Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Embrio Moralitas di Taraf Pertama

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:42 am on Monday, March 21, 2016

Coba kita sejenak menengok siapa saja pemimpin atau tokoh hebat pada masa sekarang ini. Lalu coba kita bayangkan 40 atau atau 50 tahun yang lalu, seperti apa dan bersama siapa mereka pada saat itu ? mereka tidak lebih dari anak kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, yang sedang belajar membaca dan menulis atau bahkan belajar berjalan bersama orang tua mereka. Sehingga jika dilogika, apa yang mereka lakukan dimasa tuanya akan sangat ditentukan pada masa ketika dia dilatih oleh kedua orang tuanya.
Studi kasus oleh para teknisi kesehatan membuktikan bahwa otak manusia yang paling cepat menangkap setiap hal dan intuisi adalah kisaran usia 0-3 tahun. Jadi masa balita adalah awal pendidikan anak yang paling baik dalam hidupnya. Dan lazimnya anak usia itu, mereka tentu ada bersama orang tua mereka dan melakukan setiap kegiatan dengan pantauan orang tua. Bahkan bisa jadi, pengetahuan yang mereka dapatkan murni bersumber dari orang tua mereka. Oleh karena itu, sebuah keluarga sangatlah penting dalam mengarahkan mau kemana setiap anak akan dididik menuju masa depannya.
Sebuah keluarga disusun oleh kumpulan individu sederhana yang diindentifikasikan memiliki tujuan yang sama dan ikatan bathin yang sangat kuat. Sebuah keluarga, biasanya dikepalai oleh sang ayah, lalu ada ibu dan dilengkapi dengan anak-anak mereka. Dengan sebuah rasa yang dinamakan cinta dan kasih sayang, secara logika dan akal sehat tidak mungkin orang tua akan berkehendak untuk mencelakakan anaknya apalagi berharap buruk tentang masa depan sang anak. Karena seburuk-buruknya orang tua, mereka pasti berusaha mendidik anak mereka agar menjadi lebih baik dari mereka.
Yang dinamakan proses pendidikan disini bukan sebatas mengajari bagaimana menyelesaikan soal matematika dengan berbagai rumus, atau mengajari anak-anak berhitung, membaca, mengingat, dan kegiatan lain yang biasanya sangat familiar dalam instansi-instansi sekolah-sekolah formal. Namun pendidikan dalam keluarga lebih mengutamakan bagaimana morilatas setiap anak ditempa, sehingga ia tumbuh dengan karakter yang kuat sesuai jati diri bangsa yang sangat dibanggakan setiap orang tua.
Mari coba mengingat-ingat. Apakah orang tua kita mengajari bagaimana merumuskan konsep bertahan hidup ? atau konsep sederhana seperti berhitung ? seberapa sering orang tua mengajari kita dengan materi seperti itu, apakah sesering orang tua kita ketika mengingatkan untuk berbagi makanan dengan teman yang menginginkan makanan ringan yang kita bawa. Terlalu sering kan orang kita mengingatkan kita akan hal itu. Setiap kita berebut mainan dengan teman, pastilah orang tua akan berkata “Pinjamkan” atau “Berbagi dengan teman” dan yang lebih lagi dengan “Berikan pada temanmu, biar dia senang”.
Tidak ada orang tua yang mengajari keburukan pada anaknya, sehingga konsep orang tua dalam mendidikan anaknya adalah taraf pendidikan yang paling baik dibandingkan apapun. Tidak ada kecurangan didalamnya, setiap anak diuji selama ia menjalani hidup dalam dunia nyata, dan ibrah yang dapat diambil akan secara langsung terasa menampa mereka menjadi dewasa. Oleh karena itu, secara tidak langsung orang tua didalam keluarga sangat berperan menjadi agen pertama penggerak moralitas bangsa, dan karakter bangsa akan dibentuk disana.
Melihat hal demikian dan mempertimbangkan setiap karakter orang berbeda-beda termasuk orang tua, akan lebih baik kiranya jika setiap orang tua diberikan pendidikan memandai bagaimana cara mendidik anak yang baik. Sekalipun tanpa didikan lagi, orang tua tentu sudah tau apa yang harus mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Proses pendidikan terhadap orang tua ini dimaksudkan untuk menyikapi berbagai kendala yang dimungkinkan akan terjadi, karena kita sama-sama tau bahwa perceraian dalam keluarga muda masihlah menempati persentase yang tinggi. Bisa dibayangnya jika keluarga muda itu memiliki anak kisaran usia dua tahun, bagaimana anak tersebut melengkapi segala bekal yang ia butuhkan untuk masa depannya. Tentu ia tumbuh dalam berantakan.
Setiap orang tua memang menjalani proses pendidikan semasa ia duduk di bangku sekolah, namun apa yang mereka pelajari tidaklah serumit moralitas yang sulit dijabarkan dengan konsep. Bagaimana jika setiap pasangan yang akan menikah terlebih dulu harus mengikuti training singkat yang mengentaskan pribadi, pandangan, serta spiritual mereka ketika menatap masa depan sebagai orang tua. Hal tersebut dirasakan sangat perlu, bukan hanya sebatas ikatan keluarga yang resmi setelahkata ‘sah’ terucap ketika ijab qobul pernikahan.
Lihatlah realitas yang ada dalam masyarakat luas, bukankah seorang anak yang memiliki kepribadian kuat dan mentalitas baja yang dilingkupi dengan kebaikan hati hanya timbul dari sebuah keluarga yang terencana, keluarga yang menyertakan sendi-sendi agama untuk menopang kehidupan spiritual setiap anggotanya. Keluarga berprinsip itulah yang akan menentukan bagaimana kader-kader bangsa dan pemimpin negeri berkarakter sesuai dengan yang menjadi identitas dan jati diri bangsa Indonesia.
Jadi, apakah sangat tidak disayangkan jika setiap malapetaka yang timbul dalam masyarakat sejatinya timbul dari persoalan dalam taraf keluarga yang tidak dicover dengan baik. Sudah semestinya gerakan keluarga berencana dicanangkan dan diawasi dengan baik, bukan keluarga berencana yang merencanakan mau berapa anak saja, namun juga perencanaan terhadap konsep dalam mengatur keluarga tersebut nantinya.

Facebook Comments

Leave a Reply



1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>