Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Percikan Api PKI di Kota Batik Pekalongan

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:42 am on Monday, March 21, 2016

Semua yang dibicarakan tentang PKI berikut gerakan-gerakan yang muncul pada sekitar tahun 65 memang mengundang banyak kontroversi, baik dari segi kontra maupun pro terhadap aksi PKI sendiri. Bukan hanya cuplikan film yang menggambarkan tentang situasi dan kondisi pada saat itu yang semakin mengobarkan cerita pemberontakan PKI, Pelbagai tulisan di media masa ikut memberi sumbangsih berkobarnya api PKI di Indonesia tahun 1965.

Kita dapat sedikit banyak memberi apresiasi pada partai besar dengan jumlah pengikut yang cukup banyak ini, muncul dan memiliki pusat paham dan ideologi di luar Indonesia namun mampu menduduki peringkat keempat tepat dibawah partai Masyumi yang notabene adalah partai keislaman. Pencapaian ini dinilai cukup terang karena pahamnya yang benar-benar menggebrak dengan banyak prestasi.

Hal lain yang perlu dijadikan pertimbangan berpikir adalah bahwa antek Komunis ini memang yang pertama menumbuhkan sikap perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan segala paham yang dimilikinya, Ia mengajarkan pemahaman pada para pengikutnya bahwa antek Belanda yang menjajah Indonesia adalah lintah darat yang harus diperangi. Dalam perkembangannya Komunis sendiri merupakan sebuah partai yang hadir untuk menunjukan diri seorang proletar dan menentang kediktatoran pemeriantahan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hadirnya pemerintah Belanda memang bermaksud untuk menjajah Indonesia dan hal tersebut sangatlah bertentangan dengan misi visi antek komunis. Hal inilah yang melatar belakangi perlawanan orang-orang komunis dalam membela bangsa Indonesia.

Setelah bangsa Indonesia merdeka dan saat mulainya muncul partai-partai dengan latar belakang yang beraneka ragam, PKI muncul dengan membawa budaya komunisnya yang kental. Menurut sudut pandang global dalam menilai PKI sendiri, berkobarnya api pemberontakan oleh partai besar ini dipicu oleh kondisi fisik presiden yang saat itu menjabat, Ir. Soekarno mengalami kemunduran. Dua kekuatan besar dalam negeri yaitu angkatan darat dan PKI sendiri menjadi saling beradu misi untun memegang kendali bangsa saat itu.

Maka saat dini hari tanggal 30 September terjadilah pemberontakan besar-besaran yang melibatkan 6 jendral angkatan darat dibunuh dengan keji oleh antek PKI di lubang buaya, Jakarta. Selama ini memang yang disorot oleh publik memang objek-objek vital seperti lubang buaya sendiri dan daerah Madiun. Namun ternyata setiap kota menyimpan memori tersendiri saat masa itu terjadi, karena hal ini merupakan sebuah bencana nasional dan setiap orang merasakan trauma yang mendalam.

Menilik pada objek yang lebih kecil yaitu daerah disepanjang pantai utara, menjadi suatu yang menyenangkan dapat mengulik kisah legendaris ini. Namun hal yang paling urgent adalah sebuah cakrawala baru untuk mengetahui keadaan atau imbas yang dirasakan disebuah kota dengan brand terkenal batik yaitu kota Pekalongan.

Suasna psikologis dan sosial masyarakat Pekalongan saat itu masih terasa diliputi euforia kemerdekaan dan juga atmosfir pergesekan horisontal akibat intrik politik multi partai. PKI dengan underbouw mengiming-imingi rakyat lewat faham sosialis [kesetaraan] dan keadilan juga lengkap dengan jargon ”sama rasa sama rata”, mereka mulai menghasud bahkan kadang memaksa rakyat untuk mengikuti gerakan mereka dengan berbagai propaganda yg dipakai. Karena saat itu revolusi belum berakhir, banyak rakyat yg termakan hasutan PKI, fakor yang lebih condong adalah karena mungkin kesadaran politik rakyat Indonesia umumnya masih rendah, faktor yang mendukung selanjunya adalah karena saa itu, rakyat umum sangat minim media masa atau sosial.
Seperti umumnya wilayah pantura Jawa, mainstreem pergerakan LSM diwilayah ini didominasi oleh gerakan sosial-keagamaan seperti NU [Nahdlathul Ulama]. Dalam memori dan benak para aktivis pergerakan, bayang-bayang kekejaman tragedi pembrontakan PKI di Madiun dan sekitarnya tahun 1948 masih segar dalam ingatan mereka. Tak terkecuali di Pekalongan, yang mana para kyai dan tokoh masyarakat disebut ”setan desa ” oleh PKI sendiri. Kekejaman antek PKI sangat terasa dengan pembantaia sadis para Kyai, pejabat pemerintah, dan TNI, dan yang lain adalah dengan dibakarnya sarana-sarana ibadah dan madrasah tempat menuntut ilmu, dan juga sekretariat NU yang terletak di Jalan Dr. Wahidin Pekalongan.

Setelah tersiar kabar terjadinya penculikan para jendral di Jakarta juga dengan adanya selebaran yang diumumkan lewat udara atas nama Presiden Sukarno yg isinya ”ikut Sukarno atau ikut Muso” , rakyat serentak sadar dan mereka langsung merapatkan barisan. Masing masing organisasi yang konra PKI melakukan konsolidasi.

Imbas dari peristiwa tersebut sampai juga di Pekalongan. Sedikit banyak bercerita di segmen antar desa, salah satu desa di Pekalongan yaitu Kebulen ikut pula terkena imbas PKI. Kebulen secara administrasi masuk wilayah kecamatan Pekalongan Barat yang secara kultural menjadi basis Nahdlathul Ulama. Kultur Pekalongan yang memang sangat kenal dengan NU menjadi wadah utama berkiprahnya NU disini. Trauma dengan kejadian di Madiun dan mengingat bahwa LSM menjadi sasaran utama mereka, maka NU langsung merapatkan barisan dengan menyaiagakan GP. Anshor dan Banser.

GP Anshor dengan bansernya melakukan koordinasi untuk mengamankan tempat –tempa ibadah dan juga para tokoh masyarakat [kyai]. Hal ini dilakukan dibawah koordinasi aparat keamanaan [kodim],
Kyai Zaid Murtadho selaku sekretaris GP Ansor ranting desa Kebulen ditunjuk menjadi korlap. Beliau kemudian mengumpulkan semua anggotanya dan memaparkan langkah- langkah yg harus dilakukan sekaligus langsung membentuk tim atau regu patroli yg nantinya akan di tugaskan bergiliran ke pusat kota. Saat itu markas besarnya di tempatkan di masjid Jami’ Kauman Pekalongan. Setiap malam mereka berpatroli mengamankan dan memantau pergerakan PKI dan underbouwnya yang ada di pekalongan dan sekitarnya.

Di wilayah Kebulen sendiri beliau mengadakan latihan-latihan semi militer, para ‘pendekar-pendekar desa’ dikumpulkan setiap saat tertentu mereka mengasah kemampuaan bela diri yang biasanya di lakukan di halaman mushola, dan mushola Miftakhul Jannah (terletak di Kebulen Gg. 7) di jadikan pusat pelatihan karena letaknya di pusat desa kebulen. Demikian penuturan beliau, KH. Zaid Murtadho [pelaku sejarah yang masih hidup]
Kondisi latihan bela diri dan militer ini terus dilakukan mengingat pada saat itu desa Kuripan yang bersebelahan dengan Kebulen menjadi basis PKI di wilayah pekalongan sendiri. Dua desa yang bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh sungai Grogolan ini menjadi sangat kontras dan mencekam. Di desa Kebulen sendiri, ormas PKI hanya segelintir saja sehingga tidak menimbulkan kendala yang berarti. Isu isu yg provokatif dan intimidasi sering terjadi, namun warga kebulen tidak mudah terpancing, hal ini terjadi karena kepatuhan warga terhadap ulama/kyai sangat tinggi, bagi warga sekitar, para ulama dan Kyai adalah sosok yang sangat pantas menjadi contoh, merekalah orang-orang yang selalu mengajarkan kasih sayang dan akhlaqul karimah. Beberapa tokoh tersebut adalah KH Muadi, KH Alwi.Kyai Nawawi dan Kyai Bakri empat serangkai inilah yang menjadi panutan warga, sedangkan Kyai Zaid Murtadho dan Kyai Abu Kholiq menjadi tokoh muda dan generasi penerusnya.

Secara umum, pergesekan yang terjadi akibat pemberonakan PKI di Pekalongan sendiri tidak terlalu banyak menimbulkan banyak problema seperti yang terjadi di beberapa kota seperti Madiun. Karena basis PKI di Pekalongan sendiri merupakan anakan dari ormas PKI diwilayah Purwokerto.
Demikian kondisi dan situasi yang terjadi di kota Pekalongan khususnya desa Kebulen.

Facebook Comments

Leave a Reply



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>