Santri Pekalongan Ujung Pena

Yessing Your Yea

Mahasiswa KKN-BBM Ke-55 Universitas Airlangga diSambut Baik Perangkat Kecamatan Baureno dalam Upacara Penyambutan

Filed under: Uncategorized — haffata at 2:17 pm on Selasa, Januari 17, 2017

KKN¬_BBM-Bojonegoro, Ratusan mahasiswa Universitas Airlangga dari berbagai program studi disambut baik oleh pejabat pemerintahan di Kecamatan Baureno Kabupaten Bojonegoro. Para mahasiswa yang akan melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Nyata-Belajar Bersama Masyarakat (KKN-BBM) ini terlihat ramai memadati pendopo Angklingdarmo tepat pukul 11.00 pada Selasa (17/01).

Di pendopo yang terletak tepat ditengah-tengah bangunan kantor kecamatan tersebut, simbolisasi dan serah terima mahasiswa KKN-BBM Universitas Airlangga dilakukan melalui Koodinator Kecamatan, Pak Heru Purnomo, dan Pak Husnan selaku perwakilan dari Kecamatan Baureno. Dalam seremoni pembukaan tersebut, Pak Husnan mengungkapkan sambutan baik seluruh pihaknya untuk mendukung suksesnya agenda KKN-BBM yang pada tahun sebelumnya pernah dilaksanakan di Kecamatan Baureno.

Pada kegiatan KKN-BBM yang dilaksanakan Universitas Airlangga tahun ini, kecamatan Baureno menerima peserta KKN-BBM yang kemudian disebar ke 15 desa dari total 25 desa di Kecamatan Baureno. Ke-15 desa tersebut antara lain Kelurahan Baureno, Banjaran, Trojalu, Selorejo, Tulungagung, Tlogoagung, Sumuragung, Gajah, Kalisari, Tanggungan, Lebaksari, Banaran, Kadungrejo, Pucangarum, dan Bumiayu. Walaupun jaraknya tidak berjauhan satu dengan yang lainnya, perangkat kecamatan telah mengkonsep dengan seksama agar pembagian tersebut dapat merata walaupun tidak semua kelurahan mendapatkan jatah.

Masih dalam kesempatan yang sama, Pak Husnan mengungkapkan harapan dari kegiatan KKN-BBM Universitas Airlangga yaitu upaya optimalisasi webdesa.

“Dalam dewasa ini, Kabupaten Bojonegoro terpilih menjadi satu-satunya desa ramah HAM di Provinsi Jawa Timur, dan berangkat mewakili Indonesia dalam festival HAM di Prancis. Sehingga semua pembangunan dilakukan menyeluruh hingga ke desa. Program web desa ini telah dirintis, namun optimalisasinya masih memerlukan bimbingan. Harapannya, adik-adik mahasiswa dapat berperan sebagai tenaga pembimbing untuk mengoptimalkan konten web desa tersebut.” Ungkap Pak Husnan.

Namun dalam tempo yang berlainan, Pak Moh. Kholil selaku Kasi Kesra Kecamatan Baureno mengungkapkan output dari KKN-BBM yang telah disepakati bersama yaitu budidaya tanam kelengkeng.

“Jika merujuk pada pertemuan sebelumnya dengan Pak Rektor Universitas Airlangga, yang dijadikan tema pada KKN tahun ini adalah optimalisasi tanam kelengkeng di tiap-tiap desa. Namun jika mahasiswa ingin membuat proker terkait optimalisasi web desa tentu akan kami dukung.” Imbuhnya.

Walaupun ada dua pandangan tentang output yang diharapkan bersama melalui kegiatan KKN-BBM ini, namun pihak pemerintahan Kecamatan tetap mendukung dan merespon baik kegiatan KKN-BBM dari Universitas Airlangga ini.
(WH)

Tentang Seseorang yang Meminta Mati dalam Hujan

Filed under: Uncategorized — haffata at 3:55 am on Minggu, Desember 11, 2016

Aku masih memandanginya dalam diam, sejanak dahiku ikut berkerut melihat tingkah lakunya yang berubah sangat drastis begitu hujan diakhir Desember ini mengguyur jalan sepi rumah sakit Soetomo. Berkali-kali nama-nama filosof Yunani terlintas dibenakku, itu mata kuliah tadi siang yang sangat rumit dan aku harus cepat menghafalnya untuk ujian pengantar sejarah eropa klasik lusa. Namun sikapnya begitu membuatku ikut rumit hingga melupakan Herodous, Aristoteles, ataupun Homerus dengan segala teorinya. Buku yang tengah kubaca hanya ikut terdiam pasrahdiatas pahaku. Mungkin dia cemburu karena pandangan dan perhatianku sempurna tertuju padanya, seseorang itu.

“Aku tau kamu rumit, Fa. Tapi harusnya kamu bisa menunjukan semangat itu didepan mataku, sama seperti semangat yang kamu tunjukan didepan keluargamu karena segala musibah ini.” Pelan-pelan kumulai percakapan yang sendu itu. Duduk disampingnya dengan posisi canggung seperti ini rasanya yang sulit dideskripsikan, yang jelas aku sudah tidak tau bagaimana buku sejarah eropa klasikku.

“Kamu tau, hujan bahkan lebih mengerti aku dibandingkan kamu, Ta.” Dia meliriku dan memegang ujung jaketku, mungkin ia berniat memastikannya basah atau tidak. Lalu ia kembali menarik tangannya dan melipanya didada.

“Ketika harusnya kamu menyemangati Mama kamu untuk terus mempertahankan hidupnya, enggak sepantasnya kamu malah berkeinginan untuk mati.”

“Kamu tau, tulisan-tulisan kamu di blog, status kamu di media sosial tentang keinginanmu mempercepat masa akhir hidup ini terdengar konyol. Bahkan di telingaku pun.” Aku masih memberondongnya dengan pertanyaan dan penghakiman ini itu.

Dia hanya menggeleng. Dalam sejenak pandangan kami menampar permukaan aspal yang diguyur hujan lebat. Jalanan didepan tempat parkir itu terlihat lenggang oleh pengendara motor, namun orang-orang bermobil masih berambisi membelai jalanan penuh air dari langit. Diseberang jalan terlihat cukup samar orang-orang melipat tangannya kedada, halte tempat mereka berlindung dari hujan agaknya tak cukup membuat mereka hangat dari serangan air yang menghujan deras itu. Iya, cuaca memang dingin bahkan mencekam.

Sementara kami masih duduk terdiam dipinggir parkiran ditemani seorang juru parkir yang sibuk dengan buku TTSnya yang lusuh. Arah kiri dan agak jauh dari tempat kami diam, terlihat para tukang becak meringkuk di dalam becaknya masing-masing. Aku menarik nafas dalam-dalam.

“Ayo kita kembali ke bangsal Melati, kita temani mama kamu di ruang opname. Aku merasa itu lebih berguna tinimbang menyalahkan dirimu sendiri.” Kutarik tangannya dengan gerakan lambat, namun sepotong tangan itu justru menahamku dengan keras. Tanpa melihat ke arahku, dia masih tetap dengan pendiriannya, aku sangat yakin dengan hal itu. Karena semuanya tergambar jelas digaris-garis wajahnya yang kokoh.

“Tunggu saja disini, aku masih merindukan hujan…”Suaranya terdengar parau ketika mengucapkan kalimat yang bagiku terkesan menggantung itu. Tangannya yang masih kuat menahanku, dalam posisi yang seperti ini aku lebih memilih untuk melepaskannya saja. Bersitegang dengan laki-laki gila ini justru membuatku hampir gila setengah mati. Aku juga kadang bingung mengapa masih selalu merasakan kenyamanan di dekatnya, dengan sejuta pola pikirnya yang abnormal. Apa lagi ini, dia baru saja bilang bahwa dia merindukan hujan.

“Oke lah kita berdamai, jadi apa masalahmu dengan hujan ?” Aku masih berambisi membuatnya terbuka seperti biasanya. Namun dia masih dalam sikapnya dan diam dengan posisi berjongkok. Aku pernah belajar dari beberapa lembar buku psikologi, setidaknya aku harus memposisikan diriku berada seperti dirinya agar dia merasa nyaman berbicara dengan ku. Oke, aku ikut berjongkok walaupun kemungkinan cipratan air hujan itu akan mengotori baju kuliahku.

“Raffa, kurasa kamu lupa kalo aku paling gak suka ada pertanyaanku yang enggak dijawab.” Kini aku menunduk pasrah.

Tanpa berkata apapun dia menarikku untuk berdiri lalu menuntunku untuk keluar dari tempat parkir yang cukup bisa melindungi kami dari hujan. Tetesan air itu dengan sigap menyergap tubuh kami yang berdiri pasrah tanpa pelindung. Mataku yang menyipit agar tidak terhujam oleh air hujan itu masih memperhatikan tingkah lakunya yang sangat aneh.

“Raff, basah….. kamu mau apa-apaan ini ?” Sekujur badanku sudah kuyup, begitu pula dengannya. Butir-butir air ini memang besar-besar dan menyakiti permukaan muka dan tanganku.

“Pernah gak kamu dikejar hujan, Ta ?” Ia bertannya dan menatapku dalam-dalam.

“Hujan itu melingkupi kita, gak mungkin lah hujan ngejar kita.”

Tanpa melayani lagi ucapanku dia mengajakku untuk berlari bebas, tangannya menggenggam erat jemariku, dan dalam beberapa saat kaki kami menjelajah aspal basah yang sepi.

“Lihat kebelakang, Ta…..awas hujannya hampir dekat !” Teriaknya cukup lantang.

Aku menuruti kata-katanya dan menengok kebelakang, hujan itu sangat dekat dan berambisi mengejar kami yang masih berlari.

“Lihat kesamping, hujannya juga ngejar kita dari sana !” Ia semakin membuatku tergesa dan sangat khawatir begitu menyadari hujan itu terlihat benar-benar mengejar kami. Entah mengapa, dalam setiap aku memandang, hujan itu memang terlihat mengejar kemanapun aku melangkah.

Setelah beberapa saat kami berlari, dia menuntunku untuk menuju pinggir toko di ujung jalan. Namun percuma saja karena baju yang kami kenakan sudah sepenuhnya basah oleh air hujan. Sejenak kami bertatapan dan diam.

“Ini tentang makhluk bernama waktu yang sama seperti hujan.” Dia mulai angkat bicara.

“Setiap orang tidak sadar bahwa ia dikejar hujan, sama seperti lalainya orang-orang akan kenikmatan dunia hingga ia lupa dikejar waktu. Aku hanya merasa terpuruk saat ini, ketika melihat orang yang rela menghabiskan sisa waktunya untuk kehidupanku sedang tergeletak pasrah ditempat itu” Dia masih melanjutkan perkataannya sembari menunjuk bangunan rumah sakit.

“Jika memang yang kamu bilang kalo hujan itu melingkupi kita, maka waktu juga melingkupi kita, kita bahkan lebih tidak bisa lepas dari waktu dari pada hujan, Ta. Dan semua tetesan air itu menyadarkanku bahwa dunia ini menjijikan.” Ia benar-benar menguasai pembicaraan saat itu, sementara aku masih diam.

“Mungkin bagi kamu yang masih senang dengan piala lomba debat atau majalah yang kamu garap, dunia ini terlihat seperti jalanan panjang yang berliku dan menantang untuk dijelajahi, itu juga dulu yang kurasakan. Namun sekarang dengan piala basket atau kejuaraan jambore pun aku masih merasakan bahwa dunia ini sangat jelek dan buruk, hingga membuat setiap orang yang tadinya baik menjadi haus akan kekuasaan semu.”

“Ada sanggahan ?” Ia meliriku yang dalam posisi melipat tangannya ke dada dan memperhatikan tetesan air yang membentuk genangan.

“Meta, lihat mereka.” Jemarinya menunjuk dua orang anak kecil didekat kami yang bertelanjang dada dan berjongkok kedinginan. Sejenak mataku hangat oleh air bening yang keluar dari mataku.

“Menurutmu, gimana dengan mereka ?” Dia terus melanjutkan kata-katanya.

“Apakah suatu keadilan jika mereka mendapatkan semua yang mereka rasakan sekarang, mereka cuma anak kecil yang harusnya dihangatkan oleh ibu mereka dalam kondisi seperti ini, bukan kelayapan dan kedinginan mencari uang sendiri, inilah maksudku bahwa saat ini tercipta anggapan bahwa dunia ini kejam, Ta.”

“Jadi kita semua harus mati, itu maksud keinginan kamu ?” Kubalas tatapannya yang mulai mencair.

“Bukan dunia ini yang salah, kamu ingat hukum Murphy… bahwa apa yang terjadi maka terjadilah, sama seperti kekuasaan Tuhan yang tertera dalam kitab suci kan, dunia ini hanya menjalankan kerjanya, manusia yang harusnya membuat dunia ini terlihat seperti tempat singgah yang menyenangkan, agar tidak tercipta paradigma bahwa dunia ini kejam, atau dunia inilah yang mengubah manusia menjadi tidak baik atau jahat.”

“Jadi kesimpulannya ?” Kutatap matanya dalam-dalam

“Kesimpulannya, aku sayang kamu.” Dia menggengam erat tanganku dan menuntunku untuk kembali menembus hujan. Namun kali ini, kami ingin berjalan tenang tidak peduli hujan mengejar atau melampaui kami. Karena dipungkiri atau tidak, seringkali kita cukup membiarkan waktu untuk sekedar memahami ketika kita merasakan kehangatan dalam hujan.

Dear My Love

Filed under: Uncategorized — haffata at 3:08 am on Minggu, November 20, 2016


Jalanan Gubeng memang sering banjir jika hujan tiba, kadang aku tidak menyenangi ini. Namun lagi-lagi rasa tidak sukaku akan melebur ketika aku mengingatmu, yang selalu berucap bahwa hujan adalah anugrah, lalu kamu pun menyadarkanku bahwa genangan air itu dapat membahagiakan untuk yang kesekian kalinya sejak masa kecilku terampas rotasi waktu yang begitu cepat. Benar katamu, genangan air di akhir November ini benar-benar menyenangkan, setidaknya untukku yang tidak bisa memungkiri bahwa sampai saat ini aku masih menyenangi mainan water splash ala anak-anak labil.

Untuk menuju ke rumah sakit tampatku praktek pagi hingga sore nanti, setidaknya aku harus melewati banjir dan sebuah perjalanan yang cukup panjang. Biasanya perjalanan itu kulalui dengan menghafalkan rumus-rumus penting tentang nama-nama penyakit. Namun untuk pagi ini aku cukup ingin mengingat namamu saja. Nama yang selalu kuingat ketika hujan melebur bersama kenangan dan berbias dengan siluet-siluet tubuh manusia. Ya,itu memang tidak penting dan tidak adil. Bagaimana mungkin aku selalu mudah mengingat namamu jika kamu saja selalu mudah melupakan namaku. Alasan yang memang rasional setiap kali aku menanyakan sebab dari segala perilakumu terhadapku. “hanya untuk mengingat namamu saja itu tidak penting, yang terpenting saat ini adalah aku ingin berkembang agar bisa membahagiakanmu sekalipun harus mengabaikanmu dulu” jawaban panjang yang masih selalu kuingat. Mengabaikan, iya, itu sudah sangat lazim dan akrab dengan mu.

Kakiku masih melangkah diatas jalan batako rapi yang tidak digenangi air hujan. Tepat dari tempatku melangkah, pemandangan pasar yang ramai langsung terlihat jelas. Namun yang menarik perhatianku adalah tukang balon yang membawa puluhan balon berwarna warni diatas sepedanya.

“Kak, tunggu… saya bisa minta tolong?” Tiba-tiba sebuah suara berat menghentikan langkahku. Kubalikan badan lalu kudapati tubuh lelaki yang kisaran umurnya sama denganku. Kupandangi dia dengan tatapan aneh, bagaimana mungkin lelaki sebesar dia harus membawa balon berwarna pink ditangannya, sebanyak itu pula.

“Iya….”

“Bisakah kakak bawa satu balon ini, lalu berikan pada perempuan yang duduk diatas bangku warna merah itu. Iya, dia yang pakai baju warna putih tulang.” Kuambil satu benang yang mengikat balon yang ia sodorkan, lalu kucari gadis yang ia tujukan tadi. Memang benar ada seorang gadis yang duduk kebingungan didepan sana, wajahnya terlihat lucu ketika banyak anak dan orang lewat memberinya satu balon berwarna pink.

“Sudah lama dia minta balon, saya mensetting semua ini… tukang balon disampingnya pun sudah saya beritahu. Ini kejutan saya untuk dia, hari ini dia ulang tahun…” Ucap laki-laki yang berdiri disampingku dengan nada memohon.

“Kamu…. Melakukan hal sepele seperti ini….hanya karena dia ulang tahun ?” Terbata-bata aku menanggapi apa yang dia sampaikan sebelumnya.

“Iya, yang penting dia bahagia… saya pun bahagia, saya cinta dia..” Dia berlalu meninggalkanku yang masih terbengong mendapati hal sinetron seperti itu. Namun buru-buru aku tersadar bahwa aku pun harus segera pergi untuk menyerahkan balon berwarna pink ini, setidaknya aku harus berpartisipasi meramaikan juga.

Kuambil langkah tergesa, sesekali kuhindari genangan air yang kadang memenuhi bahu jalan yang sedang kulalui. Ketika aku berhenti di depannya, kuberikan balon pada perempuan itu. Wajahnya pun masih sama, bingung namun bahagia. Setelah kupastikan balon itu sudah dipegang erat, aku berlalu. Bukan untuk melanjutkan perjalananku, namun untuk mengambil tempat agar dapat memperhatikan surprise selanjutnya dari pasangan itu. Trotoar tempatku berdiri cukup nyaman buatku menjadi pengamat pagi ini.

Kuperhatikan laki-laki yang memintaku membawakan balon untuk pacarnya tadi datang dengan balon berbentuk alphabet. Dia tersenyum manis sekali menatap sang pacar yang kebingungan sambil memberikan satu persatu balon itu. Kueja pelan-pelan, H, A, P, P, Y, B, I, R, T, H, D, A, Y, M, Y, L, O, V, E. ah, itu benar-benar relationship goalsnya anak-anak muda. setelah itu barulah sebuah drama terjadi, sang perempuan langsung melonjak bahagia lalu berdiri dan memeluk erat sang pacar. Kegirangan mereka benar-benar menarik perhatian penghuni pasar yang ikut bersorak melihat drama tadi. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat sinetron nyata barusan, ada saja yang seperti itu ternyata. Kulanjutkan lagi langkahku dengan senyum yang mengambang. Tapi ada sedikit cemburu yang kurasakan menjalar di hati, ketika melihat usaha lelaki tadi untuk membahagiakan sang pacar di hari ulang tahunnya. Aku pun ingin seperti itu. Namun mungkin itu hanya akan sia-sia saja begitu menyadari bahwa laki-lakiku tidak mungkin bertindak drama atau anak kecil seperti itu.

Satu dua kali melangkah, kurasakan ada langkah lain yang bergerak sama disampingku, sebuah kaki jenjang dan kuat dengan balutan celana kain berwarna hitam. Kulirik dia lalu perlahan kudapati tubuh lelaki familiar itu tersenyum ramah. Kuhentikan langkahku ketika kusadari dia juga membawa balon berwarna pink. Hanya ada satu balon ditangannya, lalu ia menjulurkan benang yang ia pegang kepadaku.

“Ini bukan permintaan tolong dari saya untuk diberikan kepada perempuan lain, cukup saya berikan langsung kepada orang yang saya tuju.” Senyumnya masih ramah kuperhatikan. Di bahu jalan yang sedikit lenggang itu, percakapan kami tidak begitu diperhatikan oleh banyak orang yang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing.

“Ini, buat saya, Dok ?” Kuambil balon itu.

“Iya, itu buat pacar orang yang sedang berdiri disamping saya.” Dia menegaskan ucapannya.

“Dok…. Saya tidak harus menerima ini.” Kuberikan lagi balon yang sudah kupegang, begitu kusadari maksud dokter muda yang tampan itu.

“Jangan terburu-buru, pikirkan lagi saja. Saya pasti akan menyerah tanpa kamu minta jika alasan kamu mencintainya sudah jelas dan rasional.”

Tepat setelah Dokter Ardian mengucapkan kata-kata yang menohok dan membingungkan itu, aku langsung diam. Begitu pula dengan nya yang juga ikut diam. Berbeda denganku yang melangkah dengan kebingungan dan kekhawatiran, dia justru terus melangkah disampingku dengan tenang.

“Dok, perawat Melisa itu cantik kan….” Kuucapkan kata-kata aneh itu.

“Bagi saya sih biasa saja… menurut saya yang cantik itu kamu.” Jawabannya justru langsung mendiamkanku dalam detik berikutnya.

“Menurut kamu, apa saya tampan ?” Dia lalu menatapku dengan masih melangkah, senyuman yang menggetarkan banyak perempuan di rumah sakit itu pun masih menghiasi wajahnya.

“Iiya, dokter tampan.” Kujawab saja sekenanya, mungkin saat itu mukaku bersemu merah.

“Bagaimana mungkin kamu mencintai pacarmu jika kamu saja masih bisa menyatakan bahwa saya tampan.”
Aku terdiam mendengarkan pendapatnya.

“Kamu masih selalu ikut pembicaraan teman-teman saya di rumah sakit, pembicaraan aneh yang selalu bercerita tentang keunggulan saya. Kata mereka saya tampan, kamu setuju. Kata pasien saya seperti malaikat kamu juga tidak menolak, kata dokter Prayudi saya sangat cerdas kamu juga setuju, satpam bilang saya orang baik langsung kamu iyakan…. Apa kamu tidak seperti pacar bagi saya ? lalu bisakah kamu jadi pacar saya dan tinggalkan saja pacarmu yang entah kemana dan sedang apa di luar sana.”

Aku benar-benar hanya menelan ludah mendengarkan breakdownnya yang menghabisiku tanpa ampun. Segigih ini dia berharap aku putus dengan pacarku. Buruk sekali niatnya sekalipun aku tau dia ini memang orang baik. Dia mengoceh panjang lebar dan terus bertanya mengapa aku bisa mencintai laki-lakiku itu, lalu dia penasaran apa kelebihan yang dimiliki pacarku yang jauh disana, apa dia seorang dokter yang lebih pintar darinya, atau dia seorang anak konglomerat… pertanyaan-pertanyaan itu kudengarkan sambil berlalu saja.

Yang jadi pikiranku justru celotehan perawat-perawat di rumah sakit yang selalu menyindirku setiap mereka bisa melakukannya. Aku tau, rasa cinta Dokter Adrian memang bukan rahasia lagi, siapapun pekerja di rumah sakit pasti tau, bahkan jika itu pasien tetap dokter Adrian pun pasti akan tau gosip yang ternyata fakta itu.

“Perempuan yang disukai Dokter Adrian itu bodoh atau bagaimana, mungkin karena mahasiswa dia belum dewasa berpikir. Kurang apa coba, sudah tampan, mapan, pintar lagi, benar-benar menyesal seumur hidup jika dia menolak Dokter Adrian.” Ucapan pedas manis yang selalu kudengar seperti itu di satu versi. Atau di versi lain seperti ini,

“Kamu belum tau pacar kamu di luar sana itu setia atau tidak sama kamu, lebih baik dengan Adrian yang jelas-jelas suka dan bisa setia menemani kamu. Lalu selepas kamu lulus dari keperawatan, kalian bisa menikah dan berkerja di rumah sakit ini bersama.”

Atau versi yang lebih parah,

“Kamu itu buta atau gimana, sudah tau yang suka dokter Adrian banyak, masih sok jual mahal saja kamu. Memang kamu pikir kamu cantik.”

Pikiran-pikiran itulah yang menjadi fokusku walaupun celotehan dan pertanyaan dokter Adrian masih kudengar. Tanpa terasa perjalanan kami sampai di gerbang utama rumah sakit. Beberapa pasien yang ada di depan segera menyalami dokter Adrian. Kudengar ibu-ibu itu bercerita tentang perkembangan anaknya, atau soal keluhannya,bahkan beberapa ada yang secara terang-terangan memuji dokter Adrian yang gagah dengan jas dokter berwarna putih itu.

“Perawat ini calonnya dokter ? dia cantik…” Seorang ibu sepuh melirikku.

“Diaminkan saja ya, Bu. Semoga disemogakan…”Senyum Dokter Adrian membuat ibu-ibu itu semakin gemas menatapku.
“Dokter saya masuk dulu…..”Pamitku untuk melarikan diri.

Sepanjang melewati koridor untuk menuju ruangan perawat, aku kembali teringat soal laki-lakiku. Bahkan hanya ketika melihat air aku buru-buru bisa mengingatnya. Memang sebaiknya aku harus menerima dokter Adrian dari pada aku harus mempertahankan dia yang sudah bertekad mengabaikanku. Lagi pula terbentang jarak kadang memang menyulitkan.
Kulewati koridor yang ramai itu dengan gelisah dan lemas. Aku bingung dengan kondisi yang membuat dilemma seperti ini. Begitu aku masuk ke ruanganku untuk berganti pakaian tugas, kutatap payung berwarna hijau kepunyaanku. Bayangan masa lampau kembali terbayang, ditempat dimana dia harus menggigil kedinginan terkena air hujan yang deras hanya agar aku dapat terjaga di balik payung itu pada masa ketika kami diberi tugas dari pimpinan organisasi untuk melakukan survei pengabdian dipelosok desa. Bulir-bulir air matakumenggenang di pelupuk mengingat betapa kejadian itu menyadarkan ku bahwa rasa cintanya memang dalam. Dia bahkan harus dirawat di rumah sakit karena alergi dinginnya kambuh malam itu. Aku tau malam itu adalah saat-saat tersulit yang bisa kuingat. Bagiku payung itu berbicara banyak soal kami.

Kupalingkan wajahku dari payung dipojok ruangan agar aku bisa menetralisir perasaanku. Lalu mataku menangkap dokumen berbentuk kertas yang ada di dalam map warna putih bening. Bahkan laki-laki itu dulu yang sering membantuku ketika pembina organisasi menekanku agar surat-surat harus segera selesai. Dia, seorang ketua yang mau membantuku membuat surat-surat yang sangat sulit kuselesaikan sendiri. Laki-lakiku itu benar-benar pernah berjasa untukku dulu.

Kupalingkan wajahku dari dokumen yang ternyata juga mengingatkanku padanya. Tatapan mataku menembus hingga kelantai. Lalu satu-satunya yang kuperhatikan adalah sepatu warna putih yang kukenakan. Beberapa tahun yang lalu, kami pernah hampir mati di puncak gunung karena bekal yang hilang dan kondisi alam yang membahayakan pendaki, dia adalah orang yang terus menjagaku di atas ketika yang lain sedang berusaha mempertahankan hidupnya sendiri-sendiri. Tepat dimana kakiku kedinginan karena sepatuku hancur karena medan yang berat, dia mengorbankan kakinya telanjang hanya agar sepatunya bisa menghangatkan kakiku. Aku benar-benar mengingatnya, bahwa dia benar-benar hampir merelakan hidupnya hanya untuk kehidupanku. Betapa orang bodoh itu pernah hangat kepadaku.

Bulir-bulir itu terjun bebas dari kelopak mataku,mengingat bahwa perasaan yang sedang kupertaruhkan itu tidak nyatanya benar-benar sebuah pilihan yang haus kupertahankan. Ditengah gelombang perasaan yang teraduk-aduk pagi itu, suara handphone lah yang selanjutnya kudengar.
Sebuah pesan yang cukup panjang masuk, lalu berkata

“Dear my love, Selamat pagi, untuk hari ini aku merasa bahagia bisa mengucapkan salam itu. Di waktu-waktu lain ketika aku tidak bisa mengucapkannya, aku benar-benar merasa ingin mati. Bahkan ketika tidak bisa mengetahui kabarmu, aku merasa bahwa hidupku akan berakhir. Kamu hanya perlu memahami bahwa sayang dan cintaku bukan terletak pada stigma, presepsi, atau pandangan manusia lain. Itu semua ada dalam dirimu… bahkan ketika perasaanmu berpaling, aku bisa saja pergi untuk kamu bahagia. With a million love… Addin”

Beberapa detik setelah aku membaca pesan itu, semangat dan kekuatanku tumbuh kembali. Rasanya aku langsung memiliki kekuatan untuk segera mendatangi Dokter Ardian. Aku bukan lagi melangkah, namun aku berlari menuju ruangan dokter tampan itu.

Tanpa mengetuk pintu, kubuka pintu itu lebar-lebar lalu buru-buru masuk. Kudapati dokter Ardian sudah siap dibalik mejanya untuk menyapa pasien-pasiennya.

“Dokter, saya jawab sekarang saja…..”

Dokter Ardian yang kaget buru-buru berdiri namun tetap berada di tempatnya, wajahnya yang biasa santai kini tergambar sedikit tegang.

“Iya… akan saya dengarkan.”

“Untuk berbagai pertanyaan mengapa saya masih selalu mencintainya, tidak memiliki alasan rasional yang bisa diterima akal sehat. Saya memang bodoh jika harus menghentikan rasa cinta dokter kepada saya, namun saya tidak sepicik itu. Silakan mencintai saya jika dokter tidak bisa menghentikannya. Namun rasa cinta saya sudah tertarik semuanya kepada dia yang berada jauh disana. Bukan karena apa-apa, justru karena saya tidak memiliki alasan apapun lah yang membuat saya ingin bertahan untuk mencintainya. Dokter, seandainya dokter tau bagaimana rasanya menjadi saya yang harus mencintai orang itu secara tiba-tiba dan tanpa alasan… rasanya sungguh berat ketika hati kita tertambat pada satu orang tanpa alasan apapun. Saat ini dan saat itu, ataupun saat nanti… saya sedang dan akan terus merasakannya.”

Aneh, bukan gurat sedih yang kulihat diwajah Dokter Adrian, dia justru tersenyum.

“Lalu ?”

“Cinta ini bukan soal jarak ataupun alasan, saya lebih memposisikannya sebagai sebuah panggilan hidup yang melebur hati saya agar merasa berarti hidup di dunia ini. Saya mencintainya, hati saya pun… namun logika saya masih terus hidup untuk bisa menilai laki-laki lain yang tampan di luar sana. Hal itu bukan berarti saya sebodoh itu, tidak semua laki-laki yang saya anggap tampan, baik, pintar, ataupun mapan akan saya cintai seutuhnya. Dokter, bahkan jika saya harus berhenti mencintainya, hati saya tidak akan bisa berhenti untuk terus mengaguminya, dengan alasan yang mungkin tidak bisa dipahami oleh yang lainnya. Saya hanya mencintainya, itu saja.” Rasanya sangat malu aku berkata sedemikian keras dan panjang di depan orang pintar itu, kubalik badanku lalu buru-buru melangkah keluar.

“Arta….” Suara berat itu menghentikan langkahku.

“Saya berhenti sekarang, saya bilang saya sudah berhenti untuk mencintai kamu. Mulai sekarang, silakan bahagia…..” Ucapnya masih dengan senyum semanis malaikat dunia.

Bintang Kejora

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:44 am on Senin, Maret 21, 2016

“Kak, menurut kakak Bintang keluar dari mana?” Wajah polosnya memandangiku dengan tatapan tanpa maksud apapun, benar-benar lugu jika kugambarkan.
“Maksudnya…….” Aku tergagap namun terbiaskan oleh bingung dengan arah pembicaraan anak laki-laki usia kelas satu SD itu.
“Bintang, Bintang kadang bingung siapa orang tua Bintang. Teman-teman di sekolah bangga mengatakan mereka anak ibu mereka karena mereka benar-benar punya ibu. Sedangkan Bintang bingung, sebenarnya Bintang keluar darimana… Bintang kan enggak punya ibu seperti teman-teman. Apa bisa seorang anak lahir dari selain ibu ?”
Dalam beberapa detik kemudian aku hanya diam terpaku memandangi wajah polosnya, ucapan yang seharusnya hanya dikeluarkan oleh anak-anak yang setidaknya ramaja dapat dengan mudah ia katakan. Mulut kecilnya itu pun seolah tanpa beban ketika melontarkan kata-kata yang segera meringusku itu.
“Kita bicara di sana ya, Bintang. Tapi rapikan dulu buku-buku pelajarannya.” Jemariku menunjuk tanah lapang yang ditumbuhi rumput hijau dengan beberapa pohon mangga yang tumbuh di beberapa sisinya.
Secepat kilat tangan kecil Bintang membereskan buku-buku pelajaran yang kami gunakan belajar tadi, sementara itu otakku berpikir keras dengan cara apa kujelaskan perihal orang tua. Pertanyaan kecil itu sebenarnya berarti sangat besar bagiku. Kemampuanku untuk berkomunikasi benar-benar akan diuji saat ini. Entah menggunakan teori komunikasi atau menggunakan pendekatan psikologi atau tidak, yang paling pasti Bintang tidak boleh tersinggung dengan apa yang akan kujawab nanti.
“Teman-teman bicara soal orang tua di sekolah ?” Begitu kami mendapat posisi duduk yang enak langsung kutanya ia dengan hati-hati. Pandangan kami bebas menerawang gedung-gedung yang berdiri menjulang namun tampak seperti potongan-potongan puzzle kecil dari tempat kami duduk. Keringatku menetes sekalipun angin sepoy bertiup membuat sejuk suasana.
Bintang hanya menggeleng.
“Lalu kenapa Bintang tanya, apa Bintang terganggu soal itu ?” Nada bicaraku benar-benar hati-hati.
“Bintang cuma mau tau, Kak. Sekalipun orang tua Bintang enggak mau ketemu Bintang, Bintang cuma mau tau. Biar Bintang bilang ke teman-teman kalau Bintang juga punya ayah sama ibu.” Tanpa memandangku Bintang menjawabnya dengan cukup keras, namun dapat kulihat ada air mata menetes dari sudut matanya. Bintang menangis.
Tanpa terasa pipiku pun telah dihiasi oleh bulir bulir air bening yang menetes dari mataku. Namun aku harus menahan diriku agar tidak terisak. Bagaimana mungkin aku ingin Bintang kuat namun aku sendiri sudah terpuruk. Kuhapus air mataku dalam beberapa saat. Kurengkuh badannya yang kecil. Kubiaran dia terisak di dalam pelukanku. Badannya memang tidak terlalu kurus, namun seharusnya ia dapat lebih terawat jika mempunyai orang tua sebagaimana mestinya.
“Bintang, kan Bintang punya kakak…. Kenapa harus cari yang lain. Bintang bilang senang belajar bareng kakak. Bintang bilang gembira diajak jalan-jalan sama Kak Raya.” Suaraku masih harus memecah isakan tangis Bintang.
“Bintang rindu sama ibu…. Ingin ketemu sama ayah juga. Bintang enggak akan minta uang, Kak. Bintang juga enggak akan minta mainan. Ibu atau ayah jemput Bintang sama-sama aja.” Kubiarkan ia berkeluh kesah sesukanya.
“Emang bahagia harus sama orang tua?”
“Bintang memang bahagia sama yang lain, tapi Bintang juga mau punya ayah dan ibu.” Dia dapat menjawab pertanyaanku dengan baik.
Kubelai kepalanya yang tersungkur dipangkuanku, kutatap langit yang benar-benar cerah menampakkan lukisan tuhan berwarna biru yang sangat indah itu. Tentang konsep bahagia yang barusan kutanyakan, aku memang setuju dengan Bintang. Bahagia memang tidak selamanya dengan orang tua, tapi jika itu orang tua, sesakit apapun akan terasa bahagia.
Selama 15 menit kubiarkan Bintang tetap dalam posisinya, dan sesaat kemudian isakannya mulai mereda. Mungkin sebentar lagi tangisannya akan berhenti. Tinggal ini waktuku untuk mengiming-imingi sesuatu agar tangisannya benar-benar berhenti. Karena aku benar-benar belum siap menjawab pertanyaannya dengan jawaban yang benar, kukatakan bahwa lidahku masih kelu untuk mengatakannya.
“Eh Bintang dengar deh, kakak kan punya satu ibu, tapi ibu kakak baik banget. Sama kaya Bintang, ibu kakak jauh dari sini dan jarang ketemu kakak. Kalo Bintang mau, biar ibu kakak jadi ibunya Bintang juga, gimana ?” kubuat nadaku seceria mungkin.
“Emang bisa ya, kak ?” Kini Bintang menghentikan tangisannya dan menatapku heran.
“Bisa lah…. Beast kan akhirnya jadi pangeran ganteng lagi juga karena dia baik kan. Bintang kan anak baik, pasti bisa lah.” Kuingatkan ia pada salah satu part dalam dongeng beauty and the beast.
“Yaudah Bintang mau.” Kulihat matanya berbinar-binar dan mulai terbesit senyum lebar dibibirnya, lesung pipit nya pun kini terlihat dengan jelas.
“Okee…. Jadi nanti kalo ada yang tanya soal ibu atau ayah, Bintang bilang aja… ada, tapi mereka ada di tempat yang jauh dari sini. Sama kaya teman-teman, sebenarnya ayah dan ibu Bintang juga dekat sama Bintang, mereka ada disini….” Kusentuh dadanya dengan tulus.
“Kenapa disini, kak ?” Dengan polosnya ia bertanya lagi, kali ini sambil menunjuk dadanya yang tadi kusentuh.
“Disini kan ada hati, setiap ayah dan ibu pasti ada disini, Bintang.”
Kini kulihat ia mengangguk-angguk seolah sangat paham dengan apa yang kukatakan.
Tiba-tiba kudengar suara langkah mendekat. Bersamaan dengan Bintang, kepalaku menengok menuju sumber suara. Ah, ternyata Pak Ihsan.
“Bintang, belum makan kan…. Itu teman-teman sedang makan, sana Bintang ikut.” Rayu Pak Ihsan yang langsung disambut anggukan semangat oleh Bintang. Kemudian ia menyalamiku dan berlari menuju dapur panti.
“Ada yang mau dibicarakan, Mba ? saya sudah dengar semuanya tadi.” Pembina panti asuhan Asbabul Kahfi tersebut terlihat sangat ramah di mataku, sangat jauh dari aksen jahat dan kejam pengurus panti asuhan yang sering terlintas di benakku, pembina yang satu ini benar-benar sangat baik.
“Mari ke pendopo, Mba.”
Kami pun berjalan beriringan ke arah pendopo di sisi utara kompleks panti asuhan yang cukup lebar ini. Disana mataku dapat dimanjakan oleh ikan mas dan koi yang berenang dengan gemulai di kolam yang melingkar dibawah pendopo tempat kami berbicang. Pak Ihsan bukan hanya penyayang anak-anak, beliau juga sangat menyayangi binatang. Hal ini terbukti dari pengamatanku selama membantu mengajar di panti asuhan ini selama hampir satu tahun, ada banyak jenis binatang seperti burung, kucing, bahkan bunglon menghiasi kandang-kandang di taman di dalam kompleks panti.
“Untuk hari ini saya minta maaf ya, Pak, karena hanya saya yang bisa mengajar. Yang lain sedang ada persiapan acara bina desa liburan nanti, jadi kita bagi tugas.”
“Hahaha, iya mba tidak apa-apa… saya sudah sangat senang bisa dibantu oleh teman-teman mahasiswa. Anak-anak pun suka bertemu dengan kakak-kakak katanya. Apalagi dengan Kak Ata yang paling sabar.”
Aku tersipu mendengar pujian Pak Ihsan untukku, beliau benar-benar pandai menyenangkan hati orang.
“Saya selalu terinspirasi sama kebaikan bapak, bapak benar-benar baik untuk menampung adik-adik saya itu, mensekolahkan mereka, memberi makan. Semoga balasan dari Allah berlipat buat bapak.” Doaku tulus untuk beliau. Beliau pun mengamini dengan khidmat doaku tadi.
“Kebaikan itu kan pilihan, Mba. Kita sudah diberi hati nurani yang pasti baik. Tinggal pilihan kita mau menggunakannya untuk kebaikan atau kebathilan. Monggo diminum air tehnya.” Pak Ihsan mempersilakan aku untuk meminum air hangat yang di bawa Ainur tadi, salah satu murid ajarku yang sekarang kelas 6 SD.
“Pak boleh saya tanya ?”
“Iya….”
“Soal panti, apa bapak benar tidak kesulitan soal pendanaannya ?” memang cukup tidak sopan kutanyakan, namun aku benar-benar tertarik untuk mengetahuinya.
“Kenapa bertanya ?”
“Saya, kalau bisa saya juga ingin buat panti asuhan seperti bapak. Tapi saya sadar, saya bukan orang kaya, Pak.”
“Hahaha, rezeki kok dipikir, Mba. Perhitungan manusia itu berbeda dengan perhitungan Allah. Jangan khawatir lah soal materi. Rasul saja nekat berdakwah tanpa materi, namun kuasa Allah, Beliau bertemu dengan sayyidah Khadijah yang bergelimang materi kan.”
“Tapi, Pak, saya hanya merasionalkan kehidupan saja. Seorang guru tidak akan mampu mengajar dengan baik jika ia tidak punya kemampuan mengajar kan pak.”
“Memang benar, tapi bukankah kemampuan itu soal kebiasaan. Jadi biasakan saja untuk menerima takdir Allah, yang besar atau pun yang kecil. Jadi ketika bertemu nikmat yang kecil hati kita tidak kufur tapi yang timbul rasa syukur, begitu pula ketika diberi nikmat yang banyak, kita tidak jadi kafir bukan malah kikir.”
Aku tersenyum dengan binar kagum dengan orang tua di depanku itu.
“Sebenarnya saya hanya diberi titipan oleh Allah, Mba. Istri saya itu punya orang tua berada. Dan dia anak tunggal. Istilahnya mertua saya yang menopang semua ini mba. Kami sepakat menggunakan uang warisan untuk membuat panti asuhan. Alhamdulilah usaha kami diberi kelancaran. Terlebih kami belum diberi amanat untuk menimang anak.” Cerita lelaki yang kisaran usianya hampir 50 tahun tersebut.
Jadi benar apa yang dikatakan oleh Mas Raya bahwa sumber pendanaan panti ini awalnya dari uang warisan. Tapi benar-benar mulia niat Pak Ihsan dan istrinya ini.
“Oh ya Pak, soal anak-anak panti termasuk Bintang, sebenarnya orang tua mereka sudah meninggal atau bagaimana, Pak ?”
“Background anak-anak disini semuanya hampir sama, Mba. Mereka anak-anak terbuang dari orang tuanya. Ada yang yatim piatu dan karena suatu masalah kerabatnya tidak mau mengurus, ada juga yang anak hilang, korban kejahatan, ada juga yang anak dibuang karena hasil di luar nikah. Dan Bintang itu termasuk yang terakhir.”
“Jadi……..”
“Orang tuanya tidak mengharapkan adanya dia. Waktu itu sekitar tahun 2009, panti ini baru dua tahun didirikan. Kalau bisa saya hitung hanya ada sekitar 5 anak yang kami asuh. Saat itu saya masih berdinas di kepolisian dan saya dapat tugas melakukan penyergapan dan razia di rumah-rumah aborsi. Dalam razia waktu itu ibunya Bintang termasuk salah satu yang kami bawa ke kantor. Kebetulan saya pula yang bertugas mewawancarai ibu muda itu. Dari hasil wawancara saya tau kalau dia itu berasal dari keluarga tidak mampu dan ditinggalkan pacarnya setelah dihamili. Dia berniat melaukan aborsi terhadap kandungannya yang sudah 8 bulan. Setelah mendengar ceritanya saya menjadi benar-benar tidak tega. Perempuan itu seusia dengan adik perempuan saya. Akhirnya saya motivasi dia untuk mau melahirkan anaknya, saya iming-imingi biaya persalinan dan tanggung jawab untuk merawat anaknya sampai nanti. Asalkan tidak digugurkan, akhirnya dia mau dan jadilah Bintang disini sampai sekarang ini.” Kulihat mata Pak Ihsan berkaca-kaca ketika menceritakan catatan pahit itu.
“Tapi…. Apa enggak apa-apa pak, menyimpan catatan kehidupan Bintang seperti itu ? saya pikir dia benar-benar butuh tau hal tersebut.”
“Saya punya sistem dan konsep, dia masih sangat kecil. Kelak jika nalarnya sudah mampu memahami kondisi yang seperti ini saya pasti akan ceritakan.”
Aku pun hanya mengangguk dan setuju dengan apa yang dijabarkan Pak Ihsan.
“Saya benci dengan ibunya Bintang dan orang tua-orang tua yang menelantarkan anaknya seperti itu.” Ucapku lepas.
“Saya lebih benci, Mba Ata. Terlebih saya ini tidak diberi amanat untuk menimang anak. Bagaimana mereka yang diberi kenikmatan indah itu malah menyia-nyiakan nikmat yang agung itu. Tapi apakah kita akan membiarkan hati kita dirasuki setan untuk menghujat makhluk tuhan yang lain. Toh, apa yang terjadi pada mereka termasuk takdir tuhan atas mereka juga. Saya ini masih banyak dosa, jadi saya sadar saya tidak berani menghujat mereka. Bisa jadi malah saya dapat melakukan hal yang lebih biadab dari apa yang mereka lakukan.”
“Tapi pak, lihat sekarang…. Anak-anak itu, Bintang justru kesakitan tanpa orang tua. Dan mungkin saja orang tuanya sedang bersenang-senang di luar sana. Atau bahkan dia sengaja melupakan Bintang. Seharusnya tidak seperti ini pak…….” Aku menggeleng kecewa.
“Saya memahami apa yang Mba Ata rasakan. Saya juga sering disergap pikiran semacam itu.”
“Mba Ata, lahir atau dilahirkan itu bukan pilihan kita. Termasuk untuk memilih orang tua mana yang akan merawat kita, ibu mana yang akan melahirkan kita, kesenangan mana yang akan kita dapatkan. Itu semua murni takdir ilahi. Yang jelas, setelah kita lahir kewajiban kita menjadi pribadi yang baik dengan cara yang baik pula. Kita semua ada dengan kesucian yang sama. Lalu, tinggal dalam menjalani kehidupan kita harus menentuan apakah kesucian itu akan kita jaga atau tidak.”
“Selagi saya masih bisa merasakan nafas, insya Allah kasih sayang anak-anak panti ini tidak akan hilang. Tapi saya minta tolong, bantu saya berbagi kasih sayang juga.”
Aku mengangguk pasti dengan air mata yang masih meleleh mendengar apa yang diungkapkan Pak Ihsan.
“Saya, saya janji pak, akan berbagi kasih sayang dengan siapapun itu yang membutuhkan, saya akan berusaha sekuat yang saya bisa agar mereka lupa soal dari siapa cinta itu mereka terima. Yang jelas mereka penuh akan kasih sayang dan cinta.”
Kulihat Pak Ihsan berbinar-binar dan mengangguk bangga.
“Orang tua Mba Ata harus bangga mempunyai putri seperti Mba Ata, terima kasih sudah ada disini, Mba.”
“Saya permisi untuk berpamitan dengan anak-anak, Pak.”
Dari jarak 100 meter anak-anak yang tengah bermain gobak sodor di lapangan penuh rumput itu dapat melihatku. Mereka berteriak-teriak memanggil namaku.
“Kakaaaaak, kak ata kesini, Kak !!!” Teriak mereka.
Aku berlari menuju arah kerumunan anak-anak itu. Entahlah aku benar-benar merasa bahagia sekaligus bangga berada diantara mereka. Tuhan, jangan lah buat ini semua berlalu begitu saja, kami bahagia seperti ini.
“Kakak, kita enggak dapat lagu baru hari ini ?” Devi yang menyongsongku bertingkah manja.
“Haruskah ???” Aku mulai menggoda anak-anak yang terlihat bersemangat itu.
“Ayooooooo, kakak.” Beramai-ramai mereka merajuk dan bergerombol disekitarku. Menarik bajuku, melendot manja di tasku, memegang tanganku atau semua tingkah lucu yang natural keluar dari diri mereka. Sangat lucu sekali jika kuperhatikan.
“Oke oke… hari ini kita nanyi bintang kejora ya…..”
“Bintang kejora itu kan namanya Bintang, Kak.” Wajah Anggi beraksyen seolah tidak percaya tentang lagu itu, begitu pula dengan Bintang yang kini ditatap beramai-ramai oleh teman-temannya.
“Ada juga lagunya… kaya gini.. kuu tatap langit penuh bintang bertaburan, tampak sebuah lebih terang cahayanyaa… itulah bintangku bintang, kejoraaa yang indah slalu…” kusenandungkan lagu anak-anak itu berulang-ulang.
Dalam waktu 5 menit mereka sudah mampu menghafalnya diluar kepala. Berulang-ulang pula mereka bernyanyi serempak. Ada senyum Bintang yang ikut mengembang lebar disana. Ya Tuhan terima kasih, aku senang… Bintangku bersinar terang untuk hidup.

Jika Ilmu adalah Pohon, Maka Filsafat itu Akarnya

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:44 am on Senin, Maret 21, 2016

“Lebih baik membenarkan apa yang kita ketahui dari pada membenarkan apa yang tidak kita ketahui”
Kutipan yang disampaikan oleh seorang dosen Filsafat, Listiyono Santoso, di Fakultas Ilmu Budaya diatas agaknya merangsang gaya berpikir yang cenderung berfilsafat. Seperti sistem kerja filsafat yang memang berangkat dari sebuah pertanyaan dan keragu-raguan, maka filsafat lebih tampak seperti sebuah substansi dari sesuatu karena ia merupakan rahim sekaligus dasar atau akar dari segala segala suatu pemikiran yang tercipta.
Jika ditelaah secara tekstual, filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia” yang memiliki makna beragam. Dari beberapa pengertian yang timbul dalam rangka memahami arti kata ini terciptalah sebuah gradasi yang beraneka ragam seperti pemecahan satu kata ini menjadi dua suku kata atau frasa, Phillen yang berarti mencintai dan Sophos yang artinya bijaksana. Jadi dapat ditarik garis besar, bahwa berfilsafat adalah mencintai kebijaksanaan.
Lebih dari makna tersebut, berpikir filsafat adalah seperti bagaimana memahami sesuatu tersebut lewat daya hakikat yang lebih bijak memandang sebuah pemikiran tidak hanya pada satu sudut pandang saja. Karena aspek keilmuan memiliki kaitan terhadap konstelasi pengetahuan yang lainnya, maka memandang suatu ilmu dengan cara filsafat akan mengantarkan kesadaran bagaimana memahami kaitan ilmu tersebut dengan moral, agama, atau pada kesenangan pribadinya sendiri.
Karena ilmu memiliki sifat yang berkembang dan dinamis, maka ia membentuk sebuah dialektika yang panjang sehingga pada masa sekarang pun memungkinkan timbulnya suatu pemikiran baru yang bisa jadi membantah pemikiran sebelumnya, karena mungkin saja ada cara lain atau cara yang lebih benar dalam menuju sesuatu itu. Filsafat tanpak seperti sebuah dasar yang akan membantu memberi sebuah pemahaman mengenai sesuatu melalui alur kerangka berpikir tertentu. Jika sebuah ilmu pengetahuan dikembangkan dengan dasar yang jelas dan baik maka perkembangannya akan lebih banyak menimbulkan sisi positif dan memungkinkan sisi negatif dari hal tersebut bahkan akan lenyap. Pertimbangan dari pelbagai aspek seperti moralitas, dan kedudukannya bagi manusia pun akan lebih diperhatikan. Jadi bukan sebuah ketidakbolehan ketika memandang filsafat adalah akar dari sebuah pohon bernama ilmu pengetahuan.

Stigma Kaum Elite, Jati Diri Bangsa kian Rumit

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:43 am on Senin, Maret 21, 2016

Sedikit menilik dari esensi yang dipunyai film usungan Citra Cinema bertajuk ‘Tanah Surga Katanya’ cukup mengaduk dan menohok hati jika dirasakan menurut kepekaan yang sehat. Film dengan skenario apik ini mengisahkan kepiluan hidup seorang anak lelaki yang mencintai kakeknya hingga menjadikan ia belajar bagaimana mencintai negerinya sendiri, Indonesia. Dalam salah satu scene dijelaskan bagaimana si anak lelaki tersebut merelakan kain terakhir yang ia punya untuk ditukar dengan bendera sang saka merah putih yang dijadikan alas dagangan di pasar negeri Jiran, Malaysia. Kepekaan itu timbul dari hati anak kecil yang bahkan hanya mendapat nilai 4 dalam mata pelajaran matematika dan sangat terbata-bata dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Fenomena anak kecil yang sangat mencintai bangsanya tersebut entah dapat dipetik atau tidak dari perilaku kaum elite sekarang.
Dalam kehidupan era post-modernitas ini, setiap kaum terlebih golongan akademisi saling mencecar dengan bahasa intelek yang bahkan tidak diketahui sama sekali oleh rakyat jelata. Sedangkan yang mereka bicarakan adalah persoalan yang notebene diangkat dari penderitaan rakyat miskin yang kurang pendidikan. Kehidupan elite kaum tingkat tinggi tersebut diangkat dan seolah yang menjadi lakon utama dalam drama kehidupan Indonesia. lalu munculah paradigma bahwa kaum elite dijenjang atas adalah penentu segala-galanya dan berhak atas citra sosial yang timbul dalam masyarakat. Hal tersebut seakan telah membudaya hingga familiar sebuah jargon ‘Kita orang pinggiran, bukan kaum elite’, jika ditilik sebab munculnya sebuah sindiran berupa jargon tersebut mungkin lebih mengarah pada kebiasaan-kebiasaan yang menunjukan bahwa setiap persoalan hanya akan dipangku tangankan pada kaum-kaum elite tersebut hingga masyarakat jelata merasa dimarjinalkan.
Memang akan menjadi masalah jika semua pihak turun tangan dan andil bersuara, fenomena yang dapat diperkirakan terjadi adalah perseteruan antara buruh lepas dengan politisi yang diangkat dalam sidang paripurna. Hal yang akan semakin menambah masalah tentunya, namun para buruh lepas tersebut juga mempunyai hak berpendapat yang tidak dapat dilupakan. Lalu melihat fenomena yang terjadi sekarang ini, kita hanya bisa melihat blok-blok dan pengkotak-kotakan status sosial yang imbasnya akan menuimbulkan perseteruan dimasing-masing tingkat, politisi dengan politisi dan buruh dengan buruh. Itulah yang menyebabkan timbul sekat baru yang semakin kokok memisahkan dan meyakinkan bahwa borjuisme dan proletarian memang kuat.
Yang membuat masyarakat jengah adalah bukan karena pengkotak-kotakan tersebut, mereka bahkan tidak pernah mempersoalkan mau bagaimana dewan atas memanipulasi harkat mereka. Mereka lebih memprotes sikap kaum elite yang seperti menggambarkan perseteruan anak kecil yang memperebutkan balon di panggung politik. Yang mereka perebutkan adalah balon yang dimata para khalifah zaman Khuafaur Rasyidin dulu berbentuk sangat jelek dan berbau tidak sedap sehingga berlomba-lomba untuk menjauhinya. Khalifah Umar sebagai salah satu contoh yang menjauhi pangkat tinggi tersebut, hal ini tergambar jelas dalam buku yang ditulis oleh Prof. Dr. Ali Muhammad As-salabi.
Setidaknya kita memang harus berterimakasih pada politisi era kini yang sangat berani menjunjung amanat dan bahkan sampai rela berebut kursi. Namun melihat stigma yang ditimbulkan kaum elite dalam mempengaruhi kehidupan Indonesia, terima kasih yang harusnya diberikan agaknya harus dipersempit. Karena fakta empiris mengunggkapkan bahwa, perdebatan sengit dalam memperebutkan kekuasaan sangatlah melenceng dari jati diri bangsa Indonesia. Lalu dimana letak nasionalisme kaum borjuis tersebut ?
Tidak perlu dijawab terlalu cepat, karena revolusi mental dan perbaikan nasionalisme Indonesia harusnya yang menjadi jawaban konkret dan tidak terbantahkan. Pertanyaan lanjutannya adalah, bagaimana generasi mudanya mau dididik jiwa nasionalisme agar berjati diri pancasila namun kaum elite yang dipandang bermartabat malah kesulitan menjelaskan implementasi nilai-nilai dalam pancasila. Tentu ini akan menjadi stigma dan memperumit kehidupan bangsa.
Lalu akhirnya, kita menemukan zaman kegelapan terselubung dalam masa pencerahan yang penuh cahaya listrik ini. Zaman kegelapan yang tersembunyi dalam otak jenius para kaum tingkat tinggi. Disini diharapkan agar proses ranaisans baru era sekarang cepat terjadi, karena tertuang dalam sebuah buku sejarah Eropa, bahwa sebuah zaman yang mengalami kegelapan harus memulai melakukan revolusi untuk menerima sebuah pencerahan atau renaisans. Lalu kapan akan terbit buku Sejarah Renaisans Indonesia era Post Modern ?

Embrio Moralitas di Taraf Pertama

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:42 am on Senin, Maret 21, 2016

Coba kita sejenak menengok siapa saja pemimpin atau tokoh hebat pada masa sekarang ini. Lalu coba kita bayangkan 40 atau atau 50 tahun yang lalu, seperti apa dan bersama siapa mereka pada saat itu ? mereka tidak lebih dari anak kecil yang belum genap berusia sepuluh tahun, yang sedang belajar membaca dan menulis atau bahkan belajar berjalan bersama orang tua mereka. Sehingga jika dilogika, apa yang mereka lakukan dimasa tuanya akan sangat ditentukan pada masa ketika dia dilatih oleh kedua orang tuanya.
Studi kasus oleh para teknisi kesehatan membuktikan bahwa otak manusia yang paling cepat menangkap setiap hal dan intuisi adalah kisaran usia 0-3 tahun. Jadi masa balita adalah awal pendidikan anak yang paling baik dalam hidupnya. Dan lazimnya anak usia itu, mereka tentu ada bersama orang tua mereka dan melakukan setiap kegiatan dengan pantauan orang tua. Bahkan bisa jadi, pengetahuan yang mereka dapatkan murni bersumber dari orang tua mereka. Oleh karena itu, sebuah keluarga sangatlah penting dalam mengarahkan mau kemana setiap anak akan dididik menuju masa depannya.
Sebuah keluarga disusun oleh kumpulan individu sederhana yang diindentifikasikan memiliki tujuan yang sama dan ikatan bathin yang sangat kuat. Sebuah keluarga, biasanya dikepalai oleh sang ayah, lalu ada ibu dan dilengkapi dengan anak-anak mereka. Dengan sebuah rasa yang dinamakan cinta dan kasih sayang, secara logika dan akal sehat tidak mungkin orang tua akan berkehendak untuk mencelakakan anaknya apalagi berharap buruk tentang masa depan sang anak. Karena seburuk-buruknya orang tua, mereka pasti berusaha mendidik anak mereka agar menjadi lebih baik dari mereka.
Yang dinamakan proses pendidikan disini bukan sebatas mengajari bagaimana menyelesaikan soal matematika dengan berbagai rumus, atau mengajari anak-anak berhitung, membaca, mengingat, dan kegiatan lain yang biasanya sangat familiar dalam instansi-instansi sekolah-sekolah formal. Namun pendidikan dalam keluarga lebih mengutamakan bagaimana morilatas setiap anak ditempa, sehingga ia tumbuh dengan karakter yang kuat sesuai jati diri bangsa yang sangat dibanggakan setiap orang tua.
Mari coba mengingat-ingat. Apakah orang tua kita mengajari bagaimana merumuskan konsep bertahan hidup ? atau konsep sederhana seperti berhitung ? seberapa sering orang tua mengajari kita dengan materi seperti itu, apakah sesering orang tua kita ketika mengingatkan untuk berbagi makanan dengan teman yang menginginkan makanan ringan yang kita bawa. Terlalu sering kan orang kita mengingatkan kita akan hal itu. Setiap kita berebut mainan dengan teman, pastilah orang tua akan berkata “Pinjamkan” atau “Berbagi dengan teman” dan yang lebih lagi dengan “Berikan pada temanmu, biar dia senang”.
Tidak ada orang tua yang mengajari keburukan pada anaknya, sehingga konsep orang tua dalam mendidikan anaknya adalah taraf pendidikan yang paling baik dibandingkan apapun. Tidak ada kecurangan didalamnya, setiap anak diuji selama ia menjalani hidup dalam dunia nyata, dan ibrah yang dapat diambil akan secara langsung terasa menampa mereka menjadi dewasa. Oleh karena itu, secara tidak langsung orang tua didalam keluarga sangat berperan menjadi agen pertama penggerak moralitas bangsa, dan karakter bangsa akan dibentuk disana.
Melihat hal demikian dan mempertimbangkan setiap karakter orang berbeda-beda termasuk orang tua, akan lebih baik kiranya jika setiap orang tua diberikan pendidikan memandai bagaimana cara mendidik anak yang baik. Sekalipun tanpa didikan lagi, orang tua tentu sudah tau apa yang harus mereka lakukan terhadap anak-anak mereka. Proses pendidikan terhadap orang tua ini dimaksudkan untuk menyikapi berbagai kendala yang dimungkinkan akan terjadi, karena kita sama-sama tau bahwa perceraian dalam keluarga muda masihlah menempati persentase yang tinggi. Bisa dibayangnya jika keluarga muda itu memiliki anak kisaran usia dua tahun, bagaimana anak tersebut melengkapi segala bekal yang ia butuhkan untuk masa depannya. Tentu ia tumbuh dalam berantakan.
Setiap orang tua memang menjalani proses pendidikan semasa ia duduk di bangku sekolah, namun apa yang mereka pelajari tidaklah serumit moralitas yang sulit dijabarkan dengan konsep. Bagaimana jika setiap pasangan yang akan menikah terlebih dulu harus mengikuti training singkat yang mengentaskan pribadi, pandangan, serta spiritual mereka ketika menatap masa depan sebagai orang tua. Hal tersebut dirasakan sangat perlu, bukan hanya sebatas ikatan keluarga yang resmi setelahkata ‘sah’ terucap ketika ijab qobul pernikahan.
Lihatlah realitas yang ada dalam masyarakat luas, bukankah seorang anak yang memiliki kepribadian kuat dan mentalitas baja yang dilingkupi dengan kebaikan hati hanya timbul dari sebuah keluarga yang terencana, keluarga yang menyertakan sendi-sendi agama untuk menopang kehidupan spiritual setiap anggotanya. Keluarga berprinsip itulah yang akan menentukan bagaimana kader-kader bangsa dan pemimpin negeri berkarakter sesuai dengan yang menjadi identitas dan jati diri bangsa Indonesia.
Jadi, apakah sangat tidak disayangkan jika setiap malapetaka yang timbul dalam masyarakat sejatinya timbul dari persoalan dalam taraf keluarga yang tidak dicover dengan baik. Sudah semestinya gerakan keluarga berencana dicanangkan dan diawasi dengan baik, bukan keluarga berencana yang merencanakan mau berapa anak saja, namun juga perencanaan terhadap konsep dalam mengatur keluarga tersebut nantinya.

Percikan Api PKI di Kota Batik Pekalongan

Filed under: Uncategorized — haffata at 4:42 am on Senin, Maret 21, 2016

Semua yang dibicarakan tentang PKI berikut gerakan-gerakan yang muncul pada sekitar tahun 65 memang mengundang banyak kontroversi, baik dari segi kontra maupun pro terhadap aksi PKI sendiri. Bukan hanya cuplikan film yang menggambarkan tentang situasi dan kondisi pada saat itu yang semakin mengobarkan cerita pemberontakan PKI, Pelbagai tulisan di media masa ikut memberi sumbangsih berkobarnya api PKI di Indonesia tahun 1965.

Kita dapat sedikit banyak memberi apresiasi pada partai besar dengan jumlah pengikut yang cukup banyak ini, muncul dan memiliki pusat paham dan ideologi di luar Indonesia namun mampu menduduki peringkat keempat tepat dibawah partai Masyumi yang notabene adalah partai keislaman. Pencapaian ini dinilai cukup terang karena pahamnya yang benar-benar menggebrak dengan banyak prestasi.

Hal lain yang perlu dijadikan pertimbangan berpikir adalah bahwa antek Komunis ini memang yang pertama menumbuhkan sikap perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan segala paham yang dimilikinya, Ia mengajarkan pemahaman pada para pengikutnya bahwa antek Belanda yang menjajah Indonesia adalah lintah darat yang harus diperangi. Dalam perkembangannya Komunis sendiri merupakan sebuah partai yang hadir untuk menunjukan diri seorang proletar dan menentang kediktatoran pemeriantahan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa hadirnya pemerintah Belanda memang bermaksud untuk menjajah Indonesia dan hal tersebut sangatlah bertentangan dengan misi visi antek komunis. Hal inilah yang melatar belakangi perlawanan orang-orang komunis dalam membela bangsa Indonesia.

Setelah bangsa Indonesia merdeka dan saat mulainya muncul partai-partai dengan latar belakang yang beraneka ragam, PKI muncul dengan membawa budaya komunisnya yang kental. Menurut sudut pandang global dalam menilai PKI sendiri, berkobarnya api pemberontakan oleh partai besar ini dipicu oleh kondisi fisik presiden yang saat itu menjabat, Ir. Soekarno mengalami kemunduran. Dua kekuatan besar dalam negeri yaitu angkatan darat dan PKI sendiri menjadi saling beradu misi untun memegang kendali bangsa saat itu.

Maka saat dini hari tanggal 30 September terjadilah pemberontakan besar-besaran yang melibatkan 6 jendral angkatan darat dibunuh dengan keji oleh antek PKI di lubang buaya, Jakarta. Selama ini memang yang disorot oleh publik memang objek-objek vital seperti lubang buaya sendiri dan daerah Madiun. Namun ternyata setiap kota menyimpan memori tersendiri saat masa itu terjadi, karena hal ini merupakan sebuah bencana nasional dan setiap orang merasakan trauma yang mendalam.

Menilik pada objek yang lebih kecil yaitu daerah disepanjang pantai utara, menjadi suatu yang menyenangkan dapat mengulik kisah legendaris ini. Namun hal yang paling urgent adalah sebuah cakrawala baru untuk mengetahui keadaan atau imbas yang dirasakan disebuah kota dengan brand terkenal batik yaitu kota Pekalongan.

Suasna psikologis dan sosial masyarakat Pekalongan saat itu masih terasa diliputi euforia kemerdekaan dan juga atmosfir pergesekan horisontal akibat intrik politik multi partai. PKI dengan underbouw mengiming-imingi rakyat lewat faham sosialis [kesetaraan] dan keadilan juga lengkap dengan jargon ”sama rasa sama rata”, mereka mulai menghasud bahkan kadang memaksa rakyat untuk mengikuti gerakan mereka dengan berbagai propaganda yg dipakai. Karena saat itu revolusi belum berakhir, banyak rakyat yg termakan hasutan PKI, fakor yang lebih condong adalah karena mungkin kesadaran politik rakyat Indonesia umumnya masih rendah, faktor yang mendukung selanjunya adalah karena saa itu, rakyat umum sangat minim media masa atau sosial.
Seperti umumnya wilayah pantura Jawa, mainstreem pergerakan LSM diwilayah ini didominasi oleh gerakan sosial-keagamaan seperti NU [Nahdlathul Ulama]. Dalam memori dan benak para aktivis pergerakan, bayang-bayang kekejaman tragedi pembrontakan PKI di Madiun dan sekitarnya tahun 1948 masih segar dalam ingatan mereka. Tak terkecuali di Pekalongan, yang mana para kyai dan tokoh masyarakat disebut ”setan desa ” oleh PKI sendiri. Kekejaman antek PKI sangat terasa dengan pembantaia sadis para Kyai, pejabat pemerintah, dan TNI, dan yang lain adalah dengan dibakarnya sarana-sarana ibadah dan madrasah tempat menuntut ilmu, dan juga sekretariat NU yang terletak di Jalan Dr. Wahidin Pekalongan.

Setelah tersiar kabar terjadinya penculikan para jendral di Jakarta juga dengan adanya selebaran yang diumumkan lewat udara atas nama Presiden Sukarno yg isinya ”ikut Sukarno atau ikut Muso” , rakyat serentak sadar dan mereka langsung merapatkan barisan. Masing masing organisasi yang konra PKI melakukan konsolidasi.

Imbas dari peristiwa tersebut sampai juga di Pekalongan. Sedikit banyak bercerita di segmen antar desa, salah satu desa di Pekalongan yaitu Kebulen ikut pula terkena imbas PKI. Kebulen secara administrasi masuk wilayah kecamatan Pekalongan Barat yang secara kultural menjadi basis Nahdlathul Ulama. Kultur Pekalongan yang memang sangat kenal dengan NU menjadi wadah utama berkiprahnya NU disini. Trauma dengan kejadian di Madiun dan mengingat bahwa LSM menjadi sasaran utama mereka, maka NU langsung merapatkan barisan dengan menyaiagakan GP. Anshor dan Banser.

GP Anshor dengan bansernya melakukan koordinasi untuk mengamankan tempat –tempa ibadah dan juga para tokoh masyarakat [kyai]. Hal ini dilakukan dibawah koordinasi aparat keamanaan [kodim],
Kyai Zaid Murtadho selaku sekretaris GP Ansor ranting desa Kebulen ditunjuk menjadi korlap. Beliau kemudian mengumpulkan semua anggotanya dan memaparkan langkah- langkah yg harus dilakukan sekaligus langsung membentuk tim atau regu patroli yg nantinya akan di tugaskan bergiliran ke pusat kota. Saat itu markas besarnya di tempatkan di masjid Jami’ Kauman Pekalongan. Setiap malam mereka berpatroli mengamankan dan memantau pergerakan PKI dan underbouwnya yang ada di pekalongan dan sekitarnya.

Di wilayah Kebulen sendiri beliau mengadakan latihan-latihan semi militer, para ‘pendekar-pendekar desa’ dikumpulkan setiap saat tertentu mereka mengasah kemampuaan bela diri yang biasanya di lakukan di halaman mushola, dan mushola Miftakhul Jannah (terletak di Kebulen Gg. 7) di jadikan pusat pelatihan karena letaknya di pusat desa kebulen. Demikian penuturan beliau, KH. Zaid Murtadho [pelaku sejarah yang masih hidup]
Kondisi latihan bela diri dan militer ini terus dilakukan mengingat pada saat itu desa Kuripan yang bersebelahan dengan Kebulen menjadi basis PKI di wilayah pekalongan sendiri. Dua desa yang bersebelahan dan hanya dipisahkan oleh sungai Grogolan ini menjadi sangat kontras dan mencekam. Di desa Kebulen sendiri, ormas PKI hanya segelintir saja sehingga tidak menimbulkan kendala yang berarti. Isu isu yg provokatif dan intimidasi sering terjadi, namun warga kebulen tidak mudah terpancing, hal ini terjadi karena kepatuhan warga terhadap ulama/kyai sangat tinggi, bagi warga sekitar, para ulama dan Kyai adalah sosok yang sangat pantas menjadi contoh, merekalah orang-orang yang selalu mengajarkan kasih sayang dan akhlaqul karimah. Beberapa tokoh tersebut adalah KH Muadi, KH Alwi.Kyai Nawawi dan Kyai Bakri empat serangkai inilah yang menjadi panutan warga, sedangkan Kyai Zaid Murtadho dan Kyai Abu Kholiq menjadi tokoh muda dan generasi penerusnya.

Secara umum, pergesekan yang terjadi akibat pemberonakan PKI di Pekalongan sendiri tidak terlalu banyak menimbulkan banyak problema seperti yang terjadi di beberapa kota seperti Madiun. Karena basis PKI di Pekalongan sendiri merupakan anakan dari ormas PKI diwilayah Purwokerto.
Demikian kondisi dan situasi yang terjadi di kota Pekalongan khususnya desa Kebulen.

Bicara Batik yang Menggelitik

Filed under: Education — haffata at 4:40 am on Senin, Maret 21, 2016

Kamu tau batik ? bisakah kamu deskripsikan seperti apa batik itu ?
Mungkin mayoritas orang akan menjawab ya, atau minimal mengangguk ketika disodori pertanyaan tersebut. Dan narasi tentang keindahan seperti berwarna warni, mengagumkan, cantik, kuno, atau bahkan menganngap sebagai ciri khas Indonesia mungkin yang akan melengkapi jawaban dari rentetan pertanyaan tadi. Ya, batik memang identik dengan image unik, baik dari segi warna maupun motifnya.
Bicara mengenai keunikan batik sendiri, bukan hal aneh jika sudut pandang setiap orang akan berbeda. Bayangan unik mungkin sudah terlintas di kepala, namun untuk keluar dengan rangkaian kata-kata tentu tidak semudah ketika membicarakannya. Namun seperti apapun deskripsi keunikan batik, yang jelas coretan motif indah di kain ini mempunyai posisi tersendiri di hati bangsa Indonesia dan bahkan warga dunia. Silakan lihat bagaimana turis asing akan sangat tertarik untuk mencari batik dan berlomba-lomba mengenakannya ketika berwisata di Indonesia. Atau identifikasi saja bagaimana rasa bangga warga Indonesia ketika mengenakan batik di Negara asing. Seolah ada sebuah paradigma besar yang menjadi tameng penyemangat bahwa batik adalah milik kita, Indonesia.

Lalu pertanyaannya, apakah benar batik milik bangsa Indonesia ? apakah karena sejarah mencatat para leluhur kita dulu yang mulai menciptakan dan mengenalkan batik lantas dapat diyakini bahwa batik adalah kepunyaan asli orang Indonesia. Bukan, bangsa Indonesia sekarang hanyalah pemangku tangan atas apa yang telah diberikan para leluhur. Ibaratnya, jika leluhur memiliki telur, maka kitalah yang diminta untuk menjaganya hingga meghasilkan bahan makanan untuk kita manfaatkan. Bagitu pula dengan batik, kita hanya diminta untuk menjaganya, menjiwainya, memposisikan sebagaimana mestinya, mewariskannya, dan setidaknya menyukainya. Namun melihat kondisi yang ada sekarang, rasanya ada nilai yang luntur dari sebuah penghargaan atas batik.
Batik hanya dinilai itu indah dengan warnanya, bahkan untuk para remaja menggunakan batik adalah suatu hal yang bersifat formal. Anggapan batik sebagai pakaian formal juga merupakan rekonstruksi pemikiran yang diciptakan seiring perkembangan zaman. Tanpa adanya penjiwaan untuk apa sebuah batik itu diciptakan, bagaimana filosofinya, atau seberapa besar nilai yang dapat diambil dari sebuah motif itu.

Orang pada zaman dahulu, terutama yang masih sangat kental bersinggungan dengan adat suku bangsa terbilang cerdas dalam menjiwai sebuah batik. Bagi mereka, batik bukan sesederhana pakaian. Namun lebih pada sebuah moral, isi hati pemakainya, atau bahkan falsafah hidup yang dipegang pemakainya. Sebegitu besar peranan sebuah batik sehingga bukan sebatas menggunakanya sebagai kain yang melindungi tubuh dari cuaca namun juga menjadi pegangan hidup seseorang. Sehingga, jauh ceritanya dari zaman sekarang yang memposisikan batik sebagai mode atau life style dengan bermacam prospek.
Corak batik ini bagus, maka saya membeliya. Itu mungkin yang menjadi presepsi singkat masyarakat sekarang. Namun berbeda ketika orang dulu melihat sebuah corak megamendung misalnya, tentu yang mereka pikirkan adalah sebuah pengetahuan tentang moral, bagaimana kehidupan manusia akan berputar dan menemui gelombang sesuai dengan gambar awan yang menjadi cirri khas nama batik ini. Sehingga ketika mengenakannya, orang tersebut akan tentram hatinya, kehidupanya nyaman Karena percaya bahwa kehidupan seseorang akan bergelombang yang justru menjadikannya indah. Itulah nilai sesungguhnya dari sebuah batik.

Mungkin juga, pengetahuan dan nilai tentang motif parang baron yang menggambarkan kesakralan, motif sidamukti yang menggambarkan kemakmuran, motif sidaluhur yang menggambarkan nilai keluhuran, dan motif-motif lainnya sudah hilang dalam benak masyarakat Indonesia. Bahkan mungkin mereka melupakan suatu indikasi ketika turis asing yang tertarik tentang batik selalu menanyakan tentang maksud dari batik tersebut. Apakah itu tidak sama artinya dengan kecintaan mereka terhadap batik justru berasal dari dalam, dari maknanya. Lalu siapa sebenarnya yang lebih menghargai batik ?
Cerita panjang lebar diatas juga merupakan presepsi atas sorotan terhadap kondisi sekarang yang mungkin telah mendarah daging peradigmanya. Satu hal yang dapat dilakukan dan akan sangat menyelamatkan batik sebagai identitas bangsa adalah dengan mulai mencintai batik dan produksi local bangsa Indonesia. Baik pada era selanjutnya akan muncul trend motif yang baru pun kita tidak perlu khawatir batik akan lenyap selagi kecintaan itu masih ada.
Selamat hari batik Internasional, semangat mencintai budaya bangsa.

Seandainya Kentut Rakyat Jadi Gas Elpiji

Filed under: Education — haffata at 4:39 am on Jumat, Mei 1, 2015

gas-elpiji1
Liqified Pertoleum Gas tentu asing ditelinga masyarakat awam, namun jika yang disebut LPG, tentu siapa saja yang mendengar akan langsung berkeluh kesah akan harganya yang melambung baru-baru ini.
Wajah Koh Ling masih dihiasi senyum menanggapi beberapa pembeli gas LPG 3 kg mengomel panjang setelah diberikan harga 16.500 olehnya. Warga Surabaya yang sejak 2010 lalu telah menarik ulur nasib dari bisnis Gas elpiji ini tentu sudah sangat paham tentang naik turunnya harga gas layaknya sifat remaja yang sangat labil.
“Jika dipikir dengan subsidi pemerintah saja harganya masih tinggi, lalu bagaimana jika ide gila subsidi tetap tersebut digagalkan. Iya, jika elpiji bias dihasilkan dari kentut rakyat, bukan jadi masalah mau naik berapa saja.” Ungkapnya ketika dimintai pendapat mengenai lonjakan harga elpiji baru-baru ini.
Belajar dari sejarah, kira perlu mengamati perjalanan gas elpiji yang menuai banyak kontroversi. Gas elpiji yang hadir dengan pelbagai ukuran tersebut memang menggelitik dengan dinamikanya yang sangat panjang. Terutama ulah tabung kecil berwarna hijau dan sering disebut dengan gas melon yang telah menimbulkan kesan nano-nano bagi masyarakat. Hentakan kasus meledaknya gas elpiji 3 kg yang pada beberapa tahun lalu sempat merebak juga ikut menjadi catatan kelam yang menimbulkan traumatis dari sisi psikologis masyarakat untuk percaya pemerintah terhadap tabung hijau kecil tadi.
Seperti yang terjadi pada Juni 2014 lalu di Pondok Aren Tanggerang selatan, kasus meledaknya tabung subsidi pemerintah ini sampai menimbulkan luka serius pada enam orang dan dua diantaranya sempai memental keluar rumah terkena imbas ledakan. Masih dalam berita yang dilansir oleh Jawa Pos ini, kanitreskrim polsek setempat mendapatkan informasi bahwa korban melakukan kesalahan terhadap tabung gas tersebut dengan mengoplosnya.
Berita yang sempat booming tersebut bukan satu-satunya berita popular ditelinga masyarakat beberapa tahun lalu. Menimbang seberapa salahnya masyarakat dalam menggunakannya, tabung gas ini tetap menorehkan bahaya bagi masyarakat. Bahkan sampai sekarang pun kasus meledaknya tabung berisi campuran beberapa gas hidrokarbon ini masih menjadi bayangan buruk masyarakat.
Bagi warga yang terbilang konvensional dipelosok perkampungan sana, gas elpiji ini mungkin tidak begitu dilirik, apalagi setelah terjadinya beberapa kasus ledakan yang sampai menimbulkan korban jiwa. Mungkin bagi mereka, lebih baik tetap menggunakan kayu bakar yang dicari dihutan daripada kayu rumah sendiri yang terlalap habis. Percaya atau tidak, sosialisasi dan bujukan pemerintah sendiri memang belum berhasil menjamah perkampungan yang minim informasi, namun bagi masyarakat luas yang hidup di daerah pinggiran atau perkampungan lumayan maju, gas ini terbilang laris manis.
Belum juga selesai menenangkan diri dari guncangan psikis yang diterima, masyarakat sudah langsung dipaksa menelan pil pahit gelombang harga elpiji 3 kg yang naik turun dengan labil. Layaknya sifat remaja yang naik turun sesuka hati, rakyat terbilang tak berdaya mengikuti arus lonjakan naik turun ini. Bahkan sempat terbit berita yang menginformasikan bahwa salah seorang warga Polewali Mandar, Sumatra Utara menjual tabung gas kosongnya untuk membeli minyak tanah pada 2012 lalu. Berita ini tentu saja membuktikan bahwa harga tabung gas ini memang naik turun, bahkan naik turunnya tabung ini sampai hati membuat konsumennya berpindah menjadi konsumen minyak tanah yang jelas-jelas lebih langka keberadaannya.
Dan sudah menjadi kebiasaan umum jika mendekati bulan puasa, keberadaan tabung kecil ini akan sangat langka, bahkan para agen pun sampai kesulitan mendapatkan barang pasokan elpiji ini. Namun untuk sekarang, puasa masih diperkirakan sekitar dua bulan mendatang, namun gas yang menjadi brand dari pertamina ini sudah sangat langka dan ikut menambah keresahan warga setelah dipukul oleh lonjakan harganya.
Bahkan saking putus asanya mendengar setiap berita kenaikan harga gas elpiji ini, sampai terbesit parody dari rakyat awam yang berbunyi jika gas elpiji dari kentut kami. Parodi yang keluar atas jeritan hati rakyat ditengah panggung politik yang memanas karena kasus-kasus pejabat yang beradu korupsi ini tentu menjadi pikiran pusing, apalagi bagi para konsumen yang menggantungkan hidupnya pada tabung-tabung gas ini.
Bukan hanya rakyat yang dipusingkan tentu saja, pemerinah pun ikut memegang kepala sambil geleng-geleng mau memakai langkah apa. Cukup diapresiasi tentunya langkah pengawasan terhadap agen-agen elpiji agar patuh menjual eceran dengan harga yang telah disepakati, karena langkah ini dinilai cukup baik mengamankan tabung-tabung harapan rakyat ini dari mafia gas elpiji yang menimbun atau melambungkan harganya sangat tinggi. Namun akan menjadi upaya yang lebih baik lagi jika pihak pemerintah terus mencari jalan keluar yang lebih menguntungkan bagi rakyat, setidaknya untuk kebutuhan sehari-hari yang tidak mencekik leher para pekerja lepas. Tentu hal lucu jika pemerintah yang telah menggembor-gemborkan ide brilliantnya ini malah perlahan-lahan mencekik rakyat dengan idenya tersebut.
Namun jika pemerintah dan rakyat sudah sama-sama ngeyel dengan kesibukannya sendiri-sendiri seperti berunjuk rasa anarki atau berlomba korupsi, maka hanya tinggal berharap kepada tuhan agar kentut kita menjadi gas elpiji.

Next Page »