Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Jiwa Jurnalismu Seperti Apa ?

Filed under: ketika merenung — haffata at 4:21 am on Monday, September 1, 2014

Semilir angin sore bertiup cukup tenang disekitar kantor tempat Mba Pel-pel berdiri. Sebelumnya kami memang belum pernah bertemu, namun aku merasa sangat bersemangat untuk melakukan perjumpaan pertama kita. Sebuah bangunan besar tak jauh dari kantor beliau, yang selanjutnya kuketahui adalah susunan warung-warung menjadi tempat kami temu perdana Sabtu Sore kemarin.
Namanya terdengar lucu ditelingaku ketika pertama kali mendengarnya dari pembina jurnalistiku.
“Panggil aja Pel-pel..” Begitu kata Pembinaku asal Surabaya itu.
Dalam hati aku bertanya-tanya, apakah sopan aku juga ikut memanggil seorang yang akan menjadi tutor editingku dengan panggilan layaknya teman akrab seperti yang disarankan tadi. Namun dilain sisi aku merasa bahwa sebuah nama unik itu akan cepat membuat kami akrab dan saling share pengalaman. Namanya unik, seunik orangnya…unik karena Ia cepat menginspirasiku dalam waktu sekejap, Ya… Mba Pel-pel.
Warung bakso yang cukup besar itu terlihat sudah lenggang oleh pembeli. Hanya tersisa kami bertiga yang asyik menyantap makanan berkuah itu. Beberapa orang pedagang masih terlihat disana, sekedar memeriksa lapak mereka sebelum ditinggal pergi. Begitu seorang penjual bakso yang kami sntap mendekat dan memberi tahukan bahwa warung akan segera tutp, aku mencoba mempercepat makanku. Seharusnya ini tidak terjadi karena aku masih asyik menyimak pembicaraan Mba Pel-pel tentang warta perjuangan Kampusku, Unair.
Kami pun hijrah. Kaki kami berdua menyusuri trotoar jalan yang lenggang dan bersih. Namun pembicaraan kami masih semenarik tadi. Oh, ternyata wanita cantik ini adalah kakak angkatanku dikampus Unair. Sudah, nyambunglah pembicaraan kami itu. Kaki kami melangkah melewati beberapa pedagang yang mangkal dipinggiran jalan, lebih etis kusebut seperti itu dari paa kusebutkan bahwa sebenarnya itu aalah trotoar tempat untuk kami melintas. Sudahlah, aku tidak ingin memperpanjang yang satu ini.
AW, cafe itu menjadi tempat diskusi kami selanjutnya. Disana kami pun masih asyik membicarakan tentang bagaimana dunia pers sekarang dan seberapa keji atau berpengaruhnya pers itu di Indonesia. Mataku lebih sering menatap gerakan tangan Mba Pel-pel yang energik. Wanita berkaca mata itu cukup menyamarkan usianya dengan semua pembicaraan yang kami lakukan, Ia selalu tau apa yang menjadi kebiasaan anak muda. Dan itu great.
“Sebuah media itu sangat-sangat berpengaruh di Indonesia ini. Coba kamu bayangkan, ketika terjadi sebuah kecelakaan lalu lintas, ada banyak media yang memberitakannya. Lalu apakah kamu akan menemukan berita-berita dibanyak media itu dengan keberagaman isi, tentu tidak. Mungkin media A menonjolkan bagian public areanya, dan media B lebih menonjolkan efeknya. Contoh, A memberitakan atau mengkritisi tentang sebab terjadinya kecelakaan itu sedang B membicarakan tentang angka kecelakaan yg terrus meningkat, sudah..terjadi sangat banyak keberagaman isi. Dan dari situ pula menjadi jelas bahwa mau bagaimana dunia ini ditentukan oleh bagaimana seorang jurnalis itu dalam bersikap.” Sejauh yang Beliau Katakan, aku hanya mengambil intisarinya, ini pernyataannya yang kukutip menurut bahasaku.
Pembicaraan kami panjang dan luas, aku jadi tau bahwa sebuah media itu bukan hanya memberitakan. Namun juga bisa menjadi penggangkat atau penghancur. Tinggal bagaimana identitas sebuah media itu menjiwai media itu sendiri.
Ditangah asyiknya kami berbincang, adzan maghrib berkumandang. Selanjutnya kami bergerak menuju sebuah masjid besar bernama masji Syuhada. Sedetik menunggu beliau selesai aku membatin, semua perkataan Mba Pel-pel yang tidak mungkin kutuliskan dilembaran ini sunggh bisa jadi pedomanku dalam melangkah. Tiba-tiba wanita supel itu mendekatiku.
“Kamu harus bersyukur, menjadi generasi kritis yang berasal atau punya background pesantren… saya suka orang-orang seperti kamu. Namun ingatlah, arus aliran-aliran keras itu sangat kencang disini, dan salah satu sasarannya itu orang-orang seperti kamu ini, kamu harus kuat dengan komitmen dan idealisme yang kamu tanam sejak dulu, percaya sama apa yang orang tua kita tanamkan, kalau bukan kepada orang tua lalu kepada siapa.” Beliau mengakhiri kata-katanya dengan senyuman tulus.
“Makasih banyak ya, mba, semuanya sangat menginspirasi saya. Semoga kita bisa saling share lagi.” Aku membalas senyum tulusnya.
Ketika itu kaki kami melangkah dalam jalur yang berbeda. Ya kami akan pulang kerumah masing-masing. Satu perkataan Mba Pel-pel yang sangat kupikirkan adalah,
“Sekarang mau jadi jurnalis yang seperti apa kamu ini.”
Cukup simpel kan, singkat kata jurnalisme itu alat berkembangnya negeri ini. Bahkan dunia pun bisa mati dengan seketika ketika sebuah pers mulai menunjukan aksinya. Ancaman-ancama seorang jurnalis tentu tidak sesederhana yang kupikirkan saat ini ataupun dulu. Tentu saja, tapi aku sndiri belum mengetahui jelasnya. Yang terpentin, ucapan Mba Pel-pel juga ikut menyentil pribadiku. “Mau jadi jurnalis yang seperti apa ?”
Atau…..”Mau jadi orang yang seperti apa ?”

Facebook Comments

Leave a Reply



No Comments »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>