingatmu, yang selalu berucap bahwa hujan adalah anugrah, lalu kamu pun menyadarkanku bahwa genangan air itu dapat membahagiakan untuk yang kesekian kalinya sejak masa kecilku terampas rotasi waktu yang begitu cepat. Benar katamu, genangan air di akhir November ini benar-benar menyenangkan, setidaknya untukku yang tidak bisa memungkiri bahwa sampai saat ini aku masih menyenangi mainan water splash ala anak-anak labil.

Untuk menuju ke rumah sakit tampatku praktek pagi hingga sore nanti, setidaknya aku harus melewati banjir dan sebuah perjalanan yang cukup panjang. Biasanya perjalanan itu kulalui dengan menghafalkan rumus-rumus penting tentang nama-nama penyakit. Namun untuk pagi ini aku cukup ingin mengingat namamu saja. Nama yang selalu kuingat ketika hujan melebur bersama kenangan dan berbias dengan siluet-siluet tubuh manusia. Ya,itu memang tidak penting dan tidak adil. Bagaimana mungkin aku selalu mudah mengingat namamu jika kamu saja selalu mudah melupakan namaku. Alasan yang memang rasional setiap kali aku menanyakan sebab dari segala perilakumu terhadapku. “hanya untuk mengingat namamu saja itu tidak penting, yang terpenting saat ini adalah aku ingin berkembang agar bisa membahagiakanmu sekalipun harus mengabaikanmu dulu” jawaban panjang yang masih selalu kuingat. Mengabaikan, iya, itu sudah sangat lazim dan akrab dengan mu.

Kakiku masih melangkah diatas jalan batako rapi yang tidak digenangi air hujan. Tepat dari tempatku melangkah, pemandangan pasar yang ramai langsung terlihat jelas. Namun yang menarik perhatianku adalah tukang balon yang membawa puluhan balon berwarna warni diatas sepedanya.

“Kak, tunggu… saya bisa minta tolong?” Tiba-tiba sebuah suara berat menghentikan langkahku. Kubalikan badan lalu kudapati tubuh lelaki yang kisaran umurnya sama denganku. Kupandangi dia dengan tatapan aneh, bagaimana mungkin lelaki sebesar dia harus membawa balon berwarna pink ditangannya, sebanyak itu pula.

“Iya….”

“Bisakah kakak bawa satu balon ini, lalu berikan pada perempuan yang duduk diatas bangku warna merah itu. Iya, dia yang pakai baju warna putih tulang.” Kuambil satu benang yang mengikat balon yang ia sodorkan, lalu kucari gadis yang ia tujukan tadi. Memang benar ada seorang gadis yang duduk kebingungan didepan sana, wajahnya terlihat lucu ketika banyak anak dan orang lewat memberinya satu balon berwarna pink.

“Sudah lama dia minta balon, saya mensetting semua ini… tukang balon disampingnya pun sudah saya beritahu. Ini kejutan saya untuk dia, hari ini dia ulang tahun…” Ucap laki-laki yang berdiri disampingku dengan nada memohon.

“Kamu…. Melakukan hal sepele seperti ini….hanya karena dia ulang tahun ?” Terbata-bata aku menanggapi apa yang dia sampaikan sebelumnya.

“Iya, yang penting dia bahagia… saya pun bahagia, saya cinta dia..” Dia berlalu meninggalkanku yang masih terbengong mendapati hal sinetron seperti itu. Namun buru-buru aku tersadar bahwa aku pun harus segera pergi untuk menyerahkan balon berwarna pink ini, setidaknya aku harus berpartisipasi meramaikan juga.

Kuambil langkah tergesa, sesekali kuhindari genangan air yang kadang memenuhi bahu jalan yang sedang kulalui. Ketika aku berhenti di depannya, kuberikan balon pada perempuan itu. Wajahnya pun masih sama, bingung namun bahagia. Setelah kupastikan balon itu sudah dipegang erat, aku berlalu. Bukan untuk melanjutkan perjalananku, namun untuk mengambil tempat agar dapat memperhatikan surprise selanjutnya dari pasangan itu. Trotoar tempatku berdiri cukup nyaman buatku menjadi pengamat pagi ini.

Kuperhatikan laki-laki yang memintaku membawakan balon untuk pacarnya tadi datang dengan balon berbentuk alphabet. Dia tersenyum manis sekali menatap sang pacar yang kebingungan sambil memberikan satu persatu balon itu. Kueja pelan-pelan, H, A, P, P, Y, B, I, R, T, H, D, A, Y, M, Y, L, O, V, E. ah, itu benar-benar relationship goalsnya anak-anak muda. setelah itu barulah sebuah drama terjadi, sang perempuan langsung melonjak bahagia lalu berdiri dan memeluk erat sang pacar. Kegirangan mereka benar-benar menarik perhatian penghuni pasar yang ikut bersorak melihat drama tadi. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat sinetron nyata barusan, ada saja yang seperti itu ternyata. Kulanjutkan lagi langkahku dengan senyum yang mengambang. Tapi ada sedikit cemburu yang kurasakan menjalar di hati, ketika melihat usaha lelaki tadi untuk membahagiakan sang pacar di hari ulang tahunnya. Aku pun ingin seperti itu. Namun mungkin itu hanya akan sia-sia saja begitu menyadari bahwa laki-lakiku tidak mungkin bertindak drama atau anak kecil seperti itu.

Satu dua kali melangkah, kurasakan ada langkah lain yang bergerak sama disampingku, sebuah kaki jenjang dan kuat dengan balutan celana kain berwarna hitam. Kulirik dia lalu perlahan kudapati tubuh lelaki familiar itu tersenyum ramah. Kuhentikan langkahku ketika kusadari dia juga membawa balon berwarna pink. Hanya ada satu balon ditangannya, lalu ia menjulurkan benang yang ia pegang kepadaku.

“Ini bukan permintaan tolong dari saya untuk diberikan kepada perempuan lain, cukup saya berikan langsung kepada orang yang saya tuju.” Senyumnya masih ramah kuperhatikan. Di bahu jalan yang sedikit lenggang itu, percakapan kami tidak begitu diperhatikan oleh banyak orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Ini, buat saya, Dok ?” Kuambil balon itu.

“Iya, itu buat pacar orang yang sedang berdiri disamping saya.” Dia menegaskan ucapannya.

“Dok…. Saya tidak harus menerima ini.” Kuberikan lagi balon yang sudah kupegang, begitu kusadari maksud dokter muda yang tampan itu.

“Jangan terburu-buru, pikirkan lagi saja. Saya pasti akan menyerah tanpa kamu minta jika alasan kamu mencintainya sudah jelas dan rasional.”

Tepat setelah Dokter Ardian mengucapkan kata-kata yang menohok dan membingungkan itu, aku langsung diam. Begitu pula dengan nya yang juga ikut diam. Berbeda denganku yang melangkah dengan kebingungan dan kekhawatiran, dia justru terus melangkah disampingku dengan tenang.

“Dok, perawat Melisa itu cantik kan….” Kuucapkan kata-kata aneh itu.

“Bagi saya sih biasa saja… menurut saya yang cantik itu kamu.” Jawabannya justru langsung mendiamkanku dalam detik berikutnya.

“Menurut kamu, apa saya tampan ?” Dia lalu menatapku dengan masih melangkah, senyuman yang menggetarkan banyak perempuan di rumah sakit itu pun masih menghiasi wajahnya.

“Iiya, dokter tampan.” Kujawab saja sekenanya, mungkin saat itu mukaku bersemu merah.

“Bagaimana mungkin kamu mencintai pacarmu jika kamu saja masih bisa menyatakan bahwa saya tampan.”
Aku terdiam mendengarkan pendapatnya.

“Kamu masih selalu ikut pembicaraan teman-teman saya di rumah sakit, pembicaraan aneh yang selalu bercerita tentang keunggulan saya. Kata mereka saya tampan, kamu setuju. Kata pasien saya seperti malaikat kamu juga tidak menolak, kata dokter Prayudi saya sangat cerdas kamu juga setuju, satpam bilang saya orang baik langsung kamu iyakan…. Apa kamu tidak seperti pacar bagi saya ? lalu bisakah kamu jadi pacar saya dan tinggalkan saja pacarmu yang entah kemana dan sedang apa di luar sana.”

Aku benar-benar hanya menelan ludah mendengarkan breakdownnya yang menghabisiku tanpa ampun. Segigih ini dia berharap aku putus dengan pacarku. Buruk sekali niatnya sekalipun aku tau dia ini memang orang baik. Dia mengoceh panjang lebar dan terus bertanya mengapa aku bisa mencintai laki-lakiku itu, lalu dia penasaran apa kelebihan yang dimiliki pacarku yang jauh disana, apa dia seorang dokter yang lebih pintar darinya, atau dia seorang anak konglomerat… pertanyaan-pertanyaan itu kudengarkan sambil berlalu saja.

Yang jadi pikiranku justru celotehan perawat-perawat di rumah sakit yang selalu menyindirku setiap mereka bisa melakukannya. Aku tau, rasa cinta Dokter Adrian memang bukan rahasia lagi, siapapun pekerja di rumah sakit pasti tau, bahkan jika itu pasien tetap dokter Adrian pun pasti akan tau gosip yang ternyata fakta itu.

“Perempuan yang disukai Dokter Adrian itu bodoh atau bagaimana, mungkin karena mahasiswa dia belum dewasa berpikir. Kurang apa coba, sudah tampan, mapan, pintar lagi, benar-benar menyesal seumur hidup jika dia menolak Dokter Adrian.” Ucapan pedas manis yang selalu kudengar seperti itu di satu versi. Atau di versi lain seperti ini,

“Kamu belum tau pacar kamu di luar sana itu setia atau tidak sama kamu, lebih baik dengan Adrian yang jelas-jelas suka dan bisa setia menemani kamu. Lalu selepas kamu lulus dari keperawatan, kalian bisa menikah dan berkerja di rumah sakit ini bersama.”

Atau versi yang lebih parah,

“Kamu itu buta atau gimana, sudah tau yang suka dokter Adrian banyak, masih sok jual mahal saja kamu. Memang kamu pikir kamu cantik.”

Pikiran-pikiran itulah yang menjadi fokusku walaupun celotehan dan pertanyaan dokter Adrian masih kudengar. Tanpa terasa perjalanan kami sampai di gerbang utama rumah sakit. Beberapa pasien yang ada di depan segera menyalami dokter Adrian. Kudengar ibu-ibu itu bercerita tentang perkembangan anaknya, atau soal keluhannya,bahkan beberapa ada yang secara terang-terangan memuji dokter Adrian yang gagah dengan jas dokter berwarna putih itu.

“Perawat ini calonnya dokter ? dia cantik…” Seorang ibu sepuh melirikku.

“Diaminkan saja ya, Bu. Semoga disemogakan…”Senyum Dokter Adrian membuat ibu-ibu itu semakin gemas menatapku.
“Dokter saya masuk dulu…..”Pamitku untuk melarikan diri.

Sepanjang melewati koridor untuk menuju ruangan perawat, aku kembali teringat soal laki-lakiku. Bahkan hanya ketika melihat air aku buru-buru bisa mengingatnya. Memang sebaiknya aku harus menerima dokter Adrian dari pada aku harus mempertahankan dia yang sudah bertekad mengabaikanku. Lagi pula terbentang jarak kadang memang menyulitkan.
Kulewati koridor yang ramai itu dengan gelisah dan lemas. Aku bingung dengan kondisi yang membuat dilemma seperti ini. Begitu aku masuk ke ruanganku untuk berganti pakaian tugas, kutatap payung berwarna hijau kepunyaanku. Bayangan masa lampau kembali terbayang, ditempat dimana dia harus menggigil kedinginan terkena air hujan yang deras hanya agar aku dapat terjaga di balik payung itu pada masa ketika kami diberi tugas dari pimpinan organisasi untuk melakukan survei pengabdian dipelosok desa. Bulir-bulir air matakumenggenang di pelupuk mengingat betapa kejadian itu menyadarkan ku bahwa rasa cintanya memang dalam. Dia bahkan harus dirawat di rumah sakit karena alergi dinginnya kambuh malam itu. Aku tau malam itu adalah saat-saat tersulit yang bisa kuingat. Bagiku payung itu berbicara banyak soal kami.

Kupalingkan wajahku dari payung dipojok ruangan agar aku bisa menetralisir perasaanku. Lalu mataku menangkap dokumen berbentuk kertas yang ada di dalam map warna putih bening. Bahkan laki-laki itu dulu yang sering membantuku ketika pembina organisasi menekanku agar surat-surat harus segera selesai. Dia, seorang ketua yang mau membantuku membuat surat-surat yang sangat sulit kuselesaikan sendiri. Laki-lakiku itu benar-benar pernah berjasa untukku dulu.

Kupalingkan wajahku dari dokumen yang ternyata juga mengingatkanku padanya. Tatapan mataku menembus hingga kelantai. Lalu satu-satunya yang kuperhatikan adalah sepatu warna putih yang kukenakan. Beberapa tahun yang lalu, kami pernah hampir mati di puncak gunung karena bekal yang hilang dan kondisi alam yang membahayakan pendaki, dia adalah orang yang terus menjagaku di atas ketika yang lain sedang berusaha mempertahankan hidupnya sendiri-sendiri. Tepat dimana kakiku kedinginan karena sepatuku hancur karena medan yang berat, dia mengorbankan kakinya telanjang hanya agar sepatunya bisa menghangatkan kakiku. Aku benar-benar mengingatnya, bahwa dia benar-benar hampir merelakan hidupnya hanya untuk kehidupanku. Betapa orang bodoh itu pernah hangat kepadaku.

Bulir-bulir itu terjun bebas dari kelopak mataku,mengingat bahwa perasaan yang sedang kupertaruhkan itu tidak nyatanya benar-benar sebuah pilihan yang haus kupertahankan. Ditengah gelombang perasaan yang teraduk-aduk pagi itu, suara handphone lah yang selanjutnya kudengar.
Sebuah pesan yang cukup panjang masuk, lalu berkata

“Dear my love, Selamat pagi, untuk hari ini aku merasa bahagia bisa mengucapkan salam itu. Di waktu-waktu lain ketika aku tidak bisa mengucapkannya, aku benar-benar merasa ingin mati. Bahkan ketika tidak bisa mengetahui kabarmu, aku merasa bahwa hidupku akan berakhir. Kamu hanya perlu memahami bahwa sayang dan cintaku bukan terletak pada stigma, presepsi, atau pandangan manusia lain. Itu semua ada dalam dirimu… bahkan ketika perasaanmu berpaling, aku bisa saja pergi untuk kamu bahagia. With a million love… Addin”

Beberapa detik setelah aku membaca pesan itu, semangat dan kekuatanku tumbuh kembali. Rasanya aku langsung memiliki kekuatan untuk segera mendatangi Dokter Ardian. Aku bukan lagi melangkah, namun aku berlari menuju ruangan dokter tampan itu.

Tanpa mengetuk pintu, kubuka pintu itu lebar-lebar lalu buru-buru masuk. Kudapati dokter Ardian sudah siap dibalik mejanya untuk menyapa pasien-pasiennya.

“Dokter, saya jawab sekarang saja…..”

Dokter Ardian yang kaget buru-buru berdiri namun tetap berada di tempatnya, wajahnya yang biasa santai kini tergambar sedikit tegang.

“Iya… akan saya dengarkan.”

“Untuk berbagai pertanyaan mengapa saya masih selalu mencintainya, tidak memiliki alasan rasional yang bisa diterima akal sehat. Saya memang bodoh jika harus menghentikan rasa cinta dokter kepada saya, namun saya tidak sepicik itu. Silakan mencintai saya jika dokter tidak bisa menghentikannya. Namun rasa cinta saya sudah tertarik semuanya kepada dia yang berada jauh disana. Bukan karena apa-apa, justru karena saya tidak memiliki alasan apapun lah yang membuat saya ingin bertahan untuk mencintainya. Dokter, seandainya dokter tau bagaimana rasanya menjadi saya yang harus mencintai orang itu secara tiba-tiba dan tanpa alasan… rasanya sungguh berat ketika hati kita tertambat pada satu orang tanpa alasan apapun. Saat ini dan saat itu, ataupun saat nanti… saya sedang dan akan terus merasakannya.”

Aneh, bukan gurat sedih yang kulihat diwajah Dokter Adrian, dia justru tersenyum.

“Lalu ?”

“Cinta ini bukan soal jarak ataupun alasan, saya lebih memposisikannya sebagai sebuah panggilan hidup yang melebur hati saya agar merasa berarti hidup di dunia ini. Saya mencintainya, hati saya pun… namun logika saya masih terus hidup untuk bisa menilai laki-laki lain yang tampan di luar sana. Hal itu bukan berarti saya sebodoh itu, tidak semua laki-laki yang saya anggap tampan, baik, pintar, ataupun mapan akan saya cintai seutuhnya. Dokter, bahkan jika saya harus berhenti mencintainya, hati saya tidak akan bisa berhenti untuk terus mengaguminya, dengan alasan yang mungkin tidak bisa dipahami oleh yang lainnya. Saya hanya mencintainya, itu saja.” Rasanya sangat malu aku berkata sedemikian keras dan panjang di depan orang pintar itu, kubalik badanku lalu buru-buru melangkah keluar.

“Arta….” Suara berat itu menghentikan langkahku.

“Saya berhenti sekarang, saya bilang saya sudah berhenti untuk mencintai kamu. Mulai sekarang, silakan bahagia…..” Ucapnya masih dengan senyum semanis malaikat dunia.

Facebook Comments

Leave a Reply



4 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>