Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Stigma Kaum Elite, Jati Diri Bangsa kian Rumit

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:43 am on Monday, March 21, 2016

Sedikit menilik dari esensi yang dipunyai film usungan Citra Cinema bertajuk ‘Tanah Surga Katanya’ cukup mengaduk dan menohok hati jika dirasakan menurut kepekaan yang sehat. Film dengan skenario apik ini mengisahkan kepiluan hidup seorang anak lelaki yang mencintai kakeknya hingga menjadikan ia belajar bagaimana mencintai negerinya sendiri, Indonesia. Dalam salah satu scene dijelaskan bagaimana si anak lelaki tersebut merelakan kain terakhir yang ia punya untuk ditukar dengan bendera sang saka merah putih yang dijadikan alas dagangan di pasar negeri Jiran, Malaysia. Kepekaan itu timbul dari hati anak kecil yang bahkan hanya mendapat nilai 4 dalam mata pelajaran matematika dan sangat terbata-bata dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Fenomena anak kecil yang sangat mencintai bangsanya tersebut entah dapat dipetik atau tidak dari perilaku kaum elite sekarang.
Dalam kehidupan era post-modernitas ini, setiap kaum terlebih golongan akademisi saling mencecar dengan bahasa intelek yang bahkan tidak diketahui sama sekali oleh rakyat jelata. Sedangkan yang mereka bicarakan adalah persoalan yang notebene diangkat dari penderitaan rakyat miskin yang kurang pendidikan. Kehidupan elite kaum tingkat tinggi tersebut diangkat dan seolah yang menjadi lakon utama dalam drama kehidupan Indonesia. lalu munculah paradigma bahwa kaum elite dijenjang atas adalah penentu segala-galanya dan berhak atas citra sosial yang timbul dalam masyarakat. Hal tersebut seakan telah membudaya hingga familiar sebuah jargon ‘Kita orang pinggiran, bukan kaum elite’, jika ditilik sebab munculnya sebuah sindiran berupa jargon tersebut mungkin lebih mengarah pada kebiasaan-kebiasaan yang menunjukan bahwa setiap persoalan hanya akan dipangku tangankan pada kaum-kaum elite tersebut hingga masyarakat jelata merasa dimarjinalkan.
Memang akan menjadi masalah jika semua pihak turun tangan dan andil bersuara, fenomena yang dapat diperkirakan terjadi adalah perseteruan antara buruh lepas dengan politisi yang diangkat dalam sidang paripurna. Hal yang akan semakin menambah masalah tentunya, namun para buruh lepas tersebut juga mempunyai hak berpendapat yang tidak dapat dilupakan. Lalu melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, kita hanya bisa melihat blok-blok dan pengkotak-kotakan status sosial yang imbasnya akan menuimbulkan perseteruan dimasing-masing tingkat, politisi dengan politisi dan buruh dengan buruh. Itulah yang menyebabkan timbul sekat baru yang semakin kokok memisahkan dan meyakinkan bahwa borjuisme dan proletarian memang kuat.
Yang membuat masyarakat jengah adalah bukan karena pengkotak-kotakan tersebut, mereka bahkan tidak pernah mempersoalkan mau bagaimana dewan atas memanipulasi harkat mereka. Mereka lebih memprotes sikap kaum elite yang seperti menggambarkan perseteruan anak kecil yang memperebutkan balon di panggung politik. Yang mereka perebutkan adalah balon yang dimata para khalifah zaman Khuafaur Rasyidin dulu berbentuk sangat jelek dan berbau tidak sedap sehingga berlomba-lomba untuk menjauhinya. Khalifah Umar sebagai salah satu contoh yang menjauhi pangkat tinggi tersebut, hal ini tergambar jelas dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ali Muhammad As-salabi.
Setidaknya kita memang harus berterimakasih pada politisi era kini yang sangat berani menjunjung amanat dan bahkan sampai rela berebut kursi. Namun melihat stigma yang ditimbulkan kaum elite dalam mempengaruhi kehidupan Indonesia, terima kasih yang harusnya diberikan agaknya harus dipersempit. Karena fakta empiris mengunggkapkan bahwa, perdebatan sengit dalam memperebutkan kekuasaan sangatlah melenceng dari jati diri bangsa Indonesia. Lalu dimana letak nasionalisme kaum borjuis tersebut ?
Tidak perlu dijawab terlalu cepat, karena revolusi mental dan perbaikan nasionalisme Indonesia harusnya yang menjadi jawaban konkret dan tidak terbantahkan. Pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana generasi mudanya mau dididik jiwa nasionalisme agar berjati diri pancasila namun kaum elite yang dipandang bermartabat malah kesulitan menjelaskan implementasi nilai-nilai dalam pancasila. Tentu ini akan menjadi stigma dan memperumit kehidupan bangsa.
Lalu akhirnya, kita menemukan zaman kegelapan terselubung dalam masa pencerahan yang penuh cahaya listrik ini. Zaman kegelapan yang tersembunyi dalam otak jenius para kaum tingkat tinggi. Disini diharapkan agar proses ranaisans baru era sekarang cepat terjadi, karena tertuang dalam sebuah buku sejarah Eropa, bahwa sebuah zaman yang mengalami kegelapan harus memulai melakukan revolusi untuk menerima sebuah pencerahan atau renaisans. Lalu kapan akan terbit buku Sejarah Renaisans Indonesia era Post Modern ?

Facebook Comments

Leave a Reply



1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>