Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Bintang Kejora

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:44 am on Monday, March 21, 2016

“Kak, menurut kakak Bintang keluar dari mana?” Wajah polosnya memandangiku dengan tatapan tanpa maksud apapun, benar-benar lugu jika kugambarkan.
“Maksudnya…….” Aku tergagap namun terbiaskan oleh bingung dengan arah pembicaraan anak laki-laki usia kelas satu SD itu.
“Bintang, Bintang kadang bingung siapa orang tua Bintang. Teman-teman di sekolah bangga mengatakan mereka anak ibu mereka karena mereka benar-benar punya ibu. Sedangkan Bintang bingung, sebenarnya Bintang keluar darimana… Bintang kan enggak punya ibu seperti teman-teman. Apa bisa seorang anak lahir dari selain ibu ?”
Dalam beberapa detik kemudian aku hanya diam terpaku memandangi wajah polosnya, ucapan yang seharusnya hanya dikeluarkan oleh anak-anak yang setidaknya ramaja dapat dengan mudah ia katakan. Mulut kecilnya itu pun seolah tanpa beban ketika melontarkan kata-kata yang segera meringusku itu.
“Kita bicara di sana ya, Bintang. Tapi rapikan dulu buku-buku pelajarannya.” Jemariku menunjuk tanah lapang yang ditumbuhi rumput hijau dengan beberapa pohon mangga yang tumbuh di beberapa sisinya.
Secepat kilat tangan kecil Bintang membereskan buku-buku pelajaran yang kami gunakan belajar tadi, sementara itu otakku berpikir keras dengan cara apa kujelaskan perihal orang tua. Pertanyaan kecil itu sebenarnya berarti sangat besar bagiku. Kemampuanku untuk berkomunikasi benar-benar akan diuji saat ini. Entah menggunakan teori komunikasi atau menggunakan pendekatan psikologi atau tidak, yang paling pasti Bintang tidak boleh tersinggung dengan apa yang akan kujawab nanti.
“Teman-teman bicara soal orang tua di sekolah ?” Begitu kami mendapat posisi duduk yang enak langsung kutanya ia dengan hati-hati. Pandangan kami bebas menerawang gedung-gedung yang berdiri menjulang namun tampak seperti potongan-potongan puzzle kecil dari tempat kami duduk. Keringatku menetes sekalipun angin sepoy bertiup membuat sejuk suasana.
Bintang hanya menggeleng.
“Lalu kenapa Bintang tanya, apa Bintang terganggu soal itu ?” Nada bicaraku benar-benar hati-hati.
“Bintang cuma mau tau, Kak. Sekalipun orang tua Bintang enggak mau ketemu Bintang, Bintang cuma mau tau. Biar Bintang bilang ke teman-teman kalau Bintang juga punya ayah sama ibu.” Tanpa memandangku Bintang menjawabnya dengan cukup keras, namun dapat kulihat ada air mata menetes dari sudut matanya. Bintang menangis.
Tanpa terasa pipiku pun telah dihiasi oleh bulir bulir air bening yang menetes dari mataku. Namun aku harus menahan diriku agar tidak terisak. Bagaimana mungkin aku ingin Bintang kuat namun aku sendiri sudah terpuruk. Kuhapus air mataku dalam beberapa saat. Kurengkuh badannya yang kecil. Kubiaran dia terisak di dalam pelukanku. Badannya memang tidak terlalu kurus, namun seharusnya ia dapat lebih terawat jika mempunyai orang tua sebagaimana mestinya.
“Bintang, kan Bintang punya kakak…. Kenapa harus cari yang lain. Bintang bilang senang belajar bareng kakak. Bintang bilang gembira diajak jalan-jalan sama Kak Raya.” Suaraku masih harus memecah isakan tangis Bintang.
“Bintang rindu sama ibu…. Ingin ketemu sama ayah juga. Bintang enggak akan minta uang, Kak. Bintang juga enggak akan minta mainan. Ibu atau ayah jemput Bintang sama-sama aja.” Kubiarkan ia berkeluh kesah sesukanya.
“Emang bahagia harus sama orang tua?”
“Bintang memang bahagia sama yang lain, tapi Bintang juga mau punya ayah dan ibu.” Dia dapat menjawab pertanyaanku dengan baik.
Kubelai kepalanya yang tersungkur dipangkuanku, kutatap langit yang benar-benar cerah menampakkan lukisan tuhan berwarna biru yang sangat indah itu. Tentang konsep bahagia yang barusan kutanyakan, aku memang setuju dengan Bintang. Bahagia memang tidak selamanya dengan orang tua, tapi jika itu orang tua, sesakit apapun akan terasa bahagia.
Selama 15 menit kubiarkan Bintang tetap dalam posisinya, dan sesaat kemudian isakannya mulai mereda. Mungkin sebentar lagi tangisannya akan berhenti. Tinggal ini waktuku untuk mengiming-imingi sesuatu agar tangisannya benar-benar berhenti. Karena aku benar-benar belum siap menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang benar, kukatakan bahwa lidahku masih kelu untuk mengatakannya.
“Eh Bintang dengar deh, kakak kan punya satu ibu, tapi ibu kakak baik banget. Sama kaya Bintang, ibu kakak jauh dari sini dan jarang ketemu kakak. Kalo Bintang mau, biar ibu kakak jadi ibunya Bintang juga, gimana ?” kubuat nadaku seceria mungkin.
“Emang bisa ya, kak ?” Kini Bintang menghentikan tangisannya dan menatapku heran.
“Bisa lah…. Beast kan akhirnya jadi pangeran ganteng lagi juga karena dia baik kan. Bintang kan anak baik, pasti bisa lah.” Kuingatkan ia pada salah satu part dalam dongeng beauty and the beast.
“Yaudah Bintang mau.” Kulihat matanya berbinar-binar dan mulai terbesit senyum lebar dibibirnya, lesung pipit nya pun kini terlihat dengan jelas.
“Okee…. Jadi nanti kalo ada yang tanya soal ibu atau ayah, Bintang bilang aja… ada, tapi mereka ada di tempat yang jauh dari sini. Sama kaya teman-teman, sebenarnya ayah dan ibu Bintang juga dekat sama Bintang, mereka ada disini….” Kusentuh dadanya dengan tulus.
“Kenapa disini, kak ?” Dengan polosnya ia bertanya lagi, kali ini sambil menunjuk dadanya yang tadi kusentuh.
“Disini kan ada hati, setiap ayah dan ibu pasti ada disini, Bintang.”
Kini kulihat ia mengangguk-angguk seolah sangat paham dengan apa yang kukatakan.
Tiba-tiba kudengar suara langkah mendekat. Bersamaan dengan Bintang, kepalaku menengok menuju sumber suara. Ah, ternyata Pak Ihsan.
“Bintang, belum makan kan…. Itu teman-teman sedang makan, sana Bintang ikut.” Rayu Pak Ihsan yang langsung disambut anggukan semangat oleh Bintang. Kemudian ia menyalamiku dan berlari menuju dapur panti.
“Ada yang mau dibicarakan, Mba ? saya sudah dengar semuanya tadi.” Pembina panti asuhan Asbabul Kahfi tersebut terlihat sangat ramah di mataku, sangat jauh dari aksen jahat dan kejam pengurus panti asuhan yang sering terlintas di benakku, pembina yang satu ini benar-benar sangat baik.
“Mari ke pendopo, Mba.”
Kami pun berjalan beriringan ke arah pendopo di sisi utara kompleks panti asuhan yang cukup lebar ini. Disana mataku dapat dimanjakan oleh ikan mas dan koi yang berenang dengan gemulai di kolam yang melingkar dibawah pendopo tempat kami berbicang. Pak Ihsan bukan hanya penyayang anak-anak, beliau juga sangat menyayangi binatang. Hal ini terbukti dari pengamatanku selama membantu mengajar di panti asuhan ini selama hampir satu tahun, ada banyak jenis binatang seperti burung, kucing, bahkan bunglon menghiasi kandang-kandang di taman di dalam kompleks panti.
“Untuk hari ini saya minta maaf ya, Pak, karena hanya saya yang bisa mengajar. Yang lain sedang ada persiapan acara bina desa liburan nanti, jadi kita bagi tugas.”
“Hahaha, iya mba tidak apa-apa… saya sudah sangat senang bisa dibantu oleh teman-teman mahasiswa. Anak-anak pun suka bertemu dengan kakak-kakak katanya. Apalagi dengan Kak Ata yang paling sabar.”
Aku tersipu mendengar pujian Pak Ihsan untukku, beliau benar-benar pandai menyenangkan hati orang.
“Saya selalu terinspirasi sama kebaikan bapak, bapak benar-benar baik untuk menampung adik-adik saya itu, mensekolahkan mereka, memberi makan. Semoga balasan dari Allah berlipat buat bapak.” Doaku tulus untuk beliau. Beliau pun mengamini dengan khidmat doaku tadi.
“Kebaikan itu kan pilihan, Mba. Kita sudah diberi hati nurani yang pasti baik. Tinggal pilihan kita mau menggunakannya untuk kebaikan atau kebathilan. Monggo diminum air tehnya.” Pak Ihsan mempersilakan aku untuk meminum air hangat yang di bawa Ainur tadi, salah satu murid ajarku yang sekarang kelas 6 SD.
“Pak boleh saya tanya ?”
“Iya….”
“Soal panti, apa bapak benar tidak kesulitan soal pendanaannya ?” memang cukup tidak sopan kutanyakan, namun aku benar-benar tertarik untuk mengetahuinya.
“Kenapa bertanya ?”
“Saya, kalau bisa saya juga ingin buat panti asuhan seperti bapak. Tapi saya sadar, saya bukan orang kaya, Pak.”
“Hahaha, rezeki kok dipikir, Mba. Perhitungan manusia itu berbeda dengan perhitungan Allah. Jangan khawatir lah soal materi. Rasul saja nekat berdakwah tanpa materi, namun kuasa Allah, Beliau bertemu dengan sayyidah Khadijah yang bergelimang materi kan.”
“Tapi, Pak, saya hanya merasionalkan kehidupan saja. Seorang guru tidak akan mampu mengajar dengan baik jika ia tidak punya kemampuan mengajar kan pak.”
“Memang benar, tapi bukankah kemampuan itu soal kebiasaan. Jadi biasakan saja untuk menerima takdir Allah, yang besar atau pun yang kecil. Jadi ketika bertemu nikmat yang kecil hati kita tidak kufur tapi yang timbul rasa syukur, begitu pula ketika diberi nikmat yang banyak, kita tidak jadi kafir bukan malah kikir.”
Aku tersenyum dengan binar kagum dengan orang tua di depanku itu.
“Sebenarnya saya hanya diberi titipan oleh Allah, Mba. Istri saya itu punya orang tua berada. Dan dia anak tunggal. Istilahnya mertua saya yang menopang semua ini mba. Kami sepakat menggunakan uang warisan untuk membuat panti asuhan. Alhamdulilah usaha kami diberi kelancaran. Terlebih kami belum diberi amanat untuk menimang anak.” Cerita lelaki yang kisaran usianya hampir 50 tahun tersebut.
Jadi benar apa yang dikatakan oleh Mas Raya bahwa sumber pendanaan panti ini awalnya dari uang warisan. Tapi benar-benar mulia niat Pak Ihsan dan istrinya ini.
“Oh ya Pak, soal anak-anak panti termasuk Bintang, sebenarnya orang tua mereka sudah meninggal atau bagaimana, Pak ?”
“Background anak-anak disini semuanya hampir sama, Mba. Mereka anak-anak terbuang dari orang tuanya. Ada yang yatim piatu dan karena suatu masalah kerabatnya tidak mau mengurus, ada juga yang anak hilang, korban kejahatan, ada juga yang anak dibuang karena hasil di luar nikah. Dan Bintang itu termasuk yang terakhir.”
“Jadi……..”
“Orang tuanya tidak mengharapkan adanya dia. Waktu itu sekitar tahun 2009, panti ini baru dua tahun didirikan. Kalau bisa saya hitung hanya ada sekitar 5 anak yang kami asuh. Saat itu saya masih berdinas di kepolisian dan saya dapat tugas melakukan penyergapan dan razia di rumah-rumah aborsi. Dalam razia waktu itu ibunya Bintang termasuk salah satu yang kami bawa ke kantor. Kebetulan saya pula yang bertugas mewawancarai ibu muda itu. Dari hasil wawancara saya tau kalau dia itu berasal dari keluarga tidak mampu dan ditinggalkan pacarnya setelah dihamili. Dia berniat melaukan aborsi terhadap kandungannya yang sudah 8 bulan. Setelah mendengar ceritanya saya menjadi benar-benar tidak tega. Perempuan itu seusia dengan adik perempuan saya. Akhirnya saya motivasi dia untuk mau melahirkan anaknya, saya iming-imingi biaya persalinan dan tanggung jawab untuk merawat anaknya sampai nanti. Asalkan tidak digugurkan, akhirnya dia mau dan jadilah Bintang disini sampai sekarang ini.” Kulihat mata Pak Ihsan berkaca-kaca ketika menceritakan catatan pahit itu.
“Tapi…. Apa enggak apa-apa pak, menyimpan catatan kehidupan Bintang seperti itu ? saya pikir dia benar-benar butuh tau hal tersebut.”
“Saya punya sistem dan konsep, dia masih sangat kecil. Kelak jika nalarnya sudah mampu memahami kondisi yang seperti ini saya pasti akan ceritakan.”
Aku pun hanya mengangguk dan setuju dengan apa yang dijabarkan Pak Ihsan.
“Saya benci dengan ibunya Bintang dan orang tua-orang tua yang menelantarkan anaknya seperti itu.” Ucapku lepas.
“Saya lebih benci, Mba Ata. Terlebih saya ini tidak diberi amanat untuk menimang anak. Bagaimana mereka yang diberi kenikmatan indah itu malah menyia-nyiakan nikmat yang agung itu. Tapi apakah kita akan membiarkan hati kita dirasuki setan untuk menghujat makhluk tuhan yang lain. Toh, apa yang terjadi pada mereka termasuk takdir tuhan atas mereka juga. Saya ini masih banyak dosa, jadi saya sadar saya tidak berani menghujat mereka. Bisa jadi malah saya dapat melakukan hal yang lebih biadab dari apa yang mereka lakukan.”
“Tapi pak, lihat sekarang…. Anak-anak itu, Bintang justru kesakitan tanpa orang tua. Dan mungkin saja orang tuanya sedang bersenang-senang di luar sana. Atau bahkan dia sengaja melupakan Bintang. Seharusnya tidak seperti ini pak…….” Aku menggeleng kecewa.
“Saya memahami apa yang Mba Ata rasakan. Saya juga sering disergap pikiran semacam itu.”
“Mba Ata, lahir atau dilahirkan itu bukan pilihan kita. Termasuk untuk memilih orang tua mana yang akan merawat kita, ibu mana yang akan melahirkan kita, kesenangan mana yang akan kita dapatkan. Itu semua murni takdir ilahi. Yang jelas, setelah kita lahir kewajiban kita menjadi pribadi yang baik dengan cara yang baik pula. Kita semua ada dengan kesucian yang sama. Lalu, tinggal dalam menjalani kehidupan kita harus menentuan apakah kesucian itu akan kita jaga atau tidak.”
“Selagi saya masih bisa merasakan nafas, insya Allah kasih sayang anak-anak panti ini tidak akan hilang. Tapi saya minta tolong, bantu saya berbagi kasih sayang juga.”
Aku mengangguk pasti dengan air mata yang masih meleleh mendengar apa yang diungkapkan Pak Ihsan.
“Saya, saya janji pak, akan berbagi kasih sayang dengan siapapun itu yang membutuhkan, saya akan berusaha sekuat yang saya bisa agar mereka lupa soal dari siapa cinta itu mereka terima. Yang jelas mereka penuh akan kasih sayang dan cinta.”
Kulihat Pak Ihsan berbinar-binar dan mengangguk bangga.
“Orang tua Mba Ata harus bangga mempunyai putri seperti Mba Ata, terima kasih sudah ada disini, Mba.”
“Saya permisi untuk berpamitan dengan anak-anak, Pak.”
Dari jarak 100 meter anak-anak yang tengah bermain gobak sodor di lapangan penuh rumput itu dapat melihatku. Mereka berteriak-teriak memanggil namaku.
“Kakaaaaak, kak ata kesini, Kak !!!” Teriak mereka.
Aku berlari menuju arah kerumunan anak-anak itu. Entahlah aku benar-benar merasa bahagia sekaligus bangga berada diantara mereka. Tuhan, jangan lah buat ini semua berlalu begitu saja, kami bahagia seperti ini.
“Kakak, kita enggak dapat lagu baru hari ini ?” Devi yang menyongsongku bertingkah manja.
“Haruskah ???” Aku mulai menggoda anak-anak yang terlihat bersemangat itu.
“Ayooooooo, kakak.” Beramai-ramai mereka merajuk dan bergerombol disekitarku. Menarik bajuku, melendot manja di tasku, memegang tanganku atau semua tingkah lucu yang natural keluar dari diri mereka. Sangat lucu sekali jika kuperhatikan.
“Oke oke… hari ini kita nanyi bintang kejora ya…..”
“Bintang kejora itu kan namanya Bintang, Kak.” Wajah Anggi beraksyen seolah tidak percaya tentang lagu itu, begitu pula dengan Bintang yang kini ditatap beramai-ramai oleh teman-temannya.
“Ada juga lagunya… kaya gini.. kuu tatap langit penuh bintang bertaburan, tampak sebuah lebih terang cahayanyaa… itulah bintangku bintang, kejoraaa yang indah slalu…” kusenandungkan lagu anak-anak itu berulang-ulang.
Dalam waktu 5 menit mereka sudah mampu menghafalnya diluar kepala. Berulang-ulang pula mereka bernyanyi serempak. Ada senyum Bintang yang ikut mengembang lebar disana. Ya Tuhan terima kasih, aku senang… Bintangku bersinar terang untuk hidup.

Facebook Comments

Leave a Reply



1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>