Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Industri Manufaktur yang Membuana, Positif Sikapi MEA ?

Filed under: Education — haffata at 3:43 pm on Tuesday, January 20, 2015  Tagged

Siapa orangnya di Indonesia ini yang tidak pernah mendengar kiprah kerajaan besar bernama Sriwijaya, kerajaan yang berdiri kokoh di landasan Riau dan daerah Palembang ini merupakan sebuah gambaran nyata mengenai kehidupan sektor ekonomi dan arus globalisasi saat ini. Jangan terburu-buru menilai kecanggihan MEA yang saat ini gencar disoal oleh mayoritas mayarakat merupakan hal baru, jauh sebelum merdeka dan mengenal masa kolonialisme Belanda, perdagangan bebas mancanegara telah dijalankan dengan baik oleh orang-orang terdahulu.

Berabad tahun silam perdagangan bebas di nusantara telah mencakup Asia Tenggara, konsteks ini sama dengan nama ASEAN yang kemudian muncul untuk menyebut area cakupan Asia Tenggara. Dengan kekuatan maritimnya, selat Malaka yang menjadi pusat dan titik tumpu perdagangan rempah zaman dahulu menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya ini. Tentu bisa dibayangkan, seluruh sektor perdagangan yang mayoritas sasaran utamanya rempah dikendalikan oleh kerajaan yang masuk dalam wilayah nusantara, dan daerahnya kini menjadi salah satu wilayah NKRI.

Walaupun itu sudah belangsung bertahun silam dan kerajaan Sriwijaya telah luluh lantak, nama NKRI yang kesohor dengan kakuasaan maritimnya masih digenggam dengan kuat sampai saat ini. Tentu menjadi kebanggan besar bagi Indonesia jika brand yang dicari masih seputar rempah dan wilayah kekuasaan. Namun globalisasi merencanakan lain sehingga maindset untuk saat ini melibatkan kerja profesional dan sistem korporasi yang baik. Karena dengan membuka mata selebar-lebarnya, kenampakan alam saat ini berisikan gedung-gedung pencakar langit yang didominasi oleh perusahaan, bukan hamparan laut dn pemandangan pelabuhan saja yang menjadi titik utama.

Kembali pada soal MEA, Jika ingin sekedar memotivasi diri, tentunya Indonesia mempunyai potensi lebih mengingat saat ini kemaritiman masih dijaga dengan baik. Namun sumber daya yang menjaganyalah yang selama ini dikisruhkan banyak orang dan menimbulkan kecemasan yang mendalam. Dan hasilnya yang sejauh ini ribut diperbincangkan adalah mengenai siap atau tidaknya Indonesia, bukan bagaimana langkah yang harus direncanakan sebagai gerak strategis hadapi MEA akhir 2015 nanti, padahal keputusan perdagangan bebas ini sudah menjadi kebijakan dan kesepakatan bersama sejak 2003 lalu.

Kekhawatiran masyarakat tentu sangat beralasan mengingat SDM bangsa Indonesia masih dalam tahapan menuju kompeten. Beberapa sektor publik memang terlihat antusias menyambut MEA ini, namun secara general bangsa Indonesia masih memerlukan lobying yang matang walaupun menteri ketenagakerjaan sudah memperketat arus pencari kerja dari luar. Jika ditebak kira-kira yang terlintas adalah apakah mampu pekerja Indonesia ikut bersaing.

Mayarakat Ekonomi ASEAN ini tentu digawangi oleh perusahaan-perusahaan berkelas yang otomatis mempunyai otoritas lebih untuk memainkannya. Dan dalam konteks ini, perusahaan dapat mamainkan peran ganda mengingat ia adalah pemain dan penentu bagaimana perekonomian ini berdampak bagi masyarakat Indonesia khususnya. Setiap perusahaan tentu tergiur mencemplungkan dirinya kedalam MEA ini demi melanjutkan sistem korporasi yang baik dimata internasional, namun otoritas dan standar CSR yang digadang-gadangkan pemerintah Indonesia tentu tidak bisa dihilangkan begitu saja. Jadi, bagaimana peran sebuah perusahaan dalam menjalankan profit menggiurkan ini disamping tetap aktif menjalankan CSRnya bagi masyarakat.
Harapan besar muncul mengingat ada sebuah perusahaan besar Semen Indonesia yang berdiri di Indonesia dan tetap bersemangat melanjutkan kontribusinya untuk negeri. Apalagi mendengar bagaimana Fortune dan Forbes, dua majalah kelas dunia telah menyerukan Semen Indonesia Group ini sebagai industri yang kredibel dan mampu bersaing dikancah dunia hingga menempatkannya pada urutan pertama dijajaran perusahaan se-Indonesia. Poin tambah juga didapat setelah sharing metode dan kinerja baru perusahaan ini dalam Wisata Green Industry Desember lalu. Indusri ini benar-benar ‘green’ sehingga laik disebut Green Industry, hal ini cukup membuktikan bahwa Triplle Bottom Line guna konsep CSR masih dipegang kuat oleh industri manufaktur raksasa ini.
IMG_7351
Semen merupakan tiang penyangga sebuah pembangunan secara nyata, jika tidak ada semen, pembangunan yang semestinya tidak akan dijalankan dengan baik. Maka dari itu pengelolaan semen menjadi sangat urgent bagi Indonesia yang masih berusaha mencapai kesetaraan maju ini. Apalagi impor semen terus diperketat dan diperkecil persentasenya, walaupun industri kita masih kekurangan produk ini. Tentu ini akan menjadi kabar baik terlebih bagi Semen Indonesia dalam memperbaiki kinerjanya, dan akan sangat pantas jika gerakan yang memposisikan semen Indonesia Group sebagai industri vital negara Indonesia tetap diingat dengan baik sehingga menjadi motivasi untuk terus melebarkan kegiatan CSR-nya.
IMG_7353
IMG_7363
Kita sudah punya sebuah tameng yang akan melindungi mayarakat Indonesia sendiri dari kekhawatiran publik mengenai MEA. Semen Indonesia ini tentu kredibel dalam menjalankan komitmennya untuk bersama-sama membangun negeri. Dan satu lagi yang perlu diingat adalah bahwa keruntuhan kerajaan Sriwijaya pada zaman dahulu adalah dari sektor ekonomi yang mengalami guncangan karena tidak adanya kelompok manusia yang mencoba melindunginya. Sehingga ketika SDA yang dieksplorasi memang mendatangkan banyak keuntungan, mereka akan terus mengeksplornya tanpa memikirkan kondisi alam bangsa. Bangsa Indonesia kini sudah cerdas dan mempunyai banyak SDM yang kredibel melindungi negeri, lalu apa lagi yang ditakutkan soal MEA ? hanya perencanaan baik dengan niat bersama-sama menjaga kearifan lokal bangsa untuk membangun negeri.

Semangat membangun negeri bersama Semen Indonesia.

IMG_7215

Note Sumber:
http://nasional.sindonews.com/read/915999/18/mea-2015-digadang-dalam-kecemasan-1414407983
http://www.zonasiswa.com/2014/05/sejarah-kerajaan-sriwijaya.html
http://infosemenindonesia.blogspot.com/2014/07/th-2013-konsumsi-semen-diatas-produksi.html?view=magazine
http://finance.detik.com/read/2013/12/04/192216/2432773/1036/2/impor-semen-diperketat-hingga-2017
http://www.semenindonesia.com/page/read/kuasaipangsa-pasarsemen-gresik-memimpin-di-jawa-tengah-2607
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesia-masuk-kategori-industri-vital-nasional-2620
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesi-berbagi-kisah-sukses-investas-di-vietnam-2595
http://www.semenindonesia.com/page/read/semen-indonesia-terbaik-versi-forbes-dan-fortune-2572



1 Comment »

16

   SHOFI

February 3, 2016 @ 3:25 am   Reply

Assalamualaikum Mas Hafatta

Perkenalkan Saya Shofi dari S2 Media & Komunikasi Unair. Saya juga peserta WEGI 3 Semen Indonesia. Saat ini saya sedang melalukan penelitian (tesis) tentang WEGi terutama meneliti tentang tulisan para Blogger WEGi yang link blog-nya tertaut pada website wegi.org milik Semen Indonesia. Untuk keperluan penelitian ini saya memohon bantuan untuk bisa mewawancarai Mas Hafattachat. Jika tidak keberatan bolehkah saya mengetahui kontak nomor hp (whatsapp) atau BBM ?

Terima kasih atas kesediaannya saya ucapkan terima kasih..

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>