Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Seandainya Kentut Rakyat Jadi Gas Elpiji

Filed under: Education — haffata at 4:39 am on Friday, May 1, 2015

gas-elpiji1
Liqified Pertoleum Gas tentu asing ditelinga masyarakat awam, namun jika yang disebut LPG, tentu siapa saja yang mendengar akan langsung berkeluh kesah akan harganya yang melambung baru-baru ini.
Wajah Koh Ling masih dihiasi senyum menanggapi beberapa pembeli gas LPG 3 kg mengomel panjang setelah diberikan harga 16.500 olehnya. Warga Surabaya yang sejak 2010 lalu telah menarik ulur nasib dari bisnis Gas elpiji ini tentu sudah sangat paham tentang naik turunnya harga gas layaknya sifat remaja yang sangat labil.
“Jika dipikir dengan subsidi pemerintah saja harganya masih tinggi, lalu bagaimana jika ide gila subsidi tetap tersebut digagalkan. Iya, jika elpiji bias dihasilkan dari kentut rakyat, bukan jadi masalah mau naik berapa saja.” Ungkapnya ketika dimintai pendapat mengenai lonjakan harga elpiji baru-baru ini.
Belajar dari sejarah, kira perlu mengamati perjalanan gas elpiji yang menuai banyak kontroversi. Gas elpiji yang hadir dengan pelbagai ukuran tersebut memang menggelitik dengan dinamikanya yang sangat panjang. Terutama ulah tabung kecil berwarna hijau dan sering disebut dengan gas melon yang telah menimbulkan kesan nano-nano bagi masyarakat. Hentakan kasus meledaknya gas elpiji 3 kg yang pada beberapa tahun lalu sempat merebak juga ikut menjadi catatan kelam yang menimbulkan traumatis dari sisi psikologis masyarakat untuk percaya pemerintah terhadap tabung hijau kecil tadi.
Seperti yang terjadi pada Juni 2014 lalu di Pondok Aren Tanggerang selatan, kasus meledaknya tabung subsidi pemerintah ini sampai menimbulkan luka serius pada enam orang dan dua diantaranya sempai memental keluar rumah terkena imbas ledakan. Masih dalam berita yang dilansir oleh Jawa Pos ini, kanitreskrim polsek setempat mendapatkan informasi bahwa korban melakukan kesalahan terhadap tabung gas tersebut dengan mengoplosnya.
Berita yang sempat booming tersebut bukan satu-satunya berita popular ditelinga masyarakat beberapa tahun lalu. Menimbang seberapa salahnya masyarakat dalam menggunakannya, tabung gas ini tetap menorehkan bahaya bagi masyarakat. Bahkan sampai sekarang pun kasus meledaknya tabung berisi campuran beberapa gas hidrokarbon ini masih menjadi bayangan buruk masyarakat.
Bagi warga yang terbilang konvensional dipelosok perkampungan sana, gas elpiji ini mungkin tidak begitu dilirik, apalagi setelah terjadinya beberapa kasus ledakan yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin bagi mereka, lebih baik tetap menggunakan kayu bakar yang dicari dihutan daripada kayu rumah sendiri yang terlalap habis. Percaya atau tidak, sosialisasi dan bujukan pemerintah sendiri memang belum berhasil menjamah perkampungan yang minim informasi, namun bagi masyarakat luas yang hidup di daerah pinggiran atau perkampungan lumayan maju, gas ini terbilang laris manis.
Belum juga selesai menenangkan diri dari guncangan psikis yang diterima, masyarakat sudah langsung dipaksa menelan pil pahit gelombang harga elpiji 3 kg yang naik turun dengan labil. Layaknya sifat remaja yang naik turun sesuka hati, rakyat terbilang tak berdaya mengikuti arus lonjakan naik turun ini. Bahkan sempat terbit berita yang menginformasikan bahwa salah seorang warga Polewali Mandar, Sumatra Utara menjual tabung gas kosongnya untuk membeli minyak tanah pada 2012 lalu. Berita ini tentu saja membuktikan bahwa harga tabung gas ini memang naik turun, bahkan naik turunnya tabung ini sampai hati membuat konsumennya berpindah menjadi konsumen minyak tanah yang jelas-jelas lebih langka keberadaannya.
Dan sudah menjadi kebiasaan umum jika mendekati bulan puasa, keberadaan tabung kecil ini akan sangat langka, bahkan para agen pun sampai kesulitan mendapatkan barang pasokan elpiji ini. Namun untuk sekarang, puasa masih diperkirakan sekitar dua bulan mendatang, namun gas yang menjadi brand dari pertamina ini sudah sangat langka dan ikut menambah keresahan warga setelah dipukul oleh lonjakan harganya.
Bahkan saking putus asanya mendengar setiap berita kenaikan harga gas elpiji ini, sampai terbesit parody dari rakyat awam yang berbunyi jika gas elpiji dari kentut kami. Parodi yang keluar atas jeritan hati rakyat ditengah panggung politik yang memanas karena kasus-kasus pejabat yang beradu korupsi ini tentu menjadi pikiran pusing, apalagi bagi para konsumen yang menggantungkan hidupnya pada tabung-tabung gas ini.
Bukan hanya rakyat yang dipusingkan tentu saja, pemerinah pun ikut memegang kepala sambil geleng-geleng mau memakai langkah apa. Cukup diapresiasi tentunya langkah pengawasan terhadap agen-agen elpiji agar patuh menjual eceran dengan harga yang telah disepakati, karena langkah ini dinilai cukup baik mengamankan tabung-tabung harapan rakyat ini dari mafia gas elpiji yang menimbun atau melambungkan harganya sangat tinggi. Namun akan menjadi upaya yang lebih baik lagi jika pihak pemerintah terus mencari jalan keluar yang lebih menguntungkan bagi rakyat, setidaknya untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak mencekik leher para pekerja lepas. Tentu hal lucu jika pemerintah yang telah menggembor-gemborkan ide brilliantnya ini malah perlahan-lahan mencekik rakyat dengan idenya tersebut.
Namun jika pemerintah dan rakyat sudah sama-sama ngeyel dengan kesibukannya sendiri-sendiri seperti berunjuk rasa anarki atau berlomba korupsi, maka hanya tinggal berharap kepada tuhan agar kentut kita menjadi gas elpiji.

Facebook Comments

Leave a Reply



1 Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>