Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Bicara Batik yang Menggelitik

Filed under: Education — haffata at 4:40 am on Monday, March 21, 2016

Kamu tau batik ? bisakah kamu deskripsikan seperti apa batik itu ?
Mungkin mayoritas orang akan menjawab ya, atau minimal mengangguk ketika disodori pertanyaan tersebut. Dan narasi tentang keindahan seperti berwarna warni, mengagumkan, cantik, kuno, atau bahkan menganngap sebagai ciri khas Indonesia mungkin yang akan melengkapi jawaban dari rentetan pertanyaan tadi. Ya, batik memang identik dengan image unik, baik dari segi warna maupun motifnya.
Bicara mengenai keunikan batik sendiri, bukan hal aneh jika sudut pandang setiap orang akan berbeda. Bayangan unik mungkin sudah terlintas di kepala, namun untuk keluar dengan rangkaian kata-kata tentu tidak semudah ketika membicarakannya. Namun seperti apapun deskripsi keunikan batik, yang jelas coretan motif indah di kain ini mempunyai posisi tersendiri di hati bangsa Indonesia dan bahkan warga dunia. Silakan lihat bagaimana turis asing akan sangat tertarik untuk mencari batik dan berlomba-lomba mengenakannya ketika berwisata di Indonesia. Atau identifikasi saja bagaimana rasa bangga warga Indonesia ketika mengenakan batik di Negara asing. Seolah ada sebuah paradigma besar yang menjadi tameng penyemangat bahwa batik adalah milik kita, Indonesia.

Lalu pertanyaannya, apakah benar batik milik bangsa Indonesia ? apakah karena sejarah mencatat para leluhur kita dulu yang mulai menciptakan dan mengenalkan batik lantas dapat diyakini bahwa batik adalah kepunyaan asli orang Indonesia. Bukan, bangsa Indonesia sekarang hanyalah pemangku tangan atas apa yang telah diberikan para leluhur. Ibaratnya, jika leluhur memiliki telur, maka kitalah yang diminta untuk menjaganya hingga meghasilkan bahan makanan untuk kita manfaatkan. Bagitu pula dengan batik, kita hanya diminta untuk menjaganya, menjiwainya, memposisikan sebagaimana mestinya, mewariskannya, dan setidaknya menyukainya. Namun melihat kondisi yang ada sekarang, rasanya ada nilai yang luntur dari sebuah penghargaan atas batik.
Batik hanya dinilai itu indah dengan warnanya, bahkan untuk para remaja menggunakan batik adalah suatu hal yang bersifat formal. Anggapan batik sebagai pakaian formal juga merupakan rekonstruksi pemikiran yang diciptakan seiring perkembangan zaman. Tanpa adanya penjiwaan untuk apa sebuah batik itu diciptakan, bagaimana filosofinya, atau seberapa besar nilai yang dapat diambil dari sebuah motif itu.

Orang pada zaman dahulu, terutama yang masih sangat kental bersinggungan dengan adat suku bangsa terbilang cerdas dalam menjiwai sebuah batik. Bagi mereka, batik bukan sesederhana pakaian. Namun lebih pada sebuah moral, isi hati pemakainya, atau bahkan falsafah hidup yang dipegang pemakainya. Sebegitu besar peranan sebuah batik sehingga bukan sebatas menggunakanya sebagai kain yang melindungi tubuh dari cuaca namun juga menjadi pegangan hidup seseorang. Sehingga, jauh ceritanya dari zaman sekarang yang memposisikan batik sebagai mode atau life style dengan bermacam prospek.
Corak batik ini bagus, maka saya membeliya. Itu mungkin yang menjadi presepsi singkat masyarakat sekarang. Namun berbeda ketika orang dulu melihat sebuah corak megamendung misalnya, tentu yang mereka pikirkan adalah sebuah pengetahuan tentang moral, bagaimana kehidupan manusia akan berputar dan menemui gelombang sesuai dengan gambar awan yang menjadi cirri khas nama batik ini. Sehingga ketika mengenakannya, orang tersebut akan tentram hatinya, kehidupanya nyaman Karena percaya bahwa kehidupan seseorang akan bergelombang yang justru menjadikannya indah. Itulah nilai sesungguhnya dari sebuah batik.

Mungkin juga, pengetahuan dan nilai tentang motif parang baron yang menggambarkan kesakralan, motif sidamukti yang menggambarkan kemakmuran, motif sidaluhur yang menggambarkan nilai keluhuran, dan motif-motif lainnya sudah hilang dalam benak masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin mereka melupakan suatu indikasi ketika turis asing yang tertarik tentang batik selalu menanyakan tentang maksud dari batik tersebut. Apakah itu tidak sama artinya dengan kecintaan mereka terhadap batik justru berasal dari dalam, dari maknanya. Lalu siapa sebenarnya yang lebih menghargai batik ?
Cerita panjang lebar diatas juga merupakan presepsi atas sorotan terhadap kondisi sekarang yang mungkin telah mendarah daging peradigmanya. Satu hal yang dapat dilakukan dan akan sangat menyelamatkan batik sebagai identitas bangsa adalah dengan mulai mencintai batik dan produksi local bangsa Indonesia. Baik pada era selanjutnya akan muncul trend motif yang baru pun kita tidak perlu khawatir batik akan lenyap selagi kecintaan itu masih ada.
Selamat hari batik Internasional, semangat mencintai budaya bangsa.

Facebook Comments

Leave a Reply



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>